Sulitnya Mengelola Sebuah Klub Sepak Bola, Ini Faktanya

Plt Ketua Umum PSAB Aceh Besar, Mariadi ST MM didampingi Manajer Wahyu 'Al Yunirun" dan Sekretaris Yahpi atau Syahrizal membahas berbagai hal tentang perjalanan PSAB di sebuah warung kopi Lamreung, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Minggu (10/5/2025) pagi. FOTO/MUHAMMAD NUR

Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Dalam mengelola klub sepak bola sebuah kabupaten tidaklah mudah, harus melalui jalan berliku dan panjang, bahkan muncul pro-kontra.

Tidak ada jalan mulus, tetapi semuanya harus dimulai dari perjuangan keras dan ketulusan hati untuk membangun sebuah skuat sepak bola yang harus ditangani pelatih berkualitas.

Ketiadaan modal pendukung atau tidak mencukupi selalu menghantui klub sepak bola, bahkan sampai tingkat Liga Indonesia. Apalagi, tingkat lokal, tentunya lebih carut-marut dengan banyak kepentingan di dalamnya.

Hal itu bisa dilihat dari industri sepak bola Indonesia yang menghadapi tantangan finansial serius, bahkan bagi klub-klub besar di Liga 1. Presiden Borneo FC, Nabil Husein Said Amin, baru-baru ini mengungkapkan secara blak-blakan klub yang dipimpinnya mengalami kerugian yang signifikan.

Dalam pernyataannya di kanal YouTube Sport77 Official, Nabil mengungkapkan realitas pahit mengelola klub sepak bola di Indonesia yang tidak memberikan keuntungan seperti yang ia bayangkan.

“Tim lain sih saya enggak tahu, kalau saya buntung. Bukan untung, tambahi b, buntung,” ungkap Nabil, menegaskan kesulitan yang dialami klubnya pada Senin (6/1/2025).

Dia juga mengkritik perbedaan antara pengelolaan klub di dunia nyata dan simulasi permainan seperti Football Manager. “Di FM, tahun pertama bisa untung. Di sini, buntung. Kita bingung kenapa tidak ada perubahan. Kami harus menemukan formula baru; industri olahraga harus terus berjalan,” lanjutnya.

Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Teddy Tjahjono, mantan Direktur Utama PT Persib Bandung Bermartabat (PT PBB). Dalam Podcast Sport77 Official pada 2023, Teddy menyatakan bahwa industri sepak bola di Indonesia tidak menguntungkan.

“Saat ini, saya rasa tidak ada klub Indonesia yang profitable. Tantangannya besar untuk menjalankan dan mengelola klub. Biaya operasional tetap merugi,” ujarnya.

Teddy menjelaskan ada empat sumber pendapatan utama klub: sponsor, penjualan merchandise, hak siar, dan tiket pertandingan. Namun, keempat elemen ini tidak cukup untuk menutup biaya operasional klub selama satu musim kompetisi.

Dengan tantangan finansial yang terus menghantui, klub-klub sepak bola Indonesia harus berinovasi dan beradaptasi agar bisa bertahan dan berkembang di tengah situasi yang sulit ini.

Tentunya, untuk klub lokal Aceh, seperti PSAB Aceh Besar yang dikomandoi oleh Plt Ketua Umum Mariadi ST MM terus mengalami pasang surut dalam mengelola klub kebanggaan rakyat Aceh Besar ini.

Dengan keuangan pas-pasan, dia terus memberi harapan kepada pemain PSAB untuk dapat terus berlaga sampai tingkat nasional, walau hasil tidak sesuai harapan, minimal membawa nama Aceh Besar semakin dikenal di nusantara.

Dalam urusan promosi, olah raga paling digemari sejagat, sepak bola memberi nilai plus saat berjuang di negeri orang untuk menghadapi laga yang diikuti seluruh provinsi di Indonesia.

Tentunya, dalam fase grup, banyak nama klub yang belum terdengar, tetapi begitu diumumkan PSSI, maka orang ramai-ramai mencari di Google, untuk mengetahui lebih rinci daerah tersebut.

Begitu juga dengan PSAB Aceh Besar, sehingga sebenarnya tidaklah rugi bagi satu daerah membantu klub daerah tersebut untuk berlaga di tingkat nasional. Nama Aceh Besar semakin berkibar, walau klub sepak bolanya tidak berhasil melaju lebih jauh lagi.

Melalui Google, begitu orang luar mencari PSAB Aceh Besar, juga akan muncul potensi wisatanya yang luar biasa dan juga berbagai hasil bumi dan kerajinan rakyat.

Sehingga, sejumlah daerah lain di Indonesia, berani menggelontorkan dana miliaran rupiah untuk mendukung klub sepak bola daerahnya untuk dapat berlaga kancah nasional.

Memang, sepak bola tetaplah sepak bola, tetapi ada hal menarik lainnya yang menjadi perhatian netizen terhadap daerah asal klub sepak bola tersebut. Sudah saatnya, daerah masing-masing di Aceh memberi dukungan kepada klub sepak bolanya, sehingga dapat bersaing dengan daerah lainnya di Indonesia.

Kedatangan sebuah klub sepak bola, seperti PSAB senior di Liga 4 Nasional yang berlaga di Surabaya, tentunya membawa nama daerahnya dan ini menjadi poin penting, selain hasil pertandingan itu sendiri.(Muh)