Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Aceh Besar mendorong transformasi kebijakan pendidikan nasional yang berorientasi pada penguatan karakter, keimanan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai bekal menuju Indonesia Emas 2045.
Isu tersebut mengemuka dalam Talkshow Pendidikan Nasional bertajuk “Transformasi Kebijakan Pendidikan Nasional dalam Mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045” yang digelar bersamaan dengan Musyawarah Daerah (Musda) ICMI Orda Aceh Besar di Gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, Selasa (7/7/2026).

Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman, M.Ag., yang menjadi pembicara kunci, mengatakan pembangunan bangsa tidak cukup bertumpu pada pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi. Menurut dia, pembangunan juga harus ditopang oleh nilai moral dan spiritual.
“Penguatan keimanan, pendidikan agama, dan pembinaan akhlak harus menjadi fondasi utama pembangunan bangsa,” kata Mujiburrahman.
Ia menilai arah tersebut sejalan dengan program Asta Cita pemerintah yang menempatkan pembangunan manusia sebagai salah satu prioritas, disertai penguatan tata kelola pemerintahan dan penegakan hukum yang berintegritas.

Selanjutnya, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Talkshow Pendidikan Nasional yang dimoderatori oleh Zakiah Zainun, Lc., M.Ag. Talkshow tersebut menghadirkan dua guru besar sekaligus tokoh pendidikan Aceh yang inspiratif, yakni Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof. Eka Srimulyani, M.A., Ph.D., dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. Mustanir, M.Sc.
Dalam pemaparannya, Prof. Eka Srimulyani menegaskan bahwa transformasi pendidikan harus diarahkan pada peningkatan mutu, inovasi pembelajaran, serta penguatan kapasitas peserta didik. Menurutnya, ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting untuk melahirkan generasi yang mampu menjawab tantangan global tanpa kehilangan jati diri, nilai-nilai keislaman, dan semangat kebangsaan.

Sementara itu, Prof. Dr. Mustanir menekankan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan generasi yang unggul secara intelektual. Lebih dari itu, pendidikan harus mampu membentuk insan yang memiliki kecakapan berpikir kritis, mengambil keputusan secara bijaksana, serta berkarakter kuat dalam menghadapi dinamika zaman.
“Cerdik harus didasari oleh kepandaian agar menghasilkan keputusan yang benar, produktif, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Ketua ICMI Orda Aceh Besar, Dr. Silahuddin, M.Ag., mengatakan kegiatan tersebut dihadiri sekitar 200 peserta yang berasal dari kalangan akademisi, guru, kepala sekolah, mahasiswa, pimpinan perguruan tinggi, serta unsur masyarakat.
Prof. Dr. Muji Mulia, M.Ag. Terpilih Pimpin ICMI Orda Aceh Besar
Selain menjadi forum akademik, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Musyawarah Daerah (Musda) ICMI Orda Aceh Besar yang menghasilkan kepemimpinan baru. Dalam musyawarah yang berlangsung secara demokratis dan penuh semangat kebersamaan, Prof. Dr. Muji Mulia, M.Ag., resmi terpilih sebagai Ketua ICMI Organisasi Daerah (Orda) Aceh Besar periode 2026–2031.
Terpilihnya Prof. Muji Mulia diharapkan dapat memperkuat peran ICMI sebagai organisasi cendekiawan Muslim dalam memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah, khususnya di bidang pendidikan, riset, pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Melalui kepemimpinan yang baru, ICMI Orda Aceh Besar diharapkan mampu menjadi wadah kolaborasi antara akademisi, ulama, profesional, pemerintah, dan berbagai elemen masyarakat dalam melahirkan gagasan-gagasan strategis untuk kemajuan Aceh Besar.(*)






