Dispar Kota Banda Aceh Hidupkan Pariwisata lewat Smart Branding “Charming Banda Aceh”

Charming Banda Aceh strategi branding milik Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh. FOTO/DOK DISPAR BANDA ACEH

Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Pemerintah Kota Banda Aceh terus memperkuat sektor pariwisata melalui strategi smart branding bertajuk “Charming Banda Aceh”. Program ini dirancang sebagai upaya membangun citra kota yang modern, religius, dan ramah wisatawan, sekaligus meningkatkan daya tarik destinasi lokal di tengah persaingan industri pariwisata nasional.

Konsep smart branding tersebut tidak hanya berfokus pada promosi wisata semata, tetapi juga mengintegrasikan teknologi digital, penguatan budaya lokal, serta kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Dengan pendekatan itu, Banda Aceh diharapkan mampu menjadi salah satu destinasi unggulan wisata halal dan budaya di Indonesia.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Rosdi, ST, MSi mengatakan bahwa smart branding menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan identitas kota secara lebih luas dan efektif kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Charming Banda Aceh bukan sekadar slogan promosi, tetapi sebuah gerakan bersama untuk membangun citra kota yang kuat, berkarakter, dan memiliki daya saing. Kami ingin wisatawan mengenal Banda Aceh sebagai kota yang nyaman, religius, kaya budaya, dan terbuka bagi siapa saja,” ujar Rosdi saat ditemui di Banda Aceh, Selasa (5/5/2026)

Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Rosdi, ST, MSi FOTO/DOK DISPAR BANDA ACEH

Menurut Rosdi, perkembangan teknologi informasi saat ini mengubah pola promosi pariwisata. Karena itu, pemerintah harus mampu menyesuaikan diri dengan memanfaatkan media digital dan platform media sosial sebagai sarana komunikasi yang efektif.

“Kami melihat perilaku wisatawan sekarang sangat dipengaruhi oleh informasi digital. Maka strategi promosi juga harus berubah. Lewat smart branding, kami mengoptimalkan konten kreatif, media sosial, video promosi, hingga kerja sama dengan komunitas digital untuk memperluas jangkauan promosi wisata Banda Aceh,” katanya.

Ia menjelaskan, Banda Aceh memiliki banyak potensi wisata yang layak dipromosikan, mulai dari wisata sejarah, religi, kuliner, hingga wisata bahari. Beberapa destinasi unggulan seperti Masjid Raya Baiturrahman, Museum Tsunami Aceh, dan kawasan Pantai Ulee Lheue menjadi ikon yang terus menarik perhatian wisatawan.

Selain itu, kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Aceh juga menjadi nilai tambah dalam pengembangan sektor pariwisata. Berbagai agenda budaya, festival seni, dan kegiatan religi dinilai mampu memberikan pengalaman unik bagi pengunjung.

Rosdi menegaskan bahwa penguatan branding kota harus dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan dan fasilitas wisata. Pemerintah, kata dia, terus mendorong pembenahan infrastruktur pendukung, kebersihan lingkungan, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia di sektor pariwisata.

“Branding yang baik harus didukung oleh pengalaman wisata yang baik pula. Karena itu kami terus memperhatikan kualitas pelayanan, kenyamanan destinasi, serta kesiapan para pelaku wisata dalam menyambut tamu,” ujarnya.

Dalam implementasinya, Dinas Pariwisata Banda Aceh juga menggandeng berbagai pihak, termasuk komunitas kreatif, pelaku UMKM, pengusaha hotel dan restoran, serta generasi muda. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar promosi pariwisata dapat berjalan lebih inovatif dan berkelanjutan.

“Pariwisata tidak bisa dibangun sendiri oleh pemerintah. Semua elemen harus terlibat. Anak muda kreatif misalnya, punya peran besar dalam menciptakan konten digital yang menarik dan mampu memperkenalkan Banda Aceh ke tingkat nasional bahkan internasional,” kata Rosdi.

Ia menambahkan, sektor pariwisata memiliki dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, maka perputaran ekonomi daerah juga ikut tumbuh, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

“Ketika wisata hidup, hotel ramai, restoran bergerak, UMKM berkembang, transportasi ikut tumbuh. Ini yang menjadi semangat kami dalam membangun pariwisata Banda Aceh secara berkelanjutan,” tuturnya.
Pemerintah Kota Banda Aceh juga terus memperkuat konsep wisata halal yang selama ini menjadi identitas daerah.

Menurut Rosdi, wisata halal bukan berarti eksklusif, melainkan memberikan kenyamanan bagi seluruh wisatawan dengan menghadirkan layanan yang bersih, aman, dan sesuai nilai budaya lokal.

“Wisata halal itu universal. Semua orang bisa menikmati Banda Aceh dengan nyaman. Kami ingin menghadirkan suasana kota yang tertib, bersih, ramah, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Aceh,” ujarnya.

Di sisi lain, promosi melalui event pariwisata juga terus ditingkatkan. Berbagai kegiatan seperti festival kuliner, pameran ekonomi kreatif, hingga pertunjukan seni budaya dinilai mampu menarik kunjungan wisatawan sekaligus memperkuat identitas kota.

Rosdi optimistis program smart branding “Charming Banda Aceh” akan memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan sektor pariwisata dalam beberapa tahun ke depan. Ia berharap masyarakat juga ikut menjaga citra kota dengan memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan.

“Kami percaya pariwisata Banda Aceh memiliki masa depan yang cerah. Dengan kolaborasi, inovasi, dan dukungan masyarakat, Charming Banda Aceh dapat menjadi kekuatan baru untuk menghidupkan sektor pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.

Melalui strategi smart branding tersebut, Banda Aceh kini tidak hanya berupaya tampil sebagai kota tujuan wisata, tetapi juga sebagai daerah yang mampu menggabungkan kemajuan teknologi, kekayaan budaya, dan nilai religius dalam satu identitas yang kuat. Langkah itu menjadi bagian dari upaya membangun pariwisata yang adaptif, kompetitif, dan berkelanjutan di era digital.(AMZ)