Kabarnanggroe.com, Aceh Utara — Kecamatan Sawang menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah akibat bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada 26 November 2025 lalu. Tingginya intensitas hujan menyebabkan luapan sungai yang merendam permukiman warga hingga ketinggian air dilaporkan mencapai lebih dari tiga meter.
Berdasarkan data Kantor Kecamatan Sawang, sedikitnya 267 unit rumah warga hilang terseret arus banjir, belum termasuk rumah yang mengalami kerusakan berat, sedang, maupun ringan. Bencana tersebut juga menelan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan lingkungan yang sangat luas.
Camat Sawang, Mazinuddin, menyampaikan bahwa banjir menerjang sebanyak 39 gampong dengan kedalaman air yang bervariasi.
“Ketinggian air berbeda-beda, mulai dari dua meter hingga mencapai tujuh meter di sejumlah titik,” kata Mazinuddin kepada RRI Lhokseumawe, Selasa (23/12/2025).
Akibat terjangan banjir dan longsor, satu dusun dilaporkan lenyap total, yakni Dusun Lhok Pungki di Gampong Gunci. Selain itu, separuh wilayah Gampong Riseh Teungoh, Riseh Baroh, serta sebagian besar Gampong Sawang juga dilaporkan hilang tak bersisa. Hingga hari ke-23 pascabencana, tercatat tujuh warga meninggal dunia, sementara dua lainnya masih dalam pencarian.
Tidak hanya merusak permukiman, banjir juga meluluhlantakkan lahan pertanian dan perkebunan milik masyarakat. Tanaman produktif, khususnya kebun durian yang selama ini menjadi andalan ekonomi warga Sawang, turut terdampak parah. Kondisi ini diperkirakan akan berdampak panjang terhadap produktivitas durian di wilayah tersebut.
Seorang relawan di Kecamatan Sawang, Rully Xabian, yang sebelumnya viral melalui unggahan terkait hilangnya area pemakaman akibat banjir, kembali melaporkan ancaman serius terhadap perkebunan durian warga. Menurutnya, setelah lebih dari tiga pekan terendam banjir, banyak pohon durian mulai mati.
“Saya melihat langsung di Gampong Babah Krueng. Dari pinggir jalan sudah tampak jelas pohon-pohon durian mati, daunnya rontok. Bahkan ada kebun yang sudah hanyut terbawa arus,” ujar Rully kepada RRI sambil memperlihatkan rekaman video dari ponselnya.
Ia menambahkan, kebun durian masyarakat tersebar di sejumlah gampong dengan luas yang cukup besar. Setiap desa rata-rata memiliki kebun durian seluas satu hingga dua hektare, bahkan ada yang mencapai beberapa hektare.
Saat ini, pihak Kecamatan Sawang masih melakukan pendataan terhadap tingkat kerusakan lahan perkebunan warga. Meski demikian, terdapat sebagian kecil kebun durian yang dilaporkan selamat dari terjangan banjir dengan luas sekitar tiga hektare.






