Kabarnanggroe.com, Sabang – Rumah Pangan Aceh mengembangkan model kemandirian pangan berbasis komunitas dengan memperkuat kemitraan antara petani lokal dan masyarakat.
Program tersebut bertujuan meningkatkan akses terhadap pangan sehat sekaligus memperluas pasar bagi hasil pertanian lokal.
Program Manajer Rumah Pangan Aceh, Zahlul Nugraha Meutuah, S.P.W.K., mengatakan organisasinya memiliki sejumlah program yang berfokus pada dukungan terhadap petani lokal, pengurangan sisa pangan, edukasi ketahanan pangan, hingga bantuan pangan saat bencana.
“Ketahanan pangan bukan hanya berbicara soal ketersediaan pangan, tetapi juga bagaimana masyarakat mendapatkan akses terhadap pangan yang sehat, petani memperoleh penghidupan yang layak, dan ekosistem pangan lokal terus berkelanjutan,” kata Zahlul dalam Dialog Beranda Asta Cita Ekonomi Kreatif RRI Banda Aceh, kemarin.
Ia menjelaskan, Rumah Pangan Aceh telah bermitra dengan sekitar 140 petani di berbagai daerah di Aceh.
Organisasi tersebut mendampingi petani mulai dari proses budidaya, penggunaan pupuk organik, hingga membantu akses pemasaran melalui hotel, restoran, kafe, dan konsumen secara langsung.
Salah satu inovasi yang dijalankan adalah konsep Community Supported Agriculture (CSA).
Melalui program ini, masyarakat dapat berlangganan hasil panen petani lokal yang dikirim setiap pekan sekaligus mengetahui asal-usul produk yang dikonsumsi.
“Posisinya masyarakat menjadi subscriber petani lokal. Setiap panen, paket sayuran akan diantarkan kepada pelanggan sehingga masyarakat mengetahui dari mana asal pangan yang mereka konsumsi,” ujarnya.
Selain itu, Rumah Pangan Aceh juga mengembangkan program Harvest Tour yang mengajak masyarakat mengunjungi kebun mitra untuk belajar budidaya tanaman sekaligus memanen hasil pertanian secara langsung.
Program tersebut diharapkan mampu mendekatkan masyarakat dengan petani serta meningkatkan apresiasi terhadap produk pangan lokal.(Muh/*)






