Wasit Sepak Bola Aceh Minta PSSI Naikkan Honor, Harga Barang Pada Naik

Wasit sepak bola Aceh, Muchlish duduk di pinggir lapangan PS Lubuk, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Selasa (13/5/2025) pagi. FOTO/MUHAMMAD NUR

Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Salah seorang wasit Aceh yang telah lama melalanglintang di tanah air meminta PSSI Aceh yang menjadi naungan mereka untuk menaikkan honor jerih payah saat memimpin pertandingan di lapangan.

Wasit itu yang telah pensiun di Liga 1 Indonesia, bernama Muchlish, kini kembali ke kampung halaman untuk menjadi pengadil di lapangan sepak bola dalam laga resmi yang diakui PSSI Aceh dan kabupaten/kota.

“Dengan kenaikan harga barang, khususnya sembako, honor kami sebagai wasit sudah sewajarnya juga naik,” katanya saat melihat latihan pemain sepak bola Pra PORA Aceh Besar di Lapangan PS Lubuk, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, Selasa (13/5/2025) pagi.

“Kami juga manusia yang membutuhkan biaya sehari-hari untuk keluarga, sehingga bisa dibawa pulang untuk anak-anak dan istri,” ujarnya. Dia mengakui honor yang diterima saat ini sudah tidak memadai lagi, apalagi dengan kondisi barang-barang kebutuhan sehari-hari terus mengalami kenaikan.

Dia berharap PSSI Aceh dapat menaikkan segera honor wasit dan asisten wasit, sehingga kesejahteraan para pengadil di lapangan sepak bola ini akan membaik. Muchlish menyatakan dengan kompetisi semakin banyak di Banda Aceh dan Aceh Besar, walau dalam bentuk laga tarkam, hak pengadil harus diperhatikan.

“Alhamdulillah, jika honor wasit naik menjadi Rp 1 juta dan asisten wasit Rp 750 ribu per pertandingan,” harapnya. Disebutkan, kesejahteraan wasit meningkat, maka keadilan dalam lapangan juga akan semakin baik.

Dia juga mengungkapkan dengan permainan sepak bola semakin modern, kejelian wasit dalam membuat sebuah keputusan sangat menentukan, baik atau buruknya sebuah pertandingan.

“Kami harus bisa menentukan sebuah keputusan secara cepat dan tepat, hanya dalam waktu empat detik dan keputusan itu mutlak, walau ada protes secara wajar dari pemain,” katanya.

Tetapi ada satu hal yang harus diingat, wasit juga bukan manusia sempurna, sehingga saat ini ada teknologi VAR untuk membantu wasit menetapkan sebuah keputusan secara tepat.

Dia mengakui untuk laga tarkam atau laga resmi tingkat kabupaten/kota dan juga provinsi, teknologi VAR belum digunakan, sehingga semuanya berdasarkan penglihatan wasit dibantu asisten 1 dan 2 yang menjadi hakim garis lapangan.

Perihal mafia sepak bola di Indonesia, Muchlish menyatakan tidak pernah menemukan selama bertugas di Liga nasional. Tetapi, dia mengungkapkan pernah diperiksa oleh tim Satgas Anti Mafia Bola di Palangkaraya, Kalimantan Tengah pada 2019 lalu.

Hal itu terkait, dugaan kemenangan Kalteng Putra atas Persela Lamongan dalam laga lanjutan Shopee Liga 1 2019 di Stadion Tuah Pahoe, Minggu (27/10/2019). Klub besutan Wesley Gomes de Olivera itu menang dengan skor 2-0 berkat aksi Eydison dan Rafael Bonfim.

Tim Anti Mafia Bola Indonesia memeriksa perangkat pertandingan sebanyak sembilan orang, salah satunya Muchlish yang menjadi asisten 1 wasit. Dari 9 orang yang ditangkap dan digiring ke kantor Ditreskrimum Polda Kalteng, 6 orang merupakan perangkat pertandingan dan tiga lainnya manajemen klub.

Dikatakan, saat berada di hotel untuk bersiap-siap ke bandara pada pukul 04.00 WIB, tiba-tiba datang sejumlah petugas berseragam. “Saya sempat menyebut kami wasit, tetapi mereka tetap bersikeras untuk membawa kami untuk diperiksa,” tambahnya.

“Saya menanyakan surat tugas dan tim tersebut memperlihatkan suratnya, sehingga akhirnya kami dibawa untuk diperiksa,” tambahnya. “Saya bersama tim wasit diperiksa selama 20 jam,” ungkapnya.

Ditambahkan, seusai pemeriksaan, mereka semua dilepas karena tidak ada bukti menerima suap. Apalagi, katanya, uang di rekening mereka merupakan honor memimpin pertandingan.

“Saya tidak takut sama sekali, karena memang tidak bersalah,” ujarnya. Dia menyatakan para petugas keheranan melihat dirinya tenang saja, padahal sedang diperiksa, sehingga muncul pertanyaan dari petugas.

“Anda dari mana,” tanya petugas. “Saya jawab dari Aceh,” katanya. Petugas pun langsung mengakui warga Aceh sudah biasa berhadapan dengan polisi dan tentara selama konflik.

Namun, Muchlish menimpali bukan itu persoalannya, melainkan karena tidak bersalah, sehingga tidak perlu dikhawatirkan. “Untuk apa takut, kalau memang tidak bersalah,” tambahnya.

Dikatakan, itu menjadi pengalaman pertama dan terakhirnya diperiksa oleh polisi terkait dugaan suap dari mafia sepak bola. Pria ramah senyum ini yang bertugas sebagai asisten 1 wasit di Liga nasional mengatakan tidak pernah ditemuinya match fixing untuk sebuah pertandingan.

“Mafia sepak bola itu seperti hantu, tidak bisa dilihat dengan kasat mata,” ujarnya. Sedangkan untuk Aceh, katanya, tidak ada gelagat seperti itu, karena masih murni pertandingan sepak bola, tanpa embel-embel lain, seperti judi atau lainnya.

Muchlish yang ternyata juga memahami sejarah persepakbolaan Aceh sempat mengulas balik sejumlah pemain Aceh yang dilirik klub sepak bola luar negeri. Dia mencontohkan, seperti almarhum Irwansyah yang sempat dilirik klub Arab Saudi, Al Hilal tetapi ditolaknya.

Demikian juga dengan Dahlan Jalil yang sempat mengikuti pelatihan selama enam bulan di klub sepak bola Perancis, Marseille sebelum kembali pulang ke Aceh. “Kita pernah punya pemain sepak bola berbakat, tetapi tidak berani keluar,” ujarnya.(Muh)