Kabarnanggroe.com, Takengon – Perjalanan kreatif di balik produksi film pendek Depik Terakhir menjadi cerita menarik dalam podcast program KITA INDONESIA PRO2 RRI Takengon, Senin (24/8/2026).
Dipandu host Ayu dan Tri Maharani, obrolan menghadirkan Fachri Rizkillah selaku Sutradara & Director serta Adli Ridha sebagai Director of Photography (DOP).
Film Depik Terakhir mengangkat kisah emosional seorang ibu yang berprofesi sebagai nelayan ikan depik di Danau Laut Tawar.
Di tengah kondisi tubuh yang semakin sakit-sakitan, sang ibu tetap menyimpan kerinduan mendalam kepada anaknya, Atta, yang telah lama merantau dan tidak kunjung memberikan kabar.
Kisah tersebut tidak hanya berbicara tentang hubungan ibu dan anak, tetapi juga menggambarkan kehidupan masyarakat yang menggantungkan harapan pada Danau Laut Tawar serta ikan depik sebagai bagian dari kehidupan dan budaya masyarakat Gayo.
Fachri Rizkillah menjelaskan, Depik Terakhir lahir dari keinginan untuk menghadirkan cerita lokal dengan kekuatan emosi yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Kami ingin mengangkat cerita yang sederhana, tetapi punya emosi yang kuat. Sosok ibu dan kerinduan kepada anak menjadi pintu masuk untuk memperlihatkan kehidupan masyarakat di sekitar Danau Laut Tawar,” ujar Fachri.
Menurut Fachri, tantangan sebagai sutradara bukan hanya menerjemahkan cerita ke dalam gambar, tetapi juga memastikan emosi setiap karakter dapat dirasakan penonton.
Sementara itu, Adli Ridha mengungkapkan bahwa tantangan dari sisi sinematografi adalah bagaimana menjadikan Danau Laut Tawar bukan sekadar latar, tetapi bagian penting dari cerita.
“Kami mencoba membuat visual yang tidak hanya indah, tetapi juga bisa berbicara. Danau, aktivitas nelayan, dan suasana di sekitarnya harus terasa sebagai bagian dari kehidupan tokoh,” kata Adli.
Adli menambahkan, pendekatan visual dalam film tersebut berusaha memperkuat suasana kesepian, kerinduan, sekaligus kedekatan sang ibu dengan lingkungan tempat ia mencari nafkah.
Perjalanan produksi Depik Terakhir pun menjadi pengalaman tersendiri bagi tim. Mereka harus menerjemahkan cerita yang sarat nilai lokal ke dalam bahasa visual film pendek, sekaligus menjaga agar identitas daerah tetap terasa kuat.
Dua hari menjadi waktu yang singkat untuk sebuah produksi film pendek ini, tetapi dari waktu yang singkat itu lahir sebuah karya yang memberikan kepuasan bagi para tim produksi dan para penontonnya.
Depik Terakhir menjadi bukti bahwa keterbatasan waktu dapat diubah menjadi tantangan kreatif untuk menghasilkan cerita yang bermakna.(Muh/*)






