Ketika Mantan Ketua BEM Menggugat Calon Guru: “Jika Bukan dari Hati, Murid Harus Hati-hati”

Kabarnanggroe.com, Suasana ruang VIP CK Kupi Baet, Aceh Besar, pada Minggu pagi, 17 Mei 2026, mendadak senyap. Puluhan pengurus Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (DEMA FTK) UIN Ar-Raniry yang memadati ruangan terdiam. Di depan mereka, seorang pria tengah melempar gugatan yang menembus langsung ke jantung idealisme mahasiswa keguruan.

Pria itu adalah Ismail Darimi. Bagi publik Aceh Besar, ia dikenal sebagai Kepala Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Aceh Besar. Namun di ruangan itu, ia adalah sejarah yang berjalan. Empat belas tahun lalu, Ismail berdiri di posisi yang sama dengan para audiensnya—sebagai Ketua BEM Tarbiyah periode 2011–2013.

Kehadirannya dalam agenda Upgrading dan Rapat Kerja (Raker) DEMA FTK kali ini bukan sekadar untuk bernostalgia. Membawakan materi bertajuk “Isu-isu Pendidikan dan Keguruan”, Ismail menelurkan empat otokritik tajam—hal-hal yang ia sebut sebagai “pesan yang ingin ia dengar dulu saat masih menjadi mahasiswa.”

Pesan pertama Ismail langsung menghantam hulu. Ia menyoroti fenomena merosotnya martabat profesi guru di mata publik. Alih-alih menyalahkan faktor eksternal, Ismail justru menunjuk hidung para mahasiswa keguruan itu sendiri sebagai penjaga gerbang pertama kualitas profesi tersebut.

“Kalau mahasiswa keguruan tidak menjaga kualitas, maka orang lain akan menganggap siapa pun bisa menjadi guru,” ujar Ismail dengan nada getir. “Ini petaka awal bagi generasi bangsa.”

Bagi alumnus UIN Ar-Raniry ini, marwah keguruan bukanlah berkah otomatis yang jatuh bersama lembar ijazah saat wisuda. Ia adalah reputasi yang dipertaruhkan sejak di bangku kuliah. Jika mahasiswa abai menempa kapasitas diri, profesi guru akan terus dikerdilkan publik sebagai “pekerjaan pelarian”—sebuah opsi terakhir ketika pintu-pintu karier lain telah tertutup.

Ismail kemudian membedah persoalan yang lebih personal: motivasi. Sebuah pertanyaan retoris dilemparkan ke forum, menggugah kesadaran para aktivis mahasiswa yang hadir, tentang berapa banyak dari mereka yang benar-benar memilih jalur Tarbiyah karena panggilan jiwa.

“Mahasiswa FTK hari ini adalah guru masa depan,” cetus Ismail. “Tapi jika pilihan guru bukan dari hati, maka ketika jadi guru, murid harus hati-hati.”

Pernyataan itu bak tamparan halus. Menurut Ismail, guru yang hadir di ruang kelas tanpa kecintaan pada pekerjaannya adalah sosok yang “berbahaya”. Bukan karena berniat jahat, melainkan karena absennya ruh pendidik. Dan celakanya, murid selalu memiliki radar yang peka untuk merasakan mana guru yang mengajar karena terpaksa, dan mana yang mengajar dengan cinta.

Di tengah kultur mahasiswa yang kerap mengagungkan idealisme buta, Ismail justru memantik diskusi sensitif yang sering dianggap tabu: kesejahteraan ekonomi. Tanpa eufemisme, ia berbicara blak-blakan mengenai uang dan masa depan guru.

“Sarjana pendidikan harus berkomitmen bahwa menjadi guru harus terjamin kesejahteraan dari pemerintah. Jika tidak, jangan mau menjadi guru,” tegasnya.

Pernyataan ini sekilas terdengar pragmatis, bahkan mungkin kontroversial bagi sebagian kalangan. Namun, Ismail memiliki argumen sosiologis yang kuat. Guru yang tidak sejahtera, lanjut dia, adalah guru yang rentan secara ekonomi dan psikologis, yang pada akhirnya akan merusak kualitas proses didik-mengajar itu sendiri. Baginya, menuntut kesejahteraan yang layak bukanlah bentuk keserakahan, melainkan advokasi profesi yang fundamental.

“Ini bukan soal materialistis. Ini soal bermartabat,” kata Ismail, disambut anggukan beberapa pengurus.

Sebagai penutup, Ismail membawa para peserta raker melihat peta masa depan yang kini mulai bergeser: era Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Di era di mana mesin sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan teoretis serumit apa pun, guru yang hanya mengandalkan isi kepala akan segera kehilangan relevansinya.

“Menjadi guru di era Inteligensi Artifisial, tidak cukup hanya mengandalkan intelektual. Perlu ahli dalam emosional dan spiritual. Karena AI dapat menjawab semua pertanyaan, bahkan yang paling sulit sekalipun,” jelasnya.

Menurut Ismail, ada satu wilayah yang selamanya menjadi teritorium manusia dan tak akan bisa diinvasi oleh algoritma secanggih apa pun: sentuhan hati. Kehadiran fisik yang utuh, rasa aman yang disalurkan lewat tatap mata seorang pendidik, serta bimbingan spiritual yang mengubah ilmu menjadi kebijaksanaan adalah benteng terakhir profesi guru.

Guru masa depan, dalam refleksi Ismail, bukanlah mereka yang bertarung kepintaran melawan mesin. “Melainkan mereka yang mampu melakukan hal yang tidak akan pernah bisa dilakukan mesin: menyentuh hati.”

Sesi materi yang padat ideologi ini menjadi salah satu menu utama dalam Raker DEMA FTK UIN Ar-Raniry hari itu. Bagi kepengurusan baru, orasi sang mantan ketua tampaknya berhasil memberikan garis batas yang tegas: bahwa menjadi mahasiswa keguruan hari ini, berarti bersiap memikul tanggung jawab peradaban yang tak main-main.[]