Kabarnanggroe.com, Jakarta – Penemuan gas di South Andaman membawa harapan baru bagi Aceh. Setelah sekian lama tidak lagi menjadi pusat industri migas seperti pada masa kejayaan Arun, kini Aceh kembali memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu daerah penting dalam industri energi nasional.
Namun, belakangan ini perhatian publik justru banyak tersita pada perdebatan mengenai apakah pengembangan South Andaman dilakukan dengan fasilitas di laut (offshore) atau di darat (onshore). Perdebatan seperti ini tentu boleh saja.
Dalam sebuah proyek besar, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Tetapi jangan sampai kita lupa pada persoalan yang jauh lebih penting.
Bagi masyarakat Aceh, yang paling utama bukanlah apakah gas diproses di laut atau di darat. Yang paling penting adalah apakah keberadaan South Andaman benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat.
Apakah anak-anak muda Aceh akan mendapatkan pekerjaan?
Apakah perusahaan lokal akan ikut terlibat?
Apakah akan lahir industri baru?
Apakah ekonomi Aceh akan tumbuh?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi fokus bersama. Kita tentu belajar dari sejarah. Aceh pernah memiliki Arun LNG yang dikenal hingga ke dunia internasional.
Namun, banyak masyarakat merasa manfaat ekonomi yang diterima daerah belum sebesar potensi yang dimiliki saat itu.
Pengalaman tersebut membuat masyarakat berharap sejarah tidak terulang. Meski harus disadari bahwa rezim sudah berbeda dan pengelolaan pemerintahan tidak lagi sentralistik.
Karena itu, kehadiran South Andaman harus menjadi kesempatan untuk membangun masa depan Aceh yang lebih baik.
Potensi Aceh
Aceh sebenarnya memiliki modal yang cukup kuat. Bisa dibilang well-developed. Sudah tersedia pelabuhan, memiliki kawasan industri, serta pengalaman panjang dalam industri migas.
Semua ini bisa menjadi fondasi untuk membangun industri baru yang menggunakan gas sebagai bahan baku.
Jika hal itu terwujud, manfaatnya akan jauh lebih besar daripada hanya menjual gas.
Industri baru berarti lapangan kerja baru, peluang usaha bagi perusahaan lokal, peningkatan pendapatan masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Oleh sebab itu, energi kita sebaiknya tidak dihabiskan untuk mempertentangkan offshore dan onshore. Pilihan teknis tentu menjadi kewenangan operator dan pemerintah setelah mempertimbangkan banyak aspek.
Yang perlu terus dikawal adalah bagaimana hasil dari proyek ini benar-benar juga dirasakan oleh masyarakat Aceh.
Pemerintah, baik pusat maupun Aceh, dapat memperjuangkan agar tersedia pasokan gas bagi industri di daerah. Perguruan tinggi dapat menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Dunia usaha lokal juga perlu diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari rantai pasok proyek South Andaman.
Semua pihak memiliki peran. South Andaman bukan hanya proyek migas. Ini adalah peluang untuk membangun ekonomi Aceh agar lebih kuat dan lebih mandiri.
Pada akhirnya, masyarakat tidak akan mengingat panjang pipa atau letak fasilitas produksi. Yang akan diingat adalah apakah South Andaman berhasil membuka lapangan kerja, menghidupkan industri, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh. Di situlah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya.(Muh/*)






