Kabarnanggroe.com, Kota Jantho – Inovasi berbasis multimedia menjadi langkah baru dalam menghidupkan kembali teater seni tutur Aceh yang kini digarap oleh Sanggar Seueng Samlakoe melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Inovasi Seni Nusantara (PISN) ISBI Aceh. Program kreatif ini menghadirkan transformasi digital dalam penyajian seni tutur, sehingga tradisi lisan Aceh mampu tampil relevan di era teknologi.
Program yang diketuai Benni Andika, M.Sn tersebut menghadirkan pelatihan intensif penggunaan teknologi panggung, audio, pencahayaan, perekaman, hingga publikasi digital di berbagai platform media sosial. Benni menegaskan bahwa pengembangan tidak hanya berfokus pada pelestarian tradisi.
“Tujuan kami bukan hanya melestarikan, tetapi juga membuka ruang inovasi bagi anak-anak muda Aceh agar mereka dapat menjadikan seni tutur sebagai peluang ekonomi kreatif yang baru,” ujarnya, di Aceh Besar, Jumat (21/11/2025).

Sanggar Seueng Samlakoe yang berdiri sejak 1980 di bawah pimpinan Syeh Medya Husen, selama ini menjadi pusat pelahir seniman tutur tradisional. Namun, sanggar menghadapi tantangan keterbatasan teknologi, minimnya inovasi panggung, serta lemahnya promosi. Melalui program PISN, tim ISBI Aceh memberikan pelatihan penyutradaraan multimedia, teknik audio dan editing, workshop naskah digital, hingga simulasi pertunjukan teater multimedia.
“Tantangan terbesar selama ini adalah minimnya teknologi dan keterbatasan inovasi panggung, sehingga perlu dikembangkan dengan pendekatan multimedia dalam penyajiannya,” sebut Benni.
Program tersebut didampingi oleh para dosen Fitra Airiansyah, M.Sn; Anni Kholillah, M.Sn; Al Bahri, ST., MT serta mahasiswa Nanda Muslian, Muthi Musyaffa, dan Nazwa Aurora Daulay yang berperan sebagai teknisi dan asisten pelatihan. Hasil awal menunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan peserta dalam menguasai alat digital, dengan progres program telah mencapai 30%.
Melalui pelatihan tersebut, mulai terlihat bentuk eksperimen pertunjukan modern, seperti penggunaan audio kreatif, desain panggung interaktif, hingga dokumentasi profesional untuk publikasi digital. Program juga mendorong terbentuknya unit produksi multimedia serta rencana event rutin sebagai upaya menjadikan sanggar sebagai pusat ekonomi kreatif berbasis seni tutur.
Didukung oleh Kemendiktisaintek melalui Program BIMA – Inovasi Seni Nusantara, ISBI Aceh, dan LPPM ISBI Aceh, program ini diharapkan menjadi model revitalisasi seni tradisional yang mampu tetap berakar pada nilai budaya, tetapi mengikuti perkembangan teknologi yang terus berkembang.
“Kita berharap dengan adanya program ini dapat menjadi model revitalisasi seni tradisional yang tetap berakar pada budaya, namun mengikuti perkembangan teknologi yang terus berkembang,” pungkas Benni Andika.(Cboy)






