Banjir Dan Keadilan Di Dalamnya

Oleh: MaimunaH (Guru SMAN 1 Lhokseumawe)

MaimunaH (Guru SMAN 1 Lhokseumawe)

Kabarnanggroe.com, Artinya:”Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik”.(QS Al Araf:56) dan surah lainnya “Sesunggunya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,dan (menyuruh kamu)menetapkan hukum di antara manusia dengan adil…”

Ayat-ayat di atas memang secara jelas tidak ada hubungan satu dengan lainya,dikarenakan ayat pertama tentang pelarangan dan ayat yang ke-2 tentang berbuat adil,akan tetapi bila dilihat secara seksama ke-2 ayat di atas telah mengatur kebijakan-kebijakan yang harus dijalankan oleh manusia,hal tersebut untuk mencegah manusia itu sendiri terhindar dari kebinasaan-kebinasaanya.

Namun,apa yang terjadi manusia itu lalai dan merugi,kibinasaan-kebinasaan yang terjadi mereka sendiri yang menciptakanya.Hal tersebut bisa kita lihat dari contoh yang tedapat di sekeliling kita,seperti penebangan pohon tanpa menanam penganti,buang sampah sembarangan,penggerukan secara illegal dsb.

Nah,apa yang terjadi dari perbuatan tersebut bisa terlihat secara nyata beberapa bulan yang lalu,lebih tepatnya 26 November 2025,banjir bandang datang secara tiba-tiba yang beda  tipis dengan tsunami di tahun 2004 yang kebanyakan melanda pesisir Aceh,nah hal hampir serupa melanda kembali dalam bentuk banjie bandang,sehingga  beberapa  wilayah berdampak dan terdampak banjir tersebut,akibatnya lebih kurang 16 kabupaten /kota yang ada di Aceh hampir serentak menjadi luluh lantak oleh ulahnya.

Bencana yang Maha dasyat,untung saja terjadi di pagi hari,nauzubillah tak bisa dibayangkan bila terjadinya malam hari,kemungkinan banyak anak-anak yang yatim atau piatu,bahkan bisa jadi yatim piatu dan tak ayal lagi banyak ibu atau ayah akan kehilangan buah hatinya.Mereka bukan hanya kehilangan cinta mereka,akan tetapi harta benda ikut serta ,walaupun antara satu orang dengan lainya kadarnya berbeda—beda.

Takdir sudah terjadi,sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kita harus ikhlas dan rela atas segala yang telah terjadi,karena hal tersebut tak akan terjadi tanpa seizing-Nya.Tak perlu berkeluh kesah terimalah atas kelalaian dan kekhilafan dengan berlapang dada,bagi yang mempunyai andil terhadap bencana yang telah muncul introspekdiri dan segera benahi,serta mencari solusi atas apa yang telah disebabkan baik secara langsung maupun tak langsung,jangan merasa tak bersalah,serta mengkambinghitamkan alam,bila kesalahan itu  murni terletak  pada manusia itu sendiri.

Heum….setiap musibah pasti ada hikmah di baliknya,bisa jadi bagi mereka yang belum memiliki rumah akan diberikan rumah,dan bisa jadi yang telah memiliki,akan kehilangan sebagian yang mereka miliki,dan bisa jadi yang tidak memiliki berkesempatan memperoleh kesempatan di dalam kesempitan,tak ada yang bisa menjangkau ketentuan-ketentuan yang telah tertulis di lauhmahfudz.

Berbicara mengenai hikmah,mari kita perhatikan kebijakan-kebijakan yang telah ditentukan oleh pemerintah untuk menangulangi bencana tersebut,walau sampai saat ini sangat terkesan  serba semraut,kurang jelas katagori-katagori yang telah ditentukan,atau pelaksaan yang kurang pemahaman dan penafsiran-penafsiranya,sehingga masyarakat kebanyakan terombang- ambing  terhaap keadaan dan isu yang berkembang,transparasi yang serba minim,menyebabkan mereka gundah gulana.

Mengapa musti gundah?bukankah setiap kabupaten/kota memiliki aparatur-aparaturnya?heum…tentu saja ,akan tetapi bagaimana pelaksaan di lapangan jauh dari harapan,di saat mereka percaya atas pilihan-pilihan mereka dan terlena atas kemanisan tingkah laku,di sanalah mereka telah terlena yang hasil pada akhirnya rasa kecewa bermunculan di saat lembaran-lembaran kertas yang ratusan serta berisi ribuan bahkan puluh ribuan data  mereka telesuri dari satu baris ke baris berikutnya nama mereka tak tertera di sana,kepanikan melanda,berbagai pertanyaan bermunculan,dan terkakadang mereka tak menemukan jawaban sama sekali.

Mereka mulai mempertanyakan bagaimana pendataan-pendataan yang petugas lakukan di lapangan baik mengenai  rumah rusak berat,sedang dan ringan,dan isi hunian yang telah hancur tak bisa terpakai lagi,atau mereka sebagai petugas pukul rata terhadap kehilangan harta benda,besar keecil,entah bagaimana konsep yang dijalankan,tak pernah tersosialisasikan,dan hanya orang-orang terdekat mereka yang mengerti ap yang harus dillakukan,agar bantuan mereka dapatkan,disini sudah terlihatkah keadilan,padahal dalam butir pancasila di pasl ke-5 jelas-jelas tercamtum’Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’.

Padahal pemerintah melaui kementrianya telah memutuskan bantuan uang stimulanlah,rehab,jadub dan sebainya ,walaupun sampai saat ini belum ada yang disalurkan,dan terus membuat masyarakat ngambang dengan berbagai polemiknya,contohnya dalam hal yang akan menerima berbagai bantuan siapa sih yang rusak berat,ringan dan sedang,serta berapa kisaran bantuanya,masyarakat gamang dalam kesusahanya,harta habis,sosialisasi bantuan tidak ada,yang lebih fatal lagi bagi kaum awam,mereka meraba-raba dalam keterbatasannya.

Yah,bagi mereka yang melek IT,mungkin ada gambaran,walau pada akhirnya gamang sendiri,banyak komunitas,tapi tidak ada yang jelas tentang kegamangan mereka,yang lebih miris lagi,bantuan pemerintah yang akan diberikan terkadang antara yang berimbas dengan terimbas lebih banyak dirugikan yang berimbas.Mengapa demikian?mereka sendiri yang bisa menawabnya,di sinilah muncul permasalahan baru,antara yang berdampak dengan terdampak saja bisa berbda,bagaimana mungkin?ya mungkin saja,jawabannya bisa terlihat dari data yang dikeluarkan dalam suatu SK keputusan.

Adakah keadilan?keadilan itu ada di hari pembalasan,segala sesuatu kurang transparan,ketransparan terlihat jika sudah berbasis data,lalu muncullah beragam pertanyaan,”Mengapa SI A dan Si B ada ya?,lalu mereka analisis sendiri,oh karena A dan B ada si C,lalu mengapa yang berdampak dan terdampak sama?bahkan mereka tidak memiliki rumah,malah dapat rumah,ooooo itu rezeki mereka.Nah,adakah keadilanya,padahal sudah jelas dalam ayat di atas harus adil.

Masyarakat terus berharap dari ke hari dari bulan ke bulan,oh mungkin pada tahap pertama mungkin  akan tertera nama mereka mungkin  juga pada tahap berikutnya,terus mereka pupuk pengharapan-pegharapan yang tidak jelas pangkal dan ujungnya.Sungguh sangat disayangkan,penantian yang begitu panjang,menjadi bumerang yang tak berkesudahan.Meminta maaf mudah,tetapi luka yang ditimbulkan oleh hantaman pengharapan tak akan pernah sirn,oleh karena itu obati kepenatan mereka dengan bukti menemukan solusi atau dengan kata lain kalau memang mereka berhak kenapa tidak,yang minim hak saja bisa dua kali lipat,bagaimana yang berhak tak sekalipun,’Berbuatlah bijak,di saat ada kesempatan,umur tidak ada yang tau’.