Esensi Puasa Melatih Pengendalian Diri

Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Substansi puasa adalah menjelaskan bahwa ibadah ini bukan hanya menahan lapar dan dahaga atau menjauhi hal-hal yang membatalkan puasa. Esensinya melatih kemampuan menahan diri dari perbuatan yang tidak sejalan dengan harkat dan martabat kemanusiaan.

Akademisi UIN Ar-Raniry, Saifuddin A. Rasyid, menyampaikan hal itu dalam ceramah tarawih di Masjid Jami’ Kopelma Darussalam, Banda Aceh, pada 7 Ramadhan 1447 H bertepatan dengan 25 Februari 2026 M.

Ia menekankan, Ramadhan harus melahirkan hasrat, keterampilan, dan keteladanan dalam melindungi hak-hak hidup manusia serta menjaga alam sekitar, yaitu tanggung jawab moral yang melekat pada setiap insan.

“Puasa tidak hanya mengajarkan sikap defensif dalam menghadapi serangan nafsu, tetapi juga membentuk perilaku ofensif dalam arti positif, yakni proaktif mempromosikan dan melakukan kebaikan di berbagai aspek kehidupan,” ujarnya.

Dari puasa, lanjutnya, diharapkan tumbuh sikap amar makruf nahi mungkar, mendorong kebaikan dan melawan kemaksiatan yang merugikan agama, manusia, serta tatanan sosial tempat kita hidup.

Saifuddin mengingatkan, kondisi inilah yang menjadi puncak pendakian Ramadhan. Karena itu, umat Islam tidak boleh cepat berlepas diri atau merasa cukup dengan capaian awal. Niat harus terus diperkuat dan tujuan ibadah harus dipahami secara mendalam.

Merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Balad ayat 11–17, ia memaparkan, untuk meraih ridha Allah, manusia harus siap menempuh jalan terjal dan mendaki. Allah telah menyisipkan potensi mental dalam diri manusia untuk menghadapi tantangan tersebut, tinggal bagaimana setiap individu menguatkan motivasi dari dalam dirinya.

Umat Islam tidak boleh cepat bosan dan menyerah dalam menjalankan rangkaian ibadah Ramadhan. Ibadah di bulan suci ini diibaratkan sebagai proses pendakian menuju puncak, yakni kemenangan berupa kasih sayang Allah, ampunan dosa, dan surga sebagai balasan bagi hamba yang bertakwa.

Saifuddin menegaskan, Ramadhan menyediakan begitu banyak peluang dan “hadiah” dari Allah bagi orang-orang beriman. Namun, ia mengingatkan, dorongan nafsu dan pengaruh lingkungan kerap membuat umat Islam lalai menjaga konsistensi ibadah hingga mencapai tujuan hakiki Ramadhan.

Menurutnya, tujuan akhir Ramadhan bukan sekadar menuntaskan puasa sebulan penuh atau mengikuti “paket ibadah” seperti tarawih, khataman Al-Qur’an, infak, dan buka puasa bersama.

Lebih dari itu, yang harus tumbuh adalah rasa ingin semakin dekat kepada Allah dan kesetiaan menjalankan perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya. Di saat yang sama, harus berkembang pula rasa takut melanggar larangan Allah dan Rasul-Nya.

Menutup ceramahnya, Saifuddin berharap jamaah mampu bertahan dalam ibadah meski gangguan dan rintangan kerap muncul, terutama menjelang pertengahan hingga akhir Ramadhan. Justru pada fase-fase akhir itulah, menurutnya, capaian spiritual semakin besar dan menentukan.

“Jangan cepat merasa lelah dan kalah. Siapkan diri dan mohon pertolongan Allah agar kita mampu bertahan hingga mencapai puncak Ramadhan,” pungkasnya. (Herman/Sayed M. Husen)