Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh menegaskan komitmennya untuk memperkuat langkah pencegahan dan pemberantasan narkotika di Aceh pada tahun 2025. Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Drs Marzuki Ali Basyah MM menyebutkan, sejumlah strategi akan diterapkan untuk memastikan wilayah Aceh bebas dari peredaran narkoba.
“Kami akan melokalisasi pintu-pintu masuk jalur narkotika jenis sabu di pesisir Aceh, khususnya dengan memperketat pengawasan jalur laut. Hal ini dilakukan untuk mencegah narkoba dari luar negeri masuk ke wilayah ini,” ujar Brigjen Marzuki, dalam konferensi pers capaian kinerja BNNP Aceh tahun 2024, di Kantor BNNP Aceh, Kota Banda Aceh, Selasa (24/12/2024).
Menurutnya, narkotika jenis sabu-sabu tersebut sebagian besar diselundupkan melalui Selat Malaka ke Aceh sebelum didistribusikan ke Medan dan kembali lagi ke Aceh. Untuk memutus rantai distribusi tersebut, BNNP Aceh berencana melibatkan masyarakat pesisir secara aktif.
“Masyarakat pesisir menjadi elemen penting dalam pengawasan jalur laut. Dengan keterlibatan mereka, kami berharap dapat mencegah masuknya sabu dari luar negeri,” tambahnya.
Selain langkah pencegahan, BNNP Aceh juga menekankan pentingnya rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkoba. Brigjen Marzuki menyebutkan bahwa rehabilitasi tidak hanya berfungsi untuk pemulihan korban, tetapi juga bertujuan mencetak agen pemulihan di masyarakat.
“Korban penyalahgunaan narkoba akan kami rehabilitasi. Mereka nantinya dapat menjadi agen perubahan di masyarakat untuk mencegah penyalahgunaan narkoba lebih luas,” jelasnya.
Tidak hanya sabu, BNNP Aceh juga serius dalam upaya pemberantasan ladang ganja. Dengan memanfaatkan teknologi satelit, BNNP Aceh berupaya mendeteksi lahan-lahan ganja tersembunyi yang masih ada di wilayah Aceh.
“Kami menawarkan alternatif bagi petani untuk mengalihfungsikan lahan mereka. Tanaman konsumsi seperti jagung, kangkung, atau sawit dapat menjadi pilihan,” ucap Brigjen Marzuki.
Ia menyatakan, meskipun jumlah ladang ganja di Aceh sudah menurun secara signifikan, kewaspadaan tetap ditingkatkan untuk mencegah penanaman di lokasi tersembunyi lainnya.
Selain itu, BNNP Aceh juga mengedukasi pelaku usaha kuliner agar tidak mencampurkan zat berbahaya, seperti ganja, ke dalam makanan yang bertujuan untuk melindungi konsumen.
“Meskipun sampai saat ini belum didapati adanya pengusaha kuliner yang melakukan hal tersebut, namun kita tetap mengingatkan terkait pentingnya menjaga agar konsumen tidak dirugikan dan bisa merasa aman mengonsumsi makanan,” tegasnya.
Brigjen Marzuki optimistis bahwa dengan kolaborasi semua pihak, Aceh dapat terbebas dari ancaman narkotika. “Kami yakin dengan kerja sama yang kuat, Aceh dapat menjadi wilayah bebas narkoba,” pungkasnya.(WD)






