Kabarnanggroe.com, BANDA ACEH — Perubahan perilaku pelajar dan derasnya arus era digital menuntut adanya penguatan sinergi nyata antara orang tua di rumah dan lembaga pendidikan. Hal tersebut menjadi pokok pembahasan dalam Diskusi Keilmuan Ahad bertajuk “Merajut Sinergi, Menguatkan Generasi” yang berlangsung di MJD Kopi, Banda Aceh, Ahad (18/10).
Kegiatan interaktif ini diselenggarakan oleh Fushulul Quran Aceh (FQA) berkolaborasi dengan Abqary Cendekia, TPA Nurul Ikhlas, LDK Ar-Risalah UINAR, KAMMI Banda Aceh, HIMAPAUDI USK serta TPA Al-Mukhayyarah Darussalam.
Penyelenggara acara ini adalah dari Founder FQA Ustaz Hamdi Multazam, S.Pd., C.LQ., M.Pd., dan dihadiri oleh para narasumber yang berkompeten, yaitu, Founder Abqary Cendekia Ustaz Indra, S.Pd., Direktur TPA Nurul Ikhlas Ustadzah Chairiani, S.Pd., serta Wakadiv BPSDM LDK Ar-Risalah UINAR Ustadzah Annisa Kausar, dengan moderator Ustaz Irfan Maulana, S.H., CPM., CPCLE.
Founder Fushulul Quran Aceh, Ustaz Hamdi Multazam, S.Pd., C.LQ., M.Pd., dalam sambutannya menekankan bahwa kegiatan ini bukan bertujuan untuk saling mengajari peserta, melainkan sebagai tempat berkumpul untuk berbagi pengalaman dari berbagai latar belakang, agar bisa menemukan solusi dalam menghadapi berbagai masalah di bidang pendidikan.
“Uthlub al-‘ilma minal mahdi ilal lahdi (tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat)” demikian penjelasannya.
Dalam pemaparannya, Direktur TPA Nurul Ikhlas, Ustadzah Chairiani, S.Pd., juga menekankan pentingnya posisi orang tua sebagai pendidik pertama dan utama bagi anak. Makna kata “pertama” adalah masa awal hidup seseorang, di mana proses belajar sudah dimulai sejak bayi tersebut lahir.
Rumah adalah tempat pertama di mana anak-anak belajar nilai-nilai penting dalam kehidupan, mulai dari dalam keluarga. Sementara itu, kata “utama” menunjukkan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab penuh dan berperan sebagai penentu arah yang utama dalam membimbing pertumbuhan dan pembentukan karakter anak. Menurutnya, tanggung jawab moral, emosional, dan akhlak berawal dari lingkungan rumah.
“Anak-anak zaman sekarang cenderung lebih kritis dan ingin penjelasan rasional, Keteladanan, komunikasi dua arah, serta keterbukaan orang tua termasuk berani meminta maaf kepada anak apabila orang tua melakukan kesalahan, guna menanamkan sikap bertanggung jawab pada diri anak. Berani meminta maaf terlebih dahulu jauh lebih efektif daripada sekadar memerintah atau menghakimi,” ungkap Ustadzah Chairiani.
Ia juga mengingatkan pentingnya membuat kesepakatan tegas terkait batasan penggunaan gawai (gadget).
Dari sudut pandang karakter pelajar, Ustadzah Annisa Kausar menegaskan bahwa menuntut ilmu dalam Islam wajib dilandasi adab dan keimanan. Menurutnya, ilmu tanpa adab tidak akan bernilai. Pelajar dituntut untuk disiplin membagi waktu, menjauhi kebiasaan menunda tugas, serta menjaga etika pergaulan baik di dunia nyata maupun media sosial.
Sementara itu, Founder Abqary Cendekia, Ustaz Indra, S.Pd., menyoroti hakikat dan filsafat ilmu yang harus membawa kebermanfaatan nyata bagi masyarakat. Ia menyebutkan bahwa akar dari degradasi moral generasi muda sering kali berawal dari pola pengasuhan di rumah. Oleh karena itu, orang tua dan pendidik harus terus mengevaluasi diri (muhasabah) ketimbang tergesa-gesa menyalahkan anak.
Diskusi menyimpulkan bahwa penguatan karakter anak tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Diperlukan ruang diskusi dua arah yang rutin antara guru dan orang tua agar pendampingan anak berjalan selaras antara rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat.(*)
