Kabarnanggroe.com, Jakarta – Setelah bertahan melewati ujian waktu selama 50 juta tahun, gunung tertinggi di dunia terancam oleh sumber yang tak terduga, air kencing manusia.
Menurut sebuah studi a-thaw-calyptic (kiamat akibat pencairan es) yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Regional Environmental Change, urin yang mengendap di gletser cukup untuk mencairkan lebih dari 150 ton es dan salju di Gunung Everest setiap tahunnya.
“Urine, dengan suhu sekitar 37 derajat Celcius (suhu tubuh manusia), menyebabkan es mencair,” tulis para peneliti studi tersebut, dikutip dari New York Post, Rabu (23/9/2026).
Tim ilmuwan internasional mempelajari Gletser Khumbu, lokasi perkemahan dasar Everest di sisi Nepal gunung tersebut. Ratusan orang berkumpul di sana setiap tahun sebelum mencoba mendaki puncak keajaiban setinggi 8.848 mdpl itu.
Kerumunan orang ini telah mengubah puncak yang megah ini menjadi kota tenda ala ‘Burning Man’ yang menghasilkan kebisingan yang mengganggu, tumpukan sampah setinggi Himalaya, dan tentu saja, gunung-gunung kotoran manusia.
Meskipun sejak 2024 para pendaki diwajibkan untuk membawa kotoran mereka ke dalam kantong, masih banyak para pendaki yang buang air besar langsung di atas es. Para peneliti memfokuskan perhatian pada musim semi tahun 2023, ketika sekitar 2.000 orang tiba di base camp, yang terletak sekitar 5.473 mdpl.
Menurut perhitungan mereka, air kencing yang dihasilkan oleh para pendaki yang antusias tersebut berjumlah sekitar 3.181 liter atau 0,8 galon per orang. Itu berarti dalam perjalanan selama 50 hari, total kebocoran mencapai 338.299 liter atau lebih dari 89.000 galon.
Para peneliti memperkirakan bahwa panas dari buang air kecil dapat mencairkan sekitar 154 ton es dalam satu musim. Jika digabungkan dengan ribuan galon gas yang digunakan untuk pemanasan dan memasak, angka tersebut melonjak menjadi 2.492 ton, cukup untuk mengisi kolam renang ukuran Olimpiade.
“Meningkatnya jumlah pendaki, pejalan kaki, dan staf pendukung, khususnya di area perkemahan, telah memperparah dampak lingkungan pada Gletser Khumbu,” tulis para peneliti.
Ada satu catatan penting terkait teori efek tetesan ini, perhitungan tersebut mengasumsikan bahwa semua panas dari air kencing manusia berpindah ke es, yang mungkin tidak benar.
“Perkiraan ini kemungkinan merupakan batas atas, karena tidak memperhitungkan kehilangan panas melalui perkolasi ke dalam puing-puing, limpasan, transfer panas yang tidak sempurna, atau proses disipatif lainnya yang sulit diukur dalam kondisi lapangan,” tulis tim tersebut.
Meskipun demikian, para ilmuwan menyerukan agar Base Camp Everest dipindahkan ke tempat yang lebih kering dengan potensi pencairan yang lebih rendah.
“Memindahkan perkemahan utama ke lokasi yang bebas es dapat membantu mengurangi pencairan gletser akibat aktivitas manusia sekaligus mendorong praktik pendakian gunung yang lebih berkelanjutan,” tulis mereka.
“Jika diterapkan, relokasi dapat mengurangi tekanan pada Air Terjun Es Khumbu, meningkatkan keselamatan ekspedisi, dan berkontribusi pada ekosistem pegunungan yang lebih tangguh,” tambah para peneliti.
Sayangnya, Everest terancam bukan hanya oleh para pendaki gunung yang membuat air. Menurut National Geographic, wilayah tersebut dilaporkan dipenuhi dengan lebih dari 50 ton sampah, sehingga mendapat julukan tempat pembuangan sampah tertinggi di dunia.
Tahun lalu, Nepal bahkan menghentikan skema agar para petualang Everest membawa sampah mereka sendiri untuk mendapatkan uang setelah skema tersebut gagal menunjukkan hasil yang nyata.
Sebagian masalahnya adalah para pendaki hanya mengangkut kembali sampah dari perkemahan yang lebih rendah dan bukan dari lereng yang lebih tinggi, tempat volume sampah paling banyak ditemukan.(Muh/*)
