Opini  

Berharap Bukan untuk Kecewa

Oleh: Muhammad ‘Uzair

Kabarnanggroe.com, Bung Karno pernah berpesan, “Gantungkan cita-citamu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Kalimat tersebut telah menginspirasi banyak orang untuk berani bermimpi besar, melampaui keterbatasan, dan tidak mudah menyerah pada keadaan.

Namun, seiring bertambahnya usia, kehidupan mengajarkan satu kenyataan yang sering kali luput dari narasi para motivator; tidak semua orang sampai ke bintang-bintang. Ada yang gagal meraih kampus impiannya, ditolak berkali-kali saat melamar pekerjaan. Ada yang “harus” mengubur cita-cita yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun. Atau mungkin adapula yang kehilangan orang yang dicintainya ketika harapan untuk sembuh masih begitu besar.

Pada situasi seperti itu, mungkin, ada tanya yang muncul, “jika harapan sering berujung pada kekecewaan, mengapa kita harus tetap berharap?” Sebagian memilih untuk mengurangi harapan agar tidak terlalu sakit ketika kenyataan tidak sesuai keinginan. Mereka yakin bahwa semakin sedikit berharap, semakin kecil pula kemungkinan untuk kecewa. Tapi, benarkah hidup tanpa harapan membuat seseorang lebih tenang? Psikologi justru menunjukkan hal yang sebaliknya, harapan merupakan salah satu sumber kekuatan utama yang membantu manusia bertahan menghadapi kesulitan.

Orang yang memiliki harapan cenderung lebih mampu menghadapi tekanan, lebih tangguh ketika mengalami kegagalan, dan lebih termotivasi untuk mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Harapan memberi alasan bagi seseorang untuk tetap bangun di pagi hari dan melanjutkan hidup meskipun keadaan sedang tidak baik-baik saja. Psikologi juga mengingatkan kita bahwa tidak semua bentuk harapan bersifat sehat. Ada harapan yang dibangun di atas kepastian semu, yang nantinya dapat berubah menjadi sumber derita. Ketika seseorang terlalu yakin bahwa sesuatu pasti terjadi, ia rentan mengalami kekecewaan yang mendalam saat kenyataan bergerak ke arah yang berbeda.

Dalam kondisi inilah muncul konsep yang dikenal sebagai guardedly hope atau harapan yang dijaga dengan hati-hati. Guardedly hope adalah kemampuan untuk tetap berharap tanpa menganggap harapan sebagai jaminan. Seseorang tetap menginginkan hasil terbaik,pasti! Tapi ia penting menyadari bahwa hidup mengandung ketidakpastian. Maka bersikap dengan sikap, “Saya berharap ini berhasil, tetapi saya juga siap jika hasilnya tidak sesuai dengan yang saya inginkan.” (Qanaah setelah menemukan hasil akhir dari harapan) Sekilas, sikap tersebut mungkin terdengar seperti keraguan, padahal sebenarnya, itulah bentuk harapan yang paling dewasa, yang sehat, dan harapan yang tidak bermuara pada kecewa.

Karena dengan demikian harapan tidak lagi bergantung pada kepastian hasil, melainkan pada keberanian untuk terus melangkah. Seseorang tetap berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak membiarkan harga dirinya hancur ketika kenyataan tidak berpihak kepadanya. Kita dapat melihat contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Seorang mahasiswa yang sedang menunggu hasil seleksi beasiswa tentu berharap diterima. Ia belajar, mempersiapkan berkas, dan mengikuti seluruh tahapan dengan maksimal. Namun, harapan yang sehat membuatnya memahami bahwa penolakan bukan akhir dari segalanya. Jika diterima, ia bersyukur. Jika belum berhasil, ia akan mencari kesempatan lain.

Harapan tetap ada, tetapi tidak berubah menjadi ketergantungan. Atau seorang pasien berharap sembuh, tetapi tetap memahami bahwa proses pemulihan membutuhkan waktu. Seorang pencari kerja berharap mendapatkan pekerjaan, tetapi tetap membuka diri terhadap kemungkinan lain. Seorang pebisnis berharap usahanya berkembang, tetapi tetap menyadari bahwa keberhasilan tidak selalu datang sesuai rencana. Sayangnya, di era media sosial saat ini, banyak orang tanpa sadar terjebak dalam harapan yang tidak realistis. Kita terbiasa melihat kisah sukses yang tampak sempurna.

Kita melihat orang lain diterima di kampus impian, mendapatkan pekerjaan bergengsi, membangun bisnis yang berkembang pesat, atau menjalani kehidupan yang terlihat bahagia. Yang jarang terlihat adalah kegagalan, penolakan, kecemasan, dan perjuangan panjang yang mereka alami sebelumnya. Akibatnya, kita mulai percaya bahwa kesuksesan harus datang sesuai jadwal yang kita tentukan sendiri. Ketika kenyataan tidak berjalan seperti yang diharapkan, kita merasa tertinggal, tidak cukup baik, bahkan menyalahkan diri sendiri.

Padahal kehidupan bukan perlombaan dengan garis akhir yang sama untuk semua orang. Karena itu, mungkin sudah saatnya kita memahami bahwa tujuan dari harapan bukanlah untuk menjamin keberhasilan. Harapan tidak pernah diciptakan untuk melindungi manusia dari kekecewaan. Sebaliknya, harapan hadir agar manusia memiliki kekuatan untuk tetap bergerak meskipun tidak ada kepastian tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Pada akhirnya, mungkin Bung Karno benar bahwa kita perlu menggantungkan cita-cita setinggi langit. Kita perlu berani bermimpi besar dan memiliki keyakinan bahwa hidup dapat menjadi lebih baik.

Namun, kehidupan juga mengajarkan bahwa tidak semua perjalanan berakhir di antara bintang-bintang. Ada kalanya kita jatuh, tersesat, atau harus memulai kembali dari awal. Meski demikian, itu bukan alasan untuk berhenti berharap. Sebab berharap bukan tentang memastikan bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai keinginan kita. Berharap adalah keberanian untuk terus melangkah meskipun hasil akhirnya belum kita ketahui.

Karena sesungguhnya, harapan tidak ada untuk membuat manusia terhindar dari kekecewaan. Harapan ada agar manusia tetap memiliki alasan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya. Karena berharap bukan untuk kecewa, melainkan untuk bertahan, tumbuh, dan terus melangkah.

Exit mobile version