Kabarnanggroe.com, Nusantara – Sebanyak 94 tim mahasiswa dari 43 Perguruan Tinggi di Indonesia mengikuti Final Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur (Kaltim).
Mereka adalah finalis dalam ajang inovasi teknologi wahana udara nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV).
Kegiatan ini merupakan kerjasama Otorita IKN dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) serta Institut Teknologi Kalimantan (ITK).
Sejumlah perlombaan terpusat di area sekitar Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP), IKN.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendiktisaintek Beny Bandanadjaja mengatakan kompetisi ini bukan sekadar arena untuk menunjukkan kemampuan teknik mahasiswa. KRTI dapat menjadi rujukan karya teknologi generasi muda.
“Wahana terbang tanpa awak mampu memetakan wilayah luas, menjangkau titik evaluasi yang sulit diakses. Inovasi ini adalah solusi nyata yang kelak akan sangat diandalkan negara dalam penanggulangan bencana dan kemanusiaan,” ujarnya, dalam keterangan resmi yang dikutip, Sabtu (26/9/2026).
Sementara itu, Rektor ITK Prof. Dr. rer. nat. Agus Rubiyanto, M.Eng.Sc. menyebut penyelenggaraan ini menjadi momentum untuk mempertemukan pengembangan teknologi mahasiswa dengan lingkungan kota masa depan. Hal ini selaras dengan IKN yang didesain menjadi kota masa depan.
“Ini adalah wujud nyata kontribusi generasi muda, khususnya adik-adik, dalam mendukung visi besar kemajuan bangsa,” katanya.
Menurut Agus, teknologi nirawak kini tidak lagi sekadar alat atau hobi. Teknologi tersebut telah digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari pertahanan dan keamanan, pemetaan tata ruang, mitigasi bencana, pemantauan lingkungan, hingga logistik dan pertanian cerdas.
“Melalui inovasi yang adik-adik ciptakan, mereka sedang mempersiapkan fondasi kemandirian teknologi Indonesia di masa depan,” tandasnya
KRTI diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi untuk meraih prestasi, tetapi juga sebagai ruang belajar dan bertukar pengalaman. Selain itu, memperkuat kolaborasi dan jejaring para inovator muda Indonesia.
“Junjung tinggi sportivitas dan jadikan ajang ini sebagai ruang belajar yang seluas-luasnya,” pungkas Agus.
Sebagai informasi, peserta berkompetisi dalam lima kategori dalam KRTI 2026 ini. Setiap kategori memiliki tantangan dan karakteristik berbeda.
Pada kategori Racing Plane (RP), peserta beradu kecepatan menggunakan dua wahana dalam satu koridor penerbangan.
Sementara Fixed Wing (FW) menguji penerapan teknologi UAV untuk misi cepat tanggap dengan kemampuan pemantauan dan pemetaan.
Kategori Vertical Take-Off and Landing (VTOL) menguji kemampuan wahana untuk melakukan lepas landas dan mendarat secara vertikal.
Adapun Low Endurance Low Altitude (LELA) menguji kemampuan penerbangan jarak jauh dengan radius sekitar 10 kilometer dan total jarak tempuh hingga 60 kilometer.
Peserta juga diuji dalam ketepatan menjatuhkan payload, validasi hotspot, serta kualitas pengiriman data dan video.
Kategori terakhir, Technology Development (TD), berfokus pada pengembangan dan integrasi teknologi pesawat tanpa awak secara mandiri.
Peserta mengembangkan komponen mulai dari airframe, sistem propulsi, flight controller, hingga ground station.(Muh/*)






