Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Meuraxa Kota Banda Aceh, menjadi salah satu rumah sakit tipe B yang siap memberikan layanan pengobatan batu ginjal, selain pengobatan batu ginjal tanpa operasi dengan menggunakan tindakan extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL), RSUD Meuraxa akan mebuka Retrograde intrarenal surgery, atau RIRS, yang merupakan prosedur invasif minimal untuk tata laksana batu ginjal dan gangguan ginjal lainnya. Prosesnya melibatkan penggunaan teropong kecil dan laser untuk menghancurkan batu ginjal atau untuk mengobati masalah lain di dalam ginjal.
Dokter spesialis Urologi RSUD Meuraxa dr. Ahmad Fajrial SpU mengatakan, secara tradisional, pembedahan untuk batu ginjal dilakukan dengan membuat sayatan besar di sisi tubuh dan mengeluarkan batu secara langsung.
“Namun, dengan perkembangan RIRS, pasien kini dapat menjalani operasi tanpa memerlukan sayatan besar, sehingga rasa sakit berkurang, bekas luka berkurang, dan waktu pemulihan lebih cepat,” katanya, Jumat (6/10/2023).
Menurutnya, prosedur RIRS dimulai dengan pasien dibius total. Setelah pasien tertidur, dokter urologi akan memasukkan teropong kecil melalui saluran kemih bagian bawah dan masuk ke dalam kandung kemih. Dari sana, teropong dinavigasi melalui saluran kemih bagian atas dan masuk ke ginjal. Setelahnya, dokter urologi dapat menggunakan laser untuk memecah batu ginjal menjadi potongan-potongan kecil, bahkan sampai menjadi pasir.
“Keranjang kecil atau alat pengisap dapat dengan mudah mengeluarkan potongan-potongan kecil ini. Jika pasien memiliki masalah lain di ginjal, seperti penyumbatan atau tumor, laser juga dapat digunakan untuk menangani masalah ini,” terangnya.
Ia mengatakan, salah satu manfaat utama RIRS adalah prosedur invasif minimal. Ini berarti pasien akan mengalami lebih sedikit rasa sakit, tanpa bekas luka, dan waktu pemulihan lebih cepat daripada operasi tradisional. Selain itu, karena RIRS tidak memerlukan sayatan besar, risiko infeksi dan komplikasi lainnya berkurang.
“Manfaat lain dari RIRS adalah pengobatan batu ginjal yang sangat efektif. Laser presisi yang digunakan dalam prosedur ini dapat menghancurkan batu yang paling sulit sekalipun. Artinya, pasien yang menjalani RIRS seringkali dapat pulih sepenuhnya dari masalah batu ginjalnya dan kembali beraktivitas normal tanpa masalah,” kata dr. Ahmad.
Salah satu potensi kelemahan RIRS adalah mungkin tidak cocok untuk semua pasien. Pasien dengan kondisi medis tertentu atau batu ginjal besar mungkin bukan kandidat yang baik untuk RIRS. Dalam kasus ini, Operasi Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) atau perawatan lain mungkin diperlukan.
“PCNL menjadi pilihan alternatif bagi penderita batu ginjal (nefrolitiasis) dengan kondisi terdapat sumbatan lebih dari satu cabang saluran penggumpal urin pada ginjal, batu ginjal berukuran 2 cm, merasakan nyeri hebat karena infeksi dan tidak dapat diatasi dengan obat-obatan,” terangnya.
dr. Ahmad menuturkan, saat ini alat tersebut memang belum tersedia di RSUD Meuraxa, namun sebagai RSDU yang memiliki komitmen one stop service RSUD Meuraxa telah mengajukan perlatan tersebut ke Kemenkes untuk peningkatan layanan kesehatan di Meuraxa.
“Insya Allah tahun depan akan dibuka, saat ini kita sedang menunggu peralatan, karena kita sudah ajukan kepada kemenkes untuk pengadaan lata tersebut, dan manjemen RSUD Meuraxa terus mengupayakan alat tersebut aka nada ditahun depan,” ujarnya.
Menurutnya, saat ini RSUD Meuraxa juga memberikan layanan pengobatan batu ginjal yang cukup mumpuni, pasien yang datang dengan batu yang sangat besar yang tidak memungkingkan dengan tindakan ESWL juga tetap diberikan layanan lainnya yang maksimal.
“Banyak sekali kejadian sperti ini, ada pasien datang dengan batu yang sudah sangat besar, ya terpaksa harus kita lakukan operasi, atau juga pasien datang dengan batu yang sudah tersangkut di ureter sehingga mengalami bengkak dan nyeri, semua kita berikan tindakan yang maksimal,” tutur dr. Ahmad Fajrial.
Ia menjelaskan, penyebab munculnya penyakit batu ginjal ini adalah pola hidup yang salah, itu ditandai dengan kurangnya minum air putih, sehingga urin cenderung pekat. Apalagi jumlah minum yang kurang itu disertai cuaca yang cenderung panas sehingga terjadi dehidrasi.

“Batu ginjal ini disebabkan oleh kurangnya minum air putih sehingga urin menjadi pekat, dehidrasi karena kurang minum dan cuaca yang panas, ini sering terjadi dikawasan pesisir yang kelembabannya cenderung rendah itu menyebabkan dehidrasi kronis yang tanpa kita sadari terbentuk kristal dan lama-lama berbentuk batu, salah satunya juga faktor keturunan,” jelasnya.
Terkait dengan endapan kapur yang ada di air minum, menurutnya itu bukanlah persoalan jika dibarengi dengan banyak minum air putih.
“Jika sering minum air putih tentu membuat aliran urin di saluran kencing mulai dari ginjal sampai menjadi cepat, sehingga mencegah terjadinya terjadinya pengendapan kristal, yang salah justeru kurang minum air putih, buat apa kita minum air mineral yang bersih tapi jumlahnya sedikit, justeru hal inilah yang menyebabkan kencing berwarna pekat yang secara perlahan membentuk kristal dan akan jadi batu,” ujar dr. Ahmad Fajrial.
Secara usia, penyakit batu ginjal ini menurut dr. Ahmad sering sekali terjadi disaat usia produktif, jika terjadi diusia belasan, itu biasanya ada faktor keturunan yang cenderung memang terbentuk batu, tapi seringkali terjadi di usia produktif.
“Biasanya sering terjadi diusia produktif, karena proses pembentukan batu dari kristal itu lama, dan batu ginjal itu tidak terasa sakit, terasa sakit saat batu sudah turun ke ureter, disitulah biasanya pasien merasa nyeri tak tertahankan dan setelah dievaluasi biasanya ada batu yang menyumbat, dan banyak terjadi pada laki-laki, karena wanita saau usia produktif terlindungi oleh hormon estrogen, bukan tidak ada untuk wanita, tapi secara presentase laki-laki tiga kali lipat lebih banyak mengidap batu ginjal,” pungkasnya. (Muiz)





