Opini  

Sebelum Shalat, Sudahkah Hati Kita “Di-priming” untuk Menghadap Allah?

Oleh: Muhammad Faqihul Azmi, M.A (Mahasiswa Psikologi, UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

Muhammad Faqihul Azmi.MA

Refleksi kecil tentang kebiasaan yang sering kita lupakan

Kabarnanggroe.com — Pernahkah kita baru saja menutup aplikasi, lalu langsung berdiri shalat tanpa jeda, tanpa sedetik pun menyiapkan hati? Kaki sudah di atas sajadah, tapi pikiran masih di notifikasi yang belum terbaca. Mulut sudah melafalkan Allahu Akbar, tapi kepala masih mikirin tugas yang belum dikumpul.

Jujur saja, kita semua pernah di sana.

Shalat dalam Islam bukan sekadar rutinitas lima waktu yang wajib dikerjakan. shalat adalah momen di mana seorang hamba benar-benar berdiri dan menghadap Allah SWT, bukan di hadapan siapapun atau apapun yang lain. Tapi seberapa sering kita benar-benar hadir di sana? Bukan hadir secara fisik, tapi hadir secara hati?

Para ulama sudah lama menekankan hal ini. Al Imam Al-Ghazali dalam karyanya menyebutkan bahwa shalat tanpa kehadiran hati ibarat jasad tanpa ruh, ada wujudnya tapi kosong di dalamnya. Shalatnya mungkin tetap sah secara fikih, tapi apa yang kita dapat dalam makna  shalat ?

“Saya sendiri pernah mengalaminya. Di tengah shalat, tiba-tiba sebuah masalah muncul begitu saja pikiran yang tadinya diam, mendadak ramai sendiri. Saya sadar, lalu beristighfar dalam hati. Tapi pertanyaannya, kenapa masalah itu bisa masuk? Mungkin karena sebelum shalat, hati saya memang belum benar-benar saya ajak untuk hadir.

Menariknya, ilmu psikologi modern punya konsep yang tanpa sengaja  sangat sejalan dengan tuntunan ini. Namanya intentional priming, cara kerja pikiran di mana kita secara sadar mempersiapkan diri sebelum melakukan sesuatu yang penting. Ketika niat diaktifkan dengan sungguh-sungguh sebelum bertindak, pikiran menjadi lebih fokus dan terarah.

Dalam konteks shalat, ini bukan hal baru. Akan tetapih dalam agama Islam sudah diajarkan sejak dulu. niat Tapi bukan sekadar lafal di lidah melainkan keputusan hati yang sadar. “Sekarang aku akan menghadap Allah. Hanya kepada Allah.”

Bedanya tipis tapi dampaknya nyata. Niat yang sekadar lafal membuat kita memulai shalat. Niat yang sungguh-sungguh membuat kita masuk ke dalam shalat.

Coba kebiasaan kecil ini di lakukan sebelum takbiratul ihram, diam sejenak. Tarik napas katakan pada diri kita, aku akan bicara dengan Allah, maka mulai dari wudu  ketika air menyentuh wajah, jadikan itu momen transisi dari dunia yang ramai ke ruang yang lebih hening.

Kita mungkin tidak bisa selalu khusyuk sempurna, dan itu manusiawi. Pikiran akan sesekali melayang itu bukan dosa. Yang penting kita selalu menariknya kembali. Tapi ada bedanya antara pikiran yang sesekali melayang di pikiran, atau memang hati yang dari awal tidak disiapkan untuk hadir dalam shalat.

Yang satu kelemahan manusia. Yang satu lagi pilihan yang bisa kita perbaiki.

Mungkin shalat yang kita lakukan sekarang jauh dari kata sempurna. Tapi mulai dari sekarang, kita bisa memilih untuk datang ke hadapan Allah dengan hati yang lapang atau sebaliknya..

Karena Allah tidak butuh dengan shalat kita

Exit mobile version