Kabarnanggroe.com, Jakarta — Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai titik krusial dalam dinamika ekonomi global.
Jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab ini tidak hanya menjadi urat nadi perdagangan energi dunia, tetapi juga kanal transmisi tekanan inflasi yang luas hingga ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Menurut Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) dalam laporannya yang dikutip pada Selasa (14/4/2026), konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran meningkat sejak serangan pada 28 Februari 2026.
AS meluncurkan serangan terhadap fasilitas-fasilitas militer Iran dan menewaskan salah satu figur paling berpengaruh di Iran, yang kemudian memicu serangan balasan dari Iran.
Ketegangan ini menjadi kelanjutan dari rangkaian konflik sebelumnya, termasuk serangan terhadap fasilitas nuklir Iran serta insiden di Suriah dalam beberapa tahun terakhir. Dalam konteks terbaru, konflik tersebut berisiko memicu gangguan besar pada sisi penawaran global.
Jalur energi sebagai sumber guncangan awal Selat Hormuz memegang peran strategis dalam distribusi energi global.
Sekitar 25 persen perdagangan minyak dunia serta sebagian besar liquefied natural gas (LNG) melewati jalur ini setiap hari, setara dengan sekitar 20 juta barrel minyak mentah, bahan bakar, dan kondensat.
Ketika Iran mengambil langkah pembatasan hingga potensi penutupan jalur ini, risiko gangguan pasokan langsung meningkat. Dampaknya tercermin pada lonjakan harga energi global.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat melonjak tajam menjadi 104,72 dollar AS per barrel pada Maret 2026, naik sekitar 56 persen dibandingkan Februari 2026 dan menjadi salah satu level tertinggi sejak 2022. Sementara itu, harga LNG global juga meningkat signifikan dari 3,47 GBP/kWh pada Maret 2025 menjadi 4,56 GBP/kWh pada Maret 2026, atau naik 67 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan ini tidak hanya mencerminkan gangguan pasokan, tetapi juga meningkatnya persaingan global, terutama dari Eropa yang meningkatkan impor LNG di tengah krisis energi.
Dampak ikutan ke pupuk dan rantai pasok Selain energi, konflik juga memicu tekanan pada komoditas pendukung produksi, terutama pupuk berbasis nitrogen. Timur Tengah merupakan salah satu kawasan utama pengekspor komoditas ini.
Harga pupuk urea granular FOB Middle East tercatat melonjak menjadi 750 dollar AS per ton pada Maret 2026, meningkat 95 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.(Muh/*)






