Kabarnanggroe.com, Jakarta – Serangan Israel melaporkan sedikitnya 32 orang di sejumlah wilayah Lebanon sejak Minggu (21/6) pagi waktu setempat.
Serangan itu terjadi di tengah gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya. Salah satu wilayah yang terkena serangan adalah Qennarit, di Lebanon selatan.
Seorang saksi mata, Abbas Ezzedine, mengatakan serangan udara menghantam sebuah rumah pada sekitar pukul 08.30 pagi. Ia menyebut rumah itu dihuni warga sipil yang sedang tidur.
“Ada serangan udara pagi ini ke rumah ini pukul 08.30. Rumah itu menjadi target pesawat tempur Israel. Di dalamnya ada orang-orang yang sedang tidur, anak-anak, seorang perempuan, dua anaknya, suami, dan seorang warga sipil muda. Semuanya warga sipil,” kata Abbas, dikutip dari postingan Instagram Al Jazeera, Minggu (21/6/2026).
Abbas mengatakan warga seharusnya bisa merasa aman setelah adanya gencatan senjata. Namun, terjadi serangan kembali dan menghancurkan organisasi warga.
Militer Israel mengklaim serangan itu dilakukan setelah Hizbullah melancarkan lebih dari 50 proyektil ke arah pasukan Israel pada malam sebelumnya.
Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut serangan Israel telah menyebabkan lebih dari 4.000 orang di Lebanon sejak 2 Maret.
Situasi di Lebanon selatan juga membuat ribuan orang meninggalkan Tirus setelah Israel mengeluarkan perintah paksa.
Merespons serangan mematikan tersebut, Iran mengumumkan akan kembali menutup Selat Hormuz. Teheran juga menuntut Israel menghentikan invasi ke Lebanon sebagai bagian dari kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menjadi rute penting perdagangan minyak dunia. Penutupan jalur ini berpotensi memperluas dampak konflik di kawasan Timur Tengah.(Muh/*)






