Pustaka Kuno Tanoh Abee Warisan Peradaban Islam yang Dilirik Dunia, Diabaikan di Rumah Sendiri

Flyer Pustaka Kuno Zawiyah Tanoh Abee. FOTO/DOK PRI

Kabarnanggroe.com, Kota Jantho – Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, perhatian terhadap khazanah intelektual klasik justru semakin menguat di berbagai penjuru dunia.

Salah satu buktinya adalah meningkatnya minat lembaga-lembaga internasional maupun nasional terhadap Pustaka Kuno Zawiyah Tanoh Abee, sebuah koleksi manuskrip Islam klasik yang diwariskan secara turun-temurun oleh keluarga besar Teungku Chik Tanoh Abee, ulama karismatik yang menjadi simbol keilmuan dan perlawanan Aceh sejak abad ke-16 hingga ke-19 Masehi.

Ironisnya, perhatian yang begitu besar dari dunia luar justru berbanding terbalik dengan sikap lembaga-lembaga pemerintah daerah Aceh sendiri.

Warisan keilmuan yang seharusnya menjadi kebanggaan dan sumber inspirasi generasi Aceh masa kini, justru tidak mendapatkan perhatian serius. Tidak ada program pelestarian yang memadai, belum ada dukungan konkret dalam bentuk digitalisasi, restorasi, atau pengamanan naskah-naskah penting tersebut. Padahal, setiap lembar manuskrip di Tanoh Abee memuat nilai-nilai spiritual, ilmu pengetahuan, dan sejarah perjuangan umat Islam yang tak ternilai harganya.

Baru-baru ini, cucu dari Abu Muhammad Dahlan Tanoh Abee menyampaikan, pihaknya menerima berbagai ajakan kerja sama dari negara-negara dan lembaga internasional untuk membantu perawatan dan pelestarian manuskrip-manuskrip kuno yang ada di Pustaka Kuno Zawiyah Tanoh Abee. Di antara yang terbaru adalah tawaran kolaborasi dari Asia Culture Center (ACC) dan Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MOWCAP) – UNESCO.

Kedua lembaga tersebut melihat pentingnya nilai historis dan intelektual dari koleksi pribadi keluarga Teungku Chik Tanoh Abee, dan ingin mendorong langkah-langkah konkret untuk menjaga eksistensinya bagi generasi dunia.

Menanggapi hal ini, pihak keluarga dan pengelola zawiyah sedang mempelajari berbagai aspek dari tawaran tersebut.

Musyawarah dan pertimbangan mendalam akan dilakukan bersama pimpinan dan penanggung jawab utama Zawiyah Tanoh Abee, yaitu Cut Fid atau Teungku Abdul Hafidz Al Fairusy Al Baghdady. Prinsipnya, segala bentuk kerja sama akan tetap berlandaskan pada penghormatan terhadap nilai-nilai keulamaan, amanah keluarga, serta keberlanjutan ilmu yang diwariskan oleh para pendahulu.

Situasi ini seharusnya menjadi momentum refleksi bersama, terutama bagi pemerintah daerah dan masyarakat Aceh sendiri. Apakah kita rela melihat warisan besar ini hanya diangkat, diakui, dan dirawat oleh bangsa lain, sementara kita sendiri hanya menjadi penonton di tanah kelahiran para ulama besar? Semestinya, inisiatif dan kepedulian itu tumbuh dari dalam dari kesadaran akan pentingnya identitas, sejarah, dan keluhuran ilmu yang pernah menjadikan Aceh sebagai mercusuar peradaban Islam di Asia Tenggara.

Pustaka Kuno Teungku Chik Tanoh Abee bukan sekadar tumpukan kertas usang, tapi adalah denyut nadi masa lalu yang masih menghidupkan harapan dan jati diri bangsa. Kini, saat dunia mulai melirik, semoga Aceh tidak lagi berpaling.(Cboy/*)