Kabarnanggroe.com, Banda Aceh — Sejumlah tokoh dan pelaku sepak bola Aceh mendatangi Kantor Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh, di Komplek Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Rabu (26/8/2026). Mereka menyampaikan aspirasi agar Kongres Biasa Pemilihan Asprov PSSI Aceh 2026 yang dijadwalkan pada 3 Oktober mendatang ditunda.
Para tokoh yang hadir di antaranya legenda Persiraja Nasir Gurumud dan Zulkifli Alfat, Anggota Exco PSSI Aceh Keusyik Muslem, Ridwan Salam, Ade Zulfadli, Tarmizi Rasyid, perwakilan klub Syech Muliadi, Suhendar, Zahirsyah Oemardy, M Zaini Yusuf, T Jamal Muku, serta belasan pelaku sepak bola lainnya.
Rombongan diterima Ketua Harian KONI Aceh Kennedi Husen, Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi T Rayuan Sukma, dan Sekretaris Umum KONI Aceh Akhyar ST.
Dalam pertemuan tersebut, Anggota Exco PSSI Aceh Keuchik Muslim SE, Exco Asprov PSSI Aceh mengungkapkan sejumlah persoalan dalam tata kelola organisasi PSSI Aceh. Menurutnya, roda organisasi tidak berjalan sebagaimana mestinya karena sejumlah anggota Exco tidak dilibatkan dalam rapat-rapat penting. “Banyak rapat penting Exco tidak pernah diundang,” ujar Muslem.

Mantan Ketua Askab PSSI Aceh Besar itu mencontohkan proses persiapan Kongres Biasa Pemilihan PSSI Aceh periode 2026-2030. Ia mengaku tidak pernah dilibatkan dalam rapat yang membahas agenda tersebut.
Menurutnya, surat PSSI Aceh kepada PSSI Pusat bernomor 077/PSSI-ACEH/VIII/2026 telah memuat seluruh tahapan pelaksanaan kongres, termasuk pendaftaran bakal calon Ketua PSSI Aceh. “Namun, ketika dirinya hendak mendaftar sesuai jadwal yang ditetapkan, sekretariat tidak membuka pelayanan. Ini bukti nya mereka tak becus mengelola PSSI Aceh ini,” terang Keuchik Muslim.
Muslim menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius dan meminta KONI Aceh menjadi jembatan untuk menyelesaikan persoalan internal PSSI Aceh. Sehingga masyarakat, khususnya masyarakat sepakbola. “Keterlibatan KONI Aceh penting disini agar kepercayaan masyarakat bola terhadap Asprov PSSI Aceh tak padam,” ujarnya,
Mantan Anggota DPRK Aceh Besar dari Fraksi Partai Aceh juga menyinggung sejumlah persoalan lain, termasuk tidak dilibatkannya enam anggota Exco dalam sejumlah urusan organisasi, seperti persiapan Liga 4 dan proses surat-menyurat.
“Bukan hanya menjelang kongres. Dalam urusan PSSI, apakah menjelang Liga 4, surat-menyurat, kami enam orang Exco tidak pernah dilibatkan,” katanya.
Muslim juga mempertanyakan pembayaran honor wasit yang menurutnya masih bermasalah. Selain itu, ia meminta transparansi terkait penggunaan anggaran PSSI Aceh, termasuk dana Liga 4, liga Soeratin dan bantuan dari PSSI Pusat.
“Contohnya Liga 4, satu klub Rp10 juta, kemudian ada bantuan PSSI Pusat Rp500 juta. Kami mempertanyakan ke mana dana itu sekarang,” ujarnya.

Ia juga meminta agar pelaksanaan kongres ditunda dan kepengurusan PSSI Aceh terlebih dahulu ditangani melalui mekanisme pelaksana tugas (Plt).
Menurut Muslim masa kepengurusan PSSI Aceh akan berakhir pada 20 Oktober 2026. Karena itu, ia meminta ada ruang bagi Askab dan Askot PSSI se-Aceh untuk mempersiapkan proses kongres secara lebih terbuka.
“Kami meminta kongres jangan dilaksanakan dulu dan di-Plt-kan dulu, apakah dari pusat atau dari KONI Aceh. Ini untuk memberi ruang kepada Askab dan Askot,” katanya.
Muslim juga mengungkapkan adanya dugaan tekanan dalam proses organisasi. Ia mengaku pernah mendengar pernyataan, “Kalau tidak membantu saya, tidak akan saya berikan SK.”
Sementara itu, T Jamal Muku menegaskan perlunya reformasi dalam tubuh PSSI Aceh. Ia berharap organisasi sepak bola Aceh dikelola secara terbuka dan tidak berjalan secara diktator.
“PSSI Aceh harus direformasi, tidak boleh diktator. Ke depan, yang memimpin PSSI Aceh harus ahli sepak bola dan mengerti sepak bola,” tegasnya.
Mantan Exco PSSI Aceh, Ade Zulfadli, juga menyampaikan hal senada. Presiden Persip Pase tersebut mengaku melihat sejumlah kejanggalan dalam pengelolaan organisasi.
“Saya berharap KONI Aceh menjadi jembatan kami untuk membenahi organisasi PSSI Aceh. Pemangku kepentingan harus segera turun tangan demi sepak bola Aceh yang lebih baik di masa depan,” tutur Ade.
Pernyataan tersebut turut dibenarkan sejumlah tokoh sepak bola lainnya, termasuk Zaini Yusuf dan Syech Muliadi.
Menanggapi aspirasi tersebut, pimpinan KONI Aceh menyatakan akan menampung seluruh keluhan yang disampaikan para stakeholder sepak bola Aceh dan menindaklanjutinya sesuai mekanisme yang berlaku.
KONI Aceh menegaskan tidak memiliki kapasitas untuk mengintervensi PSSI karena organisasi tersebut memiliki statuta sendiri.
Namun, KONI Aceh berharap seluruh tahapan Kongres PSSI Aceh dapat berlangsung secara terbuka dan diketahui publik. Proses tersebut juga diminta berjalan sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku.
“Yang paling penting, semua proses itu harus berjalan sesuai aturannya,” ujar Ketua Harian KONI Aceh Kennedi Husen, diamini T Rayuan Sukma dan Akhyar ST.(Hadi)






