Kabarnanggroe.com, Banda Aceh— Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (Diskopukmdag) Kota Banda Aceh terus memperkuat upaya pembinaan dan pengawasan terhadap koperasi, khususnya Koperasi Simpan Pinjam (KSP), sebagai bagian dari strategi meningkatkan kualitas kelembagaan dan daya saing koperasi di tengah perkembangan ekonomi yang semakin kompetitif.
Kepala Diskopukmdag Kota Banda Aceh, Bukhari Sufi, S.Sos., M.Si, Jumat (10/7/2026), mengatakan evaluasi terhadap kinerja KSP menjadi langkah penting untuk memastikan koperasi berjalan secara sehat, transparan, serta mampu memberikan pelayanan terbaik kepada para anggotanya.
Menurutnya, koperasi tidak hanya dituntut untuk mampu bertahan dalam persaingan ekonomi, tetapi juga harus terus beradaptasi dengan perubahan zaman, termasuk dalam pengelolaan manajemen, pelayanan anggota, hingga pemanfaatan teknologi dalam operasional koperasi.
“Evaluasi kinerja KSP dilakukan untuk melihat sejauh mana koperasi mampu menjalankan tata kelola yang baik, memenuhi kewajiban administrasi, serta memberikan manfaat nyata bagi anggota,” ujar Bukhari.
Ia menjelaskan, aspek yang menjadi perhatian dalam evaluasi antara lain kelengkapan administrasi kelembagaan, laporan keuangan, kepatuhan terhadap aturan perkoperasian, kualitas pelayanan, serta efektivitas pengelolaan usaha koperasi.
Melalui evaluasi tersebut, Diskopukmdag Banda Aceh dapat memetakan kondisi koperasi, baik yang sudah berkembang maupun yang masih membutuhkan pendampingan dan pembinaan lebih lanjut.
Bukhari menambahkan, koperasi yang sehat dan profesional akan memiliki peran strategis dalam memperkuat perekonomian masyarakat. Terutama dalam memberikan akses pembiayaan yang mudah dan terjangkau bagi anggota serta pelaku usaha kecil.
“KSP harus mampu menjaga kepercayaan anggota. Kepercayaan menjadi modal utama koperasi agar terus tumbuh dan berkembang,” katanya.
Selain melakukan evaluasi, Diskopukmdag Kota Banda Aceh juga terus mendorong peningkatan kapasitas pengurus dan pengelola koperasi melalui berbagai kegiatan pembinaan, pelatihan, serta pendampingan teknis.
Upaya tersebut dilakukan agar pengelola koperasi memiliki kemampuan dalam mengelola organisasi secara profesional, memahami regulasi yang berlaku, serta mampu menciptakan inovasi layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Di era digital saat ini, koperasi juga dituntut untuk meningkatkan efisiensi melalui penggunaan teknologi informasi. Digitalisasi koperasi dinilai dapat membantu mempercepat pelayanan, meningkatkan akurasi pencatatan administrasi, dan memperkuat sistem pengawasan internal.
“Transformasi koperasi menjadi lebih modern dan profesional merupakan kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Dengan pengelolaan yang baik, koperasi akan semakin kuat dan memiliki daya saing tinggi,” ungkap Bukhari.
Diskopukmdag Banda Aceh berharap seluruh KSP di wilayah tersebut dapat terus meningkatkan kinerja, memperbaiki tata kelola, serta berkomitmen menjalankan prinsip-prinsip koperasi sesuai aturan yang berlaku.
Dengan pengawasan dan evaluasi yang berkelanjutan, koperasi diharapkan tidak hanya menjadi lembaga ekonomi bagi anggota, tetapi juga mampu menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat Kota Banda Aceh.(Adv)
