Kabarnanggroe.com, Jakarta – Terpisah, sehari sebelumnya dalam konferensi pers Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan kasus super flu atau Influenza A H3N2 subclade K sejauh ini bukan ancaman pandemi mematikan seperti Covid-19 pada 2020 lalu.
“Ini jadi bukan satu virus baru seperti yang Covid. Dia penularannya cepat, tetapi kematiannya sangat rendah. Dan ini selalu terjadi biasanya di musim-musim dingin di negara-negara maju itu selalu terjadi peningkatan. Di Indonesia sendiri kita juga sudah identifikasi, order-nya masih puluhan ya. Dan enggak parah sih. Artinya bisa dengan pengobatan biasa sembuh sendiri ya,” kata Budi dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Budi mengimbau agar masyarakat tidak panik dan tetap waspada, dan menekankan pentingnya imunitas tubuh sebagai pertahanan utama agar virus tersebut dapat sembuh dengan sendirinya.
“Kalau imunitas, sistem imunitas kita bagus, makannya cukup, tidurnya cukup, olahraga cukup, Insya Allah kalau ada virus masuk dan virusnya lemah seperti yang Superflu ini, kita bisa sembuh,” ujar Budi.
“Kalau ternyata di lingkungan kita banyak yang batuk-batuk, ya kita untuk berjaga-jaga kita pakai masker lah ya. Masker dan rajin cuci tangan. Sama seperti Covid gitu,” imbaunya.
Kepala Biro Komunikasi Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman mengungkap hasil analisis 40 persen dari 800 sampel positif influenza dari daerah-daerah yang kemudian dikirim ke Lab Biokesmas Jakarta mencakup Influenza A H1N1 pdm09, H3N2 subclade K (62 kasus), dan Influenza B.
Aji juga mengatakan, dari 62 pasien yang dideteksi mengalami super flu kondisinya sudah kembali normal.
“Itu sudah sehat semua, sebetulnya. Karena itu kan datanya 62 itu kita dapat di minggu ke-36, 2025. Atau minggu pertama September. Jadi tidak ada yang sakit berat, tidak ada yang meninggal. Jadi memang kondisinya sekarang sudah normal aja,” ujar Aji aat ditemui awak media di kantor BNPB, Jakarta Timur, Rabu lalu.
Menurutnya, gejala flu super ini mirip dengan flu biasa seperti demam dengan suhu 38-39°C, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, serta sesak napas ringan.
“Tapi memang sebagian besar demam, keluhannya demam,” ujar Aji.
Dia menegaskan Kemenkes terus memperkuat pemantauan harian melalui Sentinel ILI/SARI di 88 puskesmas, lab daerah, rumah sakit, serta Balai Karantina dengan thermal scanner di pintu masuk negara.
“Sehingga kalau masuk dari pintu-pintu negara, dari luar negeri maupun yang keluar, itu sudah kita bisa pantau betul. Dari situ baru kita lihat kebijakannya dan upaya kita seperti apa. Karena enggak bisa ujug-ujug situasinya masih seperti ini, tidak seperti di Amerika atau negara-negara lain, kita kebijakannya berbeda atau upayanya berbeda. Jadi kita memang harus menyesuaikan dengan situasi terkini,” ujar Aji.
Aji menyebut, kemenkes tetap menyatukan laporan-laporan dari World Health Organization (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan laporan lokal untuk menentukan kebijakan berbasis fakta, tanpa langkah mengambil seperti sekolah online atau work from home massal yang dilakukan di Inggris.
“Nanti masalah kita pantau betul, secara epidemiologis apakah situasi ini sudah masih ringan, sedang, atau sudah tinggi nih kewaspadaan kita. Jadi seperti itu,” kata Aji.
Berdasarkan data Kemenkes RI hingga akhir Desember 2025, tercatat total 62 kasus terdeteksi di delapan provinsi Indonesia. Kkasus terbanyak ditemukan di Jawa Timur, disusul Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.
Wilayah ketiga tersebut merupakan provinsi dengan kasus terbanyak dengan temuan superflu berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.(Muh/*)






