Kabarnanggroe.com, Catatan reflektif menjelang berakhirnya satu periode kepengurusan himpunan mahasiswa Aceh Besar
Ada masa ketika menjadi mahasiswa di Aceh Besar bukan hanya tentang datang ke kampus, mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, lalu pulang.
Menjadi mahasiswa berarti membawa tanggung jawab moral.
Ada keberanian untuk bertanya. Ada keberanian untuk berbeda pendapat. Ada keberanian untuk berdiri bersama masyarakat ketika kebijakan pemerintah dinilai tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.
Saya masih mengingat masa itu, terutama sekitar tahun 2008.
Himpunan mahasiswa ketika itu terasa memiliki roh gerakan yang kuat. Mahasiswa tidak hanya sibuk dengan kegiatan internal organisasi. Mereka turun ke masyarakat, berdiskusi dengan pemuda, berbicara tentang pendidikan, ekonomi, pemberdayaan, kebijakan pemerintah dan masa depan Aceh Besar.
Pemerintah diajak berdialog.
Anggota legislatif diundang.
Bupati dipanggil ke forum mahasiswa.
Dan ketika pemerintah serta anggota legislatif hadir, mereka tidak datang hanya untuk menerima pujian. Mereka datang untuk menjawab pertanyaan.
Saya masih teringat sebuah forum ketika mahasiswa mengundang bupati dan anggota dewan untuk berbicara tentang pembangunan ekonomi pemuda. Pertanyaannya tajam. Apa yang sudah dilakukan pemerintah? Bagaimana nasib pemuda? Apa program yang benar-benar menyentuh masyarakat?
Pertanyaan itu tidak hanya diarahkan kepada bupati, tetapi juga kepada anggota legislatif.
Mahasiswa memahami bahwa kekuasaan memiliki kewajiban untuk menjelaskan apa yang telah dilakukan kepada rakyat.
Itulah wajah mahasiswa yang saya kenal.
Mitra ketika pemerintah benar. Pengkritik ketika pemerintah keliru.
Tidak ada persoalan pribadi.
Tidak ada kebencian terhadap pejabat.
Mahasiswa hanya ingin memastikan bahwa kebijakan publik tidak berjalan tanpa pengawasan masyarakat.
Jika dialog bisa menyelesaikan masalah, mahasiswa berdialog.
Jika audiensi diperlukan, mahasiswa melakukan audiensi.
Jika pemerintah tidak mendengar setelah berbagai jalan komunikasi ditempuh, mahasiswa turun ke jalan menyampaikan aspirasi secara damai.
Dan pada masa itu, lagu “Buruh Tani” bukan sekadar lagu yang dinyanyikan ketika demonstrasi. Ia menjadi simbol bahwa mahasiswa merasa mempunyai hubungan dengan rakyat kecil.
Hari ini, ketika melihat Aceh Besar, saya kemudian bertanya:
Ke mana semangat itu pergi?
Mahasiswa dan perubahan zaman
Saya tidak ingin mengatakan bahwa semua mahasiswa Aceh Besar hari ini diam.
Itu tidak benar.
Masih ada mahasiswa yang bergerak. Masih ada organisasi yang menyampaikan kritik. Masih ada anak-anak muda yang peduli terhadap persoalan masyarakat.
Contohnya, pada Juli 2026, KAMMI Aceh Besar menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi Sungai Krueng Aceh yang dilaporkan keruh dan mengaitkannya dengan dugaan aktivitas pertambangan emas tanpa izin di kawasan hulu Krueng Aceh, wilayah Jantho. Mereka meminta persoalan tersebut mendapat perhatian serius.
Artinya, api itu belum padam.
Tetapi pertanyaannya adalah:
Apakah api itu masih cukup besar untuk menerangi persoalan rakyat Aceh Besar?
Pertanyaan ini penting karena masalah masyarakat tidak semakin sedikit.
Di Jantho, misalnya, persoalan lingkungan menjadi perhatian serius.
Pada Juni 2026, WALHI Aceh menyampaikan hasil investigasi dan analisis citra satelit yang menyebut sekitar 102,69 hektare kawasan di Kecamatan Jantho terdampak aktivitas pertambangan emas tanpa izin. Dari luasan tersebut, WALHI menyebut 14,36 hektare berada di kawasan Cagar Alam Jantho. Angka tersebut merupakan hasil investigasi WALHI dan pemberitaan mengenai temuan tersebut, sehingga tetap perlu dibaca sebagai data dari pihak yang melakukan investigasi, bukan sebagai putusan hukum.
Masyarakat Mukim Jantho juga menyampaikan penolakan. Mereka menyebut sungai yang sebelumnya jernih menjadi keruh dan mengkhawatirkan dampaknya terhadap air, pertanian, perikanan, serta kehidupan masyarakat.
Bahkan masyarakat telah melaporkan persoalan tersebut kepada aparat dan kemudian dilakukan pengecekan lapangan bersama unsur Polres Aceh Besar, BKSDA Aceh dan Gakkum Kehutanan pada awal Juli 2026. Dalam pengecekan tersebut, petugas tidak menemukan aktivitas PETI yang sedang berlangsung pada saat pemeriksaan.
Lalu saya kembali bertanya:
Di tengah persoalan sebesar itu, seberapa kuat suara mahasiswa Aceh Besar?
Bukan untuk mencari siapa yang salah.
Tetapi untuk mengingatkan bahwa mahasiswa seharusnya mempunyai tempat dalam percakapan publik mengenai masa depan daerahnya.
Jangan sampai mahasiswa lebih takut kehilangan kedekatan daripada kehilangan idealisme
Kritik paling penting bukanlah mengatakan mahasiswa sekarang tidak peduli.
Kritik yang lebih penting adalah:
Jangan sampai mahasiswa kehilangan keberanian karena terlalu nyaman berada dekat dengan kekuasaan.
Dekat dengan pemerintah bukan sebuah kesalahan.
Bahkan, mahasiswa memang perlu dekat dengan pemerintah dalam arti mampu berdialog, menyampaikan gagasan, memberikan masukan dan membangun kerja sama.
Pemerintah membutuhkan mahasiswa.
Mahasiswa juga membutuhkan pemerintah.
Tetapi kedekatan harus memiliki batas moral.
Jangan sampai karena pernah diundang ke kantor pemerintah, kemudian mahasiswa kehilangan keberanian untuk mengkritik.
Jangan sampai karena pernah duduk bersama pejabat, kemudian suara mahasiswa menjadi terlalu hati-hati.
Jangan sampai karena takut hubungan menjadi renggang, persoalan rakyat justru disimpan dalam diam.
Mahasiswa boleh dekat dengan kekuasaan, tetapi jangan sampai kehilangan jarak kritis terhadap kekuasaan.
Sebab tugas mahasiswa bukan menjadi oposisi sepanjang waktu.
Tetapi mahasiswa juga bukan humas pemerintah.
Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat sipil yang mempunyai tanggung jawab untuk berpikir kritis terhadap kebijakan publik.
Apa gunanya organisasi mahasiswa jika rakyat tidak merasakan kehadirannya?
Pertanyaan ini mungkin terdengar keras.
Namun organisasi mahasiswa memang harus berani mengevaluasi dirinya sendiri.
Apa ukuran keberhasilan sebuah himpunan?
Apakah banyaknya kegiatan?
Banyaknya seminar?
Banyaknya sertifikat?
Banyaknya foto bersama pejabat?
Banyaknya undangan resmi?
Atau keberhasilan diukur dari seberapa besar organisasi tersebut mampu menghadirkan solusi untuk masyarakat?
Saya tidak mengatakan kegiatan seminar dan seremoni tidak penting.
Penting.
Tetapi jangan sampai seluruh energi organisasi habis untuk kegiatan internal sementara masyarakat di luar kampus menghadapi persoalan yang nyata.
Pemuda membutuhkan keterampilan.
Masyarakat membutuhkan akses ekonomi.
Petani membutuhkan infrastruktur.
Anak-anak membutuhkan pendidikan yang baik.
Masyarakat membutuhkan lingkungan yang aman.
Ketika sungai tercemar, ketika irigasi bermasalah, ketika banjir terjadi, ketika jalan rusak, ketika masyarakat kehilangan sumber penghidupan, mahasiswa seharusnya memiliki rasa ingin tahu:
Apa yang sebenarnya terjadi?
Siapa yang bertanggung jawab?
Apa kebijakan yang sudah dibuat?
Apakah kebijakan itu berjalan?
Apa solusi yang bisa ditawarkan?
Itulah pertanyaan-pertanyaan akademik yang dibawa keluar dari ruang kelas.
Aceh Besar tidak hanya membutuhkan pembangunan, tetapi juga pengawasan masyarakat
Pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak proyek yang dibuat.
Pembangunan harus dilihat dari perubahan kehidupan masyarakat.
Sejumlah isu strategis pembangunan Aceh Besar 2026 sendiri mencakup kualitas sumber daya manusia, perekonomian produktif dan kompetitif, infrastruktur, ketahanan iklim, pemerintahan yang responsif, serta pemerataan pembangunan.
Semua itu sesungguhnya merupakan ruang yang sangat luas bagi mahasiswa untuk ikut mengawal.
Mahasiswa ilmu komunikasi dapat mengkaji komunikasi pemerintah dengan masyarakat.
Mahasiswa ekonomi dapat melihat pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Mahasiswa teknik dapat berbicara mengenai infrastruktur.
Mahasiswa pertanian dapat mengkaji persoalan irigasi dan produksi.
Mahasiswa lingkungan dapat melihat persoalan ekologi.
Mahasiswa hukum dapat mengkaji aspek regulasi dan penegakan hukum.
Mahasiswa pendidikan dapat melihat persoalan akses dan kualitas pendidikan.
Dengan demikian, gerakan mahasiswa tidak harus selalu berbentuk demonstrasi.
Kajian adalah gerakan.
Audiensi adalah gerakan.
Advokasi adalah gerakan.
Pendampingan masyarakat adalah gerakan.
Menyampaikan data kepada pemerintah adalah gerakan.
Dan demonstrasi merupakan salah satu bentuk penyampaian aspirasi ketika diperlukan dan dilakukan secara damai serta bertanggung jawab.
Yang penting bukan bentuknya.
Yang penting adalah keberpihakan kepada kepentingan publik dan keberanian menyampaikan fakta.
Jangan tunggu masyarakat mengetuk pintu kampus
Mahasiswa tidak boleh hanya menunggu masyarakat datang membawa masalah.
Mahasiswa harus datang kepada masyarakat.
Datang ke gampong.
Bicara dengan keuchik.
Bertemu pemuda.
Duduk bersama petani.
Mendengar nelayan.
Mendengar pedagang kecil.
Mendengar guru.
Mendengar masyarakat yang terkena banjir.
Mendengar masyarakat yang khawatir terhadap kerusakan lingkungan.
Kemudian semua suara itu dibawa ke ruang pemerintah dalam bentuk data, kajian dan rekomendasi.
Di situlah mahasiswa menjadi jembatan.
Bukan jembatan yang membawa kepentingan pemerintah kepada rakyat.
Tetapi jembatan yang membawa suara rakyat kepada pemerintah.
Kepada pengurus mahasiswa Aceh Besar yang akan mengakhiri masa jabatan
Sebentar lagi sebuah periode kepengurusan akan berakhir.
Akan ada laporan pertanggungjawaban.
Akan ada pergantian ketua.
Akan ada pengurus baru.
Program kerja akan berganti.
Nama-nama pengurus akan berganti.
Tetapi sebelum pergantian itu terjadi, ada satu hal yang jauh lebih penting daripada laporan administratif:
Apa yang kalian tinggalkan untuk masyarakat?
Bukan berapa banyak kegiatan yang telah dilakukan.
Bukan berapa banyak sertifikat yang dibagikan.
Bukan berapa banyak pejabat yang hadir.
Bukan berapa banyak foto yang tersimpan.
Tetapi tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah pernah ada masyarakat yang merasa terbantu karena suara kalian?
Apakah pernah ada pemuda yang mendapatkan ruang karena perjuangan kalian?
Apakah pernah ada persoalan masyarakat yang kalian bawa sampai ke meja pemerintah?
Apakah pernah ada kebijakan yang kalian kritik dengan data?
Apakah pernah ada pemerintah yang mendapatkan masukan konstruktif dari organisasi kalian?
Dan yang paling penting:
Ketika rakyat Aceh Besar membutuhkan suara, apakah mahasiswa hadir?
Jika jawabannya belum, jangan malu.
Justru itu kesempatan untuk berubah.
Jangan wariskan organisasi yang kehilangan keberanian
Saya menulis ini bukan karena membenci mahasiswa hari ini.
Justru karena saya masih percaya kepada mahasiswa.
Saya percaya masih ada anak muda Aceh Besar yang memiliki keberanian.
Saya percaya masih ada mahasiswa yang tidak ingin organisasinya hanya menjadi nama.
Saya percaya masih ada mahasiswa yang ingin melihat Aceh Besar menjadi daerah yang lebih baik.
Karena itu, jangan takut mengkritik.
Tetapi kritiklah dengan ilmu.
Jangan hanya berteriak.
Bawa data.
Jangan hanya menuduh.
Bawa bukti.
Jangan hanya turun ke jalan.
Siapkan solusi.
Jangan hanya mengatakan pemerintah salah.
Tunjukkan apa yang seharusnya diperbaiki.
Itulah mahasiswa yang dibutuhkan zaman.
Mahasiswa yang kritis tetapi santun.
Berani tetapi tidak brutal.
Tegas tetapi tidak menghina.
Dekat dengan pemerintah tetapi tidak kehilangan independensi.
Dekat dengan rakyat tetapi tidak menjadikan rakyat sebagai alat politik.
Karena jabatan akan berganti, tetapi rakyat tetap ada
Bupati akan berganti.
Anggota dewan akan berganti.
Kepala dinas akan berganti.
Ketua organisasi mahasiswa juga akan berganti.
Tetapi rakyat tetap ada.
Mereka yang bekerja di sawah tetap ada.
Pemuda yang mencari pekerjaan tetap ada.
Anak-anak yang membutuhkan pendidikan tetap ada.
Masyarakat yang membutuhkan jalan dan irigasi tetap ada.
Dan lingkungan yang rusak tidak bisa dipulihkan hanya dengan foto dan seremoni.
Karena itu, mahasiswa harus memahami satu hal:
Kekuasaan itu sementara, tetapi dampak kebijakan bisa berlangsung sangat lama.
Hari ini mahasiswa mungkin hanya mempunyai suara.
Tetapi suara yang digunakan dengan ilmu, keberanian dan ketulusan dapat menjadi kekuatan moral yang besar.
Jangan takut berbeda.
Jangan takut bertanya.
Jangan takut mengkritik.
Jangan takut mengatakan tidak ketika memang harus mengatakan tidak.
Tetapi juga jangan takut mengatakan benar ketika pemerintah memang melakukan sesuatu yang benar.
Itulah independensi.
Kepada mahasiswa Aceh Besar: kembalilah menjadi suara yang didengar rakyat
Saya tidak meminta mahasiswa kembali ke masa lalu secara harfiah.
Zaman telah berubah.
Teknologi berubah.
Cara berkomunikasi berubah.
Pola gerakan berubah.
Masyarakat berubah.
Tetapi satu hal tidak boleh berubah:
tanggung jawab moral mahasiswa kepada masyarakat.
Dulu mahasiswa membawa spanduk ke jalan.
Hari ini mahasiswa bisa membawa data melalui media digital.
Dulu mahasiswa menggelar mimbar bebas.
Hari ini mahasiswa bisa melakukan diskusi publik, riset, kampanye digital, advokasi kebijakan dan audiensi.
Dulu mahasiswa menyanyikan “Buruh Tani” di jalan.
Hari ini mahasiswa mungkin menyuarakan perjuangan melalui video, podcast, media sosial dan berbagai ruang digital.
Medianya boleh berubah.
Semangatnya jangan hilang.
Jangan sampai mahasiswa menjadi generasi yang terlalu sibuk mencari kedekatan dengan pemimpin, tetapi lupa mendekati rakyat.
Jangan sampai mahasiswa lebih takut kehilangan akses kepada pejabat daripada kehilangan kepercayaan masyarakat.
Dan jangan sampai ketika rakyat bertanya:
“Di mana mahasiswa?”
Tidak ada jawaban.
Kepada mahasiswa Aceh Besar hari ini, saya ingin menitipkan satu pesan:
Jadilah mitra pemerintah ketika pemerintah memperjuangkan kepentingan rakyat.
Jadilah pengingat ketika pemerintah mulai keliru.
Jadilah jembatan ketika rakyat tidak didengar.
Jadilah suara ketika masyarakat tidak mempunyai ruang untuk berbicara.
Tidak perlu menjadi pahlawan.
Tidak perlu mencari nama.
Tidak perlu mencari pujian.
Cukup hadir ketika masyarakat membutuhkan.
Karena pada akhirnya, ketika masa jabatan berakhir, ketika kursi kekuasaan berganti, ketika kepengurusan organisasi mahasiswa berganti, yang akan tetap tinggal adalah pertanyaan sederhana:
Apa yang sudah kita lakukan untuk rakyat?
Semoga pertanyaan itu tidak menjadi beban.
Semoga menjadi pengingat.
Semoga menjadi alasan bagi mahasiswa Aceh Besar untuk kembali menyalakan keberanian.
Sebab Aceh Besar tidak membutuhkan mahasiswa yang hanya pandai membuat kegiatan.
Aceh Besar membutuhkan mahasiswa yang mau berpikir, mau mendengar, mau turun, mau mengawal, dan berani bersuara.
Karena mahasiswa bukan sekadar penghuni kampus.
Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat.
Dan ketika masyarakat membutuhkan suara—
jangan biarkan suara mahasiswa ikut diam.
