Kabarnanggroe.com, Meulaboh – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh melalui Conservation Response Unit (CRU) melaksanakan pemasangan GPS collar pada seekor gajah liar di Desa Pungki, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat, Kamis, 16 Juli 2026.
Kegiatan yang dimulai sejak Rabu, 15 Juli 2026 itu dilakukan sebagai upaya memantau pergerakan gajah liar guna memperkuat mitigasi konflik antara manusia dan satwa di kawasan tersebut.
Pemasangan GPS collar merupakan bagian dari strategi penanganan konflik satwa liar yang selama ini kerap terjadi di wilayah Sungai Mas. Dengan perangkat tersebut, pergerakan kawanan gajah diharapkan dapat dipantau secara berkala sehingga langkah pencegahan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Teuku Ronald Nehdiansyah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung upaya konservasi sekaligus melindungi masyarakat yang tinggal di sekitar habitat gajah liar.
Menurutnya, teknologi GPS collar akan memberikan informasi penting mengenai pola pergerakan satwa sehingga penanganan di lapangan menjadi lebih efektif.
“Pemasangan GPS collar ini merupakan langkah strategis untuk memantau pergerakan gajah liar secara real time sehingga upaya mitigasi konflik antara manusia dan satwa dapat dilakukan lebih cepat, tepat, dan terukur,” ujar Teuku Ronald Nehdiansyah.
Dalam pelaksanaannya, tim juga melibatkan dua ekor gajah jinak dari CRU Sare, Kabupaten Aceh Besar. Gajah jinak tersebut digunakan untuk membantu proses pendekatan, pemasangan GPS collar, sekaligus menggiring kawanan gajah liar agar proses berlangsung aman bagi petugas maupun satwa.
Teuku Ronald menjelaskan, kegiatan ini melibatkan berbagai unsur yang memiliki kompetensi dalam penanganan satwa liar. Tim gabungan terdiri atas BKSDA Aceh, Pusat Kajian Satwa Liar Fakultas Kedokteran Hewan (PKSLFKH) Universitas Syiah Kuala (USK), CRU Aceh, serta Wildlife Response Unit (WRU) BPBD Aceh Barat.
“Sinergi lintas instansi menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini. Kami berharap seluruh tahapan berjalan lancar sehingga data pergerakan gajah dapat dimanfaatkan sebagai dasar penyusunan langkah mitigasi yang lebih efektif,” katanya.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi GPS collar tidak hanya bertujuan mengurangi potensi konflik antara manusia dan gajah, tetapi juga mendukung upaya pelestarian gajah Sumatra yang merupakan satwa dilindungi. Data yang diperoleh nantinya akan menjadi acuan bagi tim dalam menentukan pola penanganan dan perlindungan habitat gajah di Aceh Barat.
“Harapan kami, dengan adanya GPS collar, keberadaan gajah liar dapat terus dipantau sehingga keselamatan masyarakat tetap terjaga tanpa mengabaikan upaya pelestarian satwa. Ini merupakan bagian dari komitmen bersama menjaga keseimbangan antara kepentingan konservasi dan perlindungan masyarakat,” tutup Teuku Ronald Nehdiansyah.(Muh/*)






