Collina Jawab Polemik Laga Argentina kontra Mesir, Gol Mesir Dianulir Sudah Tepat

Pesepak bola DRX World Legends Alessandro Del Piero (tengah) bersama Franck Ribery (kanan) memberikan bola kepada wasit Pierluigi Collina (kiri) saat jeda pertandingan melawan Barcelona Legends pada Clash of Legends di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (18/4/2026). Barcelona Legends menang dengan skor 3-0. ANTARA FOTO/Fauzan/agr.

Kabarnanggroe.com, Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, menegaskan bahwa seluruh keputusan yang diambil wasit Francois Letexier saat memimpin laga babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Mesir telah sesuai dengan Laws of the Game serta prosedur Video Assistant Referee (VAR).

Dalam keterangan yang dikutip dari laman resmi FIFA, Kamis, Collina menyatakan bahwa sejumlah insiden krusial pada pertandingan tersebut telah melalui proses peninjauan secara menyeluruh sebelum keputusan akhir ditetapkan.

Menurut mantan wasit asal Italia itu, setiap keputusan penting, terutama yang berkaitan dengan gol, selalu dikaji secara cermat. Salah satu contohnya adalah keputusan menganulir gol penyerang Mesir, Mostafa Zico, yang dinilai sudah tepat berdasarkan hasil peninjauan VAR.

Collina menjelaskan bahwa tidak ada batasan tertentu mengenai seberapa jauh jarak dari gawang atau berapa lama rentang waktu antara sebuah pelanggaran dengan terciptanya gol yang dapat ditinjau melalui VAR.

“Contohnya terjadi pada pertandingan Argentina melawan Mesir ketika pemain nomor 19 Mesir, Marwan Attia, dengan jelas menginjak kaki pemain nomor 6 Argentina, Lisandro Martínez,” ujar Collina.

“Kami berpendapat bahwa pelanggaran tetaplah pelanggaran. Terlepas dari apakah pelanggaran tersebut tampak ‘jelas’ atau tidak, jika wasit tidak melihatnya di lapangan, VAR dapat melakukan intervensi,” lanjutnya.

Selain itu, Collina juga menilai keputusan Letexier yang tidak memberikan hadiah penalti kepada Mesir sebelum gol ketiga Argentina merupakan keputusan yang benar.

Menurutnya, tayangan ulang menunjukkan penyerang Argentina Julián Alvarez lebih dulu memainkan bola sebelum terjadi kontak dengan Mohamed Salah, sehingga insiden tersebut masih tergolong sebagai kontak yang wajar dalam permainan.

“Sekali lagi, contoh kejadian ini terlihat di akhir pertandingan yang sama; wasit dan VAR menilai kontak fisik antara pemain nomor punggung 10 Mesir, Mohamed Salah, dan pemain nomor punggung 9 Argentina, Julián Alvarez, sebagai kontak yang wajar dalam permainan sepak bola,” kata Collina.

Ia mengakui bahwa unsur subjektivitas tidak dapat sepenuhnya dihilangkan dalam setiap keputusan wasit. Meski demikian, Collina merasa puas karena prinsip-prinsip dasar perwasitan mampu diterapkan dengan baik sepanjang Piala Dunia 2026.

Collina juga menegaskan bahwa FIFA terbuka terhadap diskusi yang bersifat konstruktif mengenai keputusan wasit. Namun, ia mengecam tuduhan tanpa dasar yang mempertanyakan integritas perangkat pertandingan.

“Tentu saja, diskusi yang membangun mengenai keputusan akan selalu menjadi bagian dari sepak bola, namun tuduhan tak berdasar tidak memiliki tempat dalam olahraga kita,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa tuduhan yang tidak berdasar dapat memicu ancaman terhadap wasit beserta keluarganya.

“Tidak ada seorang pun yang boleh mempertanyakan integritas perangkat pertandingan Piala Dunia FIFA. Hal semacam itu dapat memicu reaksi yang berujung pada ancaman terhadap mereka dan keluarga mereka. Ini adalah hal yang tidak dibenarkan,” pungkas Collina.