Kabarnanggroe.com, Kota Jantho – Setelah meraih prestasi gemilang di kejuaraan dunia pada 29 Mei 2024 di Istanbul, Turki, dua pemanah asal Aceh dan Jawa Timur kembali berkompetisi dalam event panahan nasional yang diselenggarakan oleh Federasi Seni Panahan Tradisional Indonesia (FESPATI) Aceh, di Stadion Mini Carlos, Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, Sabtu (29/6/2024).
Event bertajuk “The Light of Aceh” ini diikuti oleh 70 peserta dari delapan provinsi di Indonesia, yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Tengah.
Mutasar, yang meraih juara dunia beberapa waktu lalu, menyatakan harapannya agar panahan tradisional mendapat lebih banyak perhatian dari pemerintah, baik itu pemerintah daerah, provinsi, maupun pemerintah pusat.
“Saya berharap pemerintah bisa memberikan lebih banyak dukungan untuk memajukan panahan tradisional. Ini adalah warisan budaya yang perlu dilestarikan dan dikembangkan untuk generasi mendatang,” ucapnya.
Menurutnya, regenerasi atlet sangat penting bagi kemajuan olahraga daerah dan negara, karena mereka adalah ujung tombak dalam mengharumkan nama baik kita di tingkat internasional. Ketika atlet-atlet muda dilatih dengan baik dan diberikan kesempatan untuk berkembang, mereka tidak hanya menjadi duta prestasi olahraga, tetapi juga mencerminkan potensi dan semangat dari negara dan daerah mereka.

“Regenerasi atlet bukan hanya investasi dalam prestasi olahraga masa depan, tetapi juga investasi dalam kebanggaan dan citra positif suatu bangsa,” ungkap Mutasar.
Sementara itu, Kang Irul, yang berhasil meraih posisi kedua dikancah internasional, juga mengungkapkan antusiasmenya terhadap event panahan nasional yang berlangsung di Lhoknga tersebut. “Sensasinya sama seperti saat di Turki,” katanya, sembari berharap pemerintah dapat memberikan lebih banyak dukungan untuk mengembangkan event ini ke tingkat internasional.

Acara ini berlangsung selama dua hari dengan sistem kualifikasi dan eliminasi, dimulai dari seleksi 32 besar, hingga babak final. Agus Riansyah, salah satu panitia acara, menjelaskan bahwa sistem ini dirancang untuk memastikan kompetisi berjalan dengan ketat dan menghasilkan pemanah terbaik.
Diharapkan event “The Light of Aceh” ini dapat tidak hanya meningkatkan minat masyarakat terhadap panahan tradisional, tetapi juga mencetak atlet-atlet berprestasi untuk masa depan. “Kami berharap panahan tradisional semakin populer dan mendapatkan tempat di hati masyarakat,” tambah Agus.
Dengan dukungan yang terus berkembang, diharapkan panahan tradisional Indonesia dapat terus menorehkan prestasi dan semakin dikenal di kancah internasional.(WD)






