Kabarnanggroe.com, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi, Musim Kemarau tahun 2026 ini akan memicu mundurnya musim tanam pertama.
Meski begitu, BMKG menekankan, petani tetap dapat memanfaatkan peluang di musim kemarau panjang kali ini.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, hasil monitoring perkembangan musim pada akhir bulan Mei 2026, dari 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 200 Zona Musim atau 11,83 dari luas daratan di Indonesia sedang mengalami Musim Kemarau.
Sementara dari hasil monitoring Fase El Nino di Indonesia oleh BMKG di Samudra Pasifik hingga akhir Mei 2026l, Ardhasena menjelaskan, nilai anomali suhu muka laut di Pasifik adalah +1,0. Sedangkan pemantauan suhu muka laut di Samudra Hindia menunjukkan Indeks IOD sebesar -0,56.
“Anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur telah melewati batas netral selama 5 Dasarian. BMKG memprediksi bahwa Fenomena El Nino akan segera aktif dan akan terus bertahan hingga awal tahun 2027,” kata Ardhasena dalam konferensi pers tentang Perkembangan Musim Kemarau 2026 di Indonesia ditayangkan kanal Youtube BMKG, Rabu (10/6/2026).
“Dengan peluang intensitas El Nino mencapai kategori Moderat sebesar 98% saat ini peluangnya. Dan mencapai kategori Kuat sebesar 62% peluangnya saat ini,” sambungnya.
Angka ini naik di mana sebelumnya peluang El Nino kuat adalah kurang dari 20%.
Sementara, tambah Ardhasena, di Samudra Hindia ada peluang terjadinya Fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada periode bulan Juni-November 2026.
“Fenomena El Nino kita ketahui menyebabkan penyimpangan iklim di berbagai belahan dunia, tidak hanya di Indonesia dengan pola dan dampak berbeda-beda,” ujarnya.
“Untuk wilayah Indonesia, terpengaruh (El Nino) menekan curah hujan. Jadi kondisinya lebih kering di bulan Juni (2026) hingga Januari (2027) pada umumnya. Namun perlu dicatat, sekitar bulan Oktober (2026) kita sudah memasuki Musim Hujan. Jadi, ini hanya gambaran umum dampak El Nino,” terang Ardhasena.
Menyambung prediksi di Maret 2026, sambung dia, Musim Kemarau tahun 2026 di Indonesia akan lebih kering alias Bawah Normal.
Menurut Ardhasena, kondisi ini bisa terjadi di sebagian besar daratan Indonesia, yakni di 482 ZOM atau 56,18 wilayah Indonesia.
“Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Sumatra, keseluruhan Jawa, sebagian besar Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan sebagian Pulau Papua,” paparnya.
“Durasi Musim Kemarau 2026 ini kami prediksi lebih panjang, jadi masih konsisten dengan informasi yang kami sampaikan bulan Maret lalu,” jelasnya.
Menyambung prediksi di Maret 2026, sambung dia, Musim Kemarau tahun 2026 di Indonesia akan lebih kering alias Bawah Normal.
Menurut Ardhasena, kondisi ini bisa terjadi di sebagian besar daratan Indonesia, yakni di 482 ZOM atau 56,18 wilayah Indonesia.
“Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Sumatra, keseluruhan Jawa, sebagian besar Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, Maluku, dan sebagian Pulau Papua,” paparnya.
“Durasi Musim Kemarau 2026 ini kami prediksi lebih panjang, jadi masih konsisten dengan informasi yang kami sampaikan bulan Maret lalu,” jelasnya.
Lantas bagaimana dampaknya ke pertanian Indonesia? Apa rekomendasi BMKG?
Ardhasena mengatakan, menghadapi Musim Kemarau kali ini, BMKG mengimbau agar dilakukan pengoptimalan irigasi teknis daerah-daerah yang ada irigasinya.
Serta menyesuaikan ke komoditas pertanian yang adaptif terhadap kondisi kering, seperti tanaman hortikultura yang cocok dengan kondisi kering.
“Menghadapi Musim Kemarau yang panjang ini, berarti nanti musim tanam pertama bisa mundur,” kata Ardhasena.
“Tapi, pada periode kering ini para petani juga bisa menyesuaikan dengan menanam tanaman hortikultura yang juga cocok pada saat periode kering ini. Jadi banyak hal yang masih bisa dilakukan menghadapi kondisi kemarau ini,” ucapnya.(Muh/*)






