39.687 Hektar Tutupan Hutan di Aceh Hilang Selama 2025, Ini Dampaknya

Kehilangan tutupan hutan Aceh mencapai lebih dari 39.000 hektar pada tahun 2025, meningkat 274% dari tahun sebelumnya. Faktor alam dan manusia memberikan kontribusi yang signifikan. FOTO/ANTARA

Kabarnanggroe.com, Jakarta – Yayasan Hutan, Alam, dan Lingkungan  Aceh (HAkA) mengungkap bahwa kehilangan tutupan  hutan di wilayah tersebut pada tahun 2025 mencapai sekitar 39.000 hektare.

“Kehilangan tutupan hutan pada tahun 2025 mencapai sekitar 39.000 hektar, meningkat sekitar 274 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Lukmanul Hakim, GIS Manager dari Yayasan HAkA, dalam sebuah diskusi, Kamis (25/2/2026).

Ia menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin memantau tutupan hutan di Aceh, termasuk di kawasan Ekosistem Leuser, melalui pemantauan bulanan dan rekap tahunan

“Kami juga menyertakan kondisi penutupan hutan di Aceh secara periodik. Biasanya setiap tahun kami merilis bagaimana kondisi hutan Aceh, termasuk hari ini kami merilis update kondisi hutan Aceh 2025 dan bagaimana kondisinya pasca siklon,” jelasnya.

Ia menyebut tahun 2025 sebagai tahun yang tidak biasa karena Aceh mengalami peristiwa cuaca ekstrem akibat siklon yang memicu curah hujan sangat tinggi dalam waktu singkat.

Hilangnya tutupan hutan berarti hilang pula fungsi hutan sebagai pengontrol daur udara kawasan melalui proses hidrologis intersepsi, infiltrasi, evapotranspirasi, hingga mengendalikan erosi dan limpasan permukaan yang pada akhirnya memicu erosi masif dan longsor yang menjadi cikal bakal banjir bandang

Padahal hutan di wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) berperan penting sebagai penyangga hidrologi. Vegetasi hutan yang rimbun ibarat spons raksasa yang menyerap air hujan ke dalam tanah dan menahannya agar tidak langsung terbuang ke sungai.

Fungsi hutan adalah untuk menjaga keseimbangan siklus udara, mencegah banjir di musim hujan, sekaligus menyediakan aliran dasar saat musim kering. Ketika hutan hulu rusak atau gundul, siklus hidrologi alami itu ikut terganggu dan semua fungsi hutan berpotensi hilang.

Banyak wilayah yang terkena dampak bencana
Berdasarkan kompilasi data independen dari pemberitaan media, bencana berdampak luas di berbagai wilayah.

Ia mengatakan dari pemberitaan pemerintah, 18 dari 23 kabupaten/kota di Aceh terdampak. Sementara itu, dari data yang mereka kumpulkan menunjukkan Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang adalah daerah dengan desa terdampak paling banyak.

Dokumentasi lapangan juga menunjukkan banyak material kayu yang terbawa arus banjir.

“Kita sepakat kayu-kayu ini berasal dari hulu. Segala proses di hulu pasti berdampak ke hilir,” ujarnya.

Diskusi juga menyoroti bahwa bencana tidak bisa dilepaskan dari akumulasi kerusakan lingkungan jangka panjang.

“Tidak mungkin bencana itu murni akibat deforestasi tahun itu saja, ini akumulasi kerusakan lingkungan puluhan tahun. Selama periode 1945-2006, hutan Aceh sudah kehilangan sekitar 1.736.700 hektare,” jelasnya.

Menurutnya tren kehilangan tutupan hutan meningkat. Data pemantauan menunjukkan tren fluktuatif hilangnya tutupan hutan:

2015-2016 stabil sekitar 21.000 ha
2017-2020 turun sekitar 15.000 ha
2021-2023 turun lagi sekitar 9.000 ha
2024-2025 meningkat sekitar 39.000 ha

Ia menegaskan istilah “kehilangan tutupan hutan” digunakan karena penyebabnya tidak hanya aktivitas manusia, tetapi juga faktor alami seperti longsor, banjir, dan erosi.

Berdasarkan analisis tahun 2025, faktor alam masih menjadi penyebab dominan terjadinya peristiwa ini. Tercatat sekitar 61,5 persen kejadian dipicu oleh faktor alami, dengan intensitas yang paling banyak terjadi pada periode November hingga Desember.

Meski demikian, aktivitas manusia tetap memberikan kontribusi yang signifikan. Total luasan yang terdampak akibat faktor antropogenik mencapai sekitar 15.230 hektar.

Dari jumlah tersebut, aktivitas perkebunan menjadi penyumbang terbesar dengan kisaran ±13.000 hektare. Selain itu, pembukaan jalan baru memberikan kontribusi sekitar ±1.007 hektar, usulan aktivitas pertambangan seluas ±796 hektar, serta penebangan yang memberikan kontribusi sekitar ±428 hektar.

Data ini menunjukkan bahwa meskipun faktor alami mendominasi, tekanan dari aktivitas manusia tetap menjadi perhatian serius dalam upaya pengendalian dan mitigasi ke depan.

“Kami membagi penyebab menjadi faktor alam dan antropogenik. Tahun ini faktor alami cukup dominan, tetapi aktivitas manusia tetap memberi kontribusi signifikan,” jelasnya.(Muh/*)