Kabarnanggroe.com, Aceh Besar — Salah satu prinsip dalam agama Islam, pilar kestabilan masyarakat, dan keamanan negeri ialah menaati pemimpin dalam perkara yang baik, menjaga persatuan, dan menjauhi perpecahan dan hawa nafsu.
Alumni Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Ustaz Rizal Candra Widana Alrasyid, menyampaikan hal tersebut dalam khutbah Jumat di Masjid Jami’ PMDG Kampus 8, Seulimuem, Aceh Besar, Jumat (11/9/2026).
Dia menegaskan, Allah Swt memerintahkan orang-orang beriman menaati Allah, Rasulullah, dan ulil amri sebagaimana firman-Nya:
“Wahai orang-orang yang beriman. Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi SAW bersabda: “Barang siapa menaati aku, sungguh ia telah menaati Allah. Barang siapa mendurhakaiku, sungguh ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa menaati pemimpin, ia telah menaatiku. Dan barang siapa mendurhakai pemimpin, ia telah mendurhakaiku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ustaz Rizal menjelaskan, prinsip ketaatan kepada pemimpin harus dipahami secara benar. Apabila seorang pemimpin memerintahkan kemaksiatan, perintah tersebut tidak boleh ditaati dalam perkara maksiat. Namun, ketaatan kepada pemimpin dalam perkara lain yang baik tetap berlaku.
Menurutnya, penolakan terhadap kemaksiatan juga tidak boleh dijadikan alasan untuk memberontak kepada pemimpin, menyebarkan kekacauan, atau menebar fitnah di tengah masyarakat.
Ustaz Rizal menjelaskan, keberadaan pemimpin memungkinkan hukum ditegakkan, jalan-jalan menjadi aman, orang yang dizalimi mendapat pembelaan, dan keamanan negeri dapat terjaga. Tanpa kekuasaan dan kepemimpinan, kekacauan dapat merajalela, orang kuat berpotensi merampas hak orang lemah, serta berbagai hak masyarakat terabaikan.
Dia mengingatkan, keamanan dan kestabilan merupakan nikmat besar dari Allah Swt kepada hamba-Nya. Nikmat tersebut tidak akan terwujud tanpa persatuan, hubungan yang kuat antara rakyat dan pemimpin, dan kerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan. (Sayed/Kaffah)






