Opini  

Apakah Gen Z Benar-Benar Malas,atau Hanya Lelah Secara Mental?

Oleh: Putri Balqis Irsiana (Mahasiswi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Fakultas Psikologi Program Studi Psikologi)

Kabarnanggroe.com — “Gen Z itu malas, gampang menyerah, dan terlalu sensitif.” Kalimat seperti ini semakin sering terdengar di media sosial maupun kehidupan sehari-hari. Banyak orang menilai generasi muda sekarang tidak sekuat generasi sebelumnya. Sedikit merasa lelah dianggap berlebihan, sementara membicarakan kesehatan mental sering dicap hanya mencari perhatian. Namun, apakah penilaian itu benar sepenuhnya?

Menurut saya, banyak Gen Z sebenarnya bukan malas, melainkan sedang mengalami kelelahan mental yang perlahan menumpuk setiap hari. Saya melihat banyak anak muda saat ini berusaha keras menjalani hidup di tengah tuntutan pendidikan, pekerjaan, dan tekanan sosial yang terus datang tanpa henti. Mereka merasa harus selalu kuat, produktif, dan terlihat baik-baik saja, padahal di dalam dirinya sering muncul rasa cemas tentang masa depan, takut gagal, takut tertinggal dari orang lain, hingga merasa kurang berharga ketika terus membandingkan diri dengan apa yang dilihat di media sosial. Karena itu, ketika sebagian Gen Z terlihat diam, kehilangan semangat, atau memilih beristirahat sejenak, hal tersebut bukan berarti mereka tidak mau berusaha, melainkan karena pikiran dan emosinya sudah terlalu lelah. Sayangnya, kondisi seperti ini sering disalahartikan sebagai kemalasan karena orang lain hanya melihat perubahan sikapnya dari luar tanpa benar-benar memahami apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan.

Gen Z tumbuh di era digital yang membuat semuanya berjalan sangat cepat. Media sosial menghadirkan standar hidup yang terlihat sempurna setiap hari. Anak muda terus melihat orang lain sukses di usia muda, memiliki pekerjaan impian, hidup mapan, hingga terlihat bahagia setiap saat. Tanpa disadari, kondisi ini membuat banyak orang mulai membandingkan dirinya sendiri secara berlebihan. Akibatnya, muncul rasa takut tertinggal, overthinking, insecure, bahkan kehilangan rasa percaya diri.

Tekanan yang dihadapi Gen Z juga bukan hanya soal media sosial. Persaingan pendidikan dan pekerjaan semakin ketat, biaya hidup meningkat, sementara tuntutan untuk selalu produktif terus bertambah. Banyak anak muda merasa harus sukses secepat mungkin agar dianggap berhasil. Mereka dipaksa terus berjalan tanpa benar-benar diberi ruang untuk beristirahat secara mental.

Ironisnya, ketika Gen Z mulai merasa burnout atau kehilangan motivasi, respons yang muncul justru berupa kritik. Mereka dianggap terlalu lemah dibanding generasi sebelumnya. Padahal setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda. Jika generasi terdahulu lebih banyak menghadapi tekanan fisik, maka Gen Z menghadapi tekanan mental dan sosial yang datang hampir setiap hari melalui teknologi dan lingkungan digital.

Namun, memahami kondisi mental Gen Z bukan berarti semua perilaku bisa dibenarkan. Tanggung jawab, disiplin, dan kemampuan menghadapi masalah tetap penting dimiliki. Akan tetapi, memberi stigma “malas” tanpa memahami tekanan yang mereka alami juga bukan sikap yang bijak. Tidak semua orang yang terlihat diam berarti tidak berusaha. Bisa jadi mereka sedang berjuang menghadapi pikirannya sendiri.

Pada akhirnya, mungkin Gen Z bukan generasi yang lemah. Mereka hanya hidup di zaman yang membuat manusia harus terus terlihat kuat, produktif, dan sempurna setiap saat. Karena itu, daripada terus memberi label negatif, masyarakat seharusnya mulai belajar memahami bahwa kelelahan mental adalah masalah nyata yang tidak bisa dianggap sepele.