Ulama Pelita Kegelapan dan Penuntun Umat Menuju Kebaikan

Kabarnanggroe.com, Aceh Besar — Para ulama merupakan pelita di tengah kegelapan sekaligus pemimpin umat menuju kebaikan. Kegelapan terbesar dalam kehidupan manusia adalah ketidaktahuan, dan para ulama hadir memberikan cahaya ilmu melalui Al-Qur’an dan sunnah, serta menjadi penunjuk arah bagi mereka yang tersesat.

Hal tersebut disampaikan oleh alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ustadz Dimas Alhuda, dalam khutbah Jumat di Masjid Jami’ PMDG Kampus 8, Seulimuem, Aceh Besar, Jumat (10/7/2026).

Dalam khutbahnya, ia menjelaskan bahwa Allah Swt telah memuliakan para ulama, baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan, Allah menegaskan bahwa ulama adalah hamba yang paling takut kepada-Nya.

Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).

Selain itu, Rasulullah saw juga menjelaskan keutamaan orang berilmu dibandingkan ahli ibadah. Dalam hadis disebutkan, “Keutamaan orang berilmu atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Ustadz Dimas menegaskan, Islam agama ilmu dan pemikiran. Karena itu, Nabi Muhammad saw tidak diperintahkan untuk meminta sesuatu selain ilmu. Sunnah Nabi pun sangat menekankan pentingnya menuntut ilmu, bahkan menjadikan perjalanan mencari ilmu sebagai salah satu jalan menuju surga.

Menurutnya, ilmu yang bermanfaat bukan sekadar kumpulan informasi atau gelar yang terpajang, melainkan cahaya yang Allah tanamkan dalam hati, yang kemudian melahirkan amal saleh, akhlak mulia, dan kepedulian terhadap sesama.

“Ilmu adalah senjata yang dengannya umat bangkit, menjaga kehormatan, dan membangun peradaban. Tidak ada umat yang maju tanpa ilmu, dan tidak ada umat yang jatuh dalam kehinaan kecuali karena kebodohan dan berpaling dari ilmu,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa siapa pun yang ingin dekat dengan Rasulullah saw hendaknya menuntut ilmu yang bermanfaat, mengamalkannya, serta mengajarkannya kepada orang lain. Ilmu dalam Islam tidak terbatas pada ilmu syariah saja, meskipun itu merupakan fondasi utama dalam memperbaiki agama seorang hamba.

“Maka siapkanlah jawaban di hadapan Allah. Ketahuilah bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada harta dan keturunan, tetapi pada ilmu dan ketakwaannya,” ungkapnya.

Pada bagian akhir khutbah, Ustadz Dimas mengingatkan pentingnya berpegang teguh pada ilmu. Dengan ilmu, seseorang mampu membedakan antara yang hak dan yang batil.

“Janganlah menjadi orang yang merugi, yang hidup tanpa ilmu. Orang yang tidak berilmu seperti berjalan dalam kegelapan,” pungkasnya. (Sayed MH/Kaffah)