Kabarnanggroe.com, Banda Aceh — Pemerintah Kota Banda Aceh terus mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu tampil sebagai pelaku usaha sekaligus pencipta lapangan kerja. Salah satunya melalui Pelatihan Wirausaha Muda Kuliner Kota Banda Aceh Tahun 2026 yang membekali peserta dengan keterampilan, kreativitas, hingga pemahaman dalam mengembangkan usaha.
Kegiatan bertema “Kreasi Kuliner Generasi Muda untuk Banda Aceh yang Lebih Berdaya” tersebut dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banda Aceh Ir. Jalaluddin, ST., MT., di Hotel Amel Convention Hall, Punge Blang Oi, Banda Aceh, Kamis (8/10/2026).
Pelatihan yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Banda Aceh itu diikuti 65 wirausaha muda. Sebagian peserta telah menjalankan usaha, sementara lainnya merupakan pemuda yang baru memiliki keinginan untuk memulai usaha.
Dalam sambutannya, Sekda Jalaluddin mengatakan posisi Banda Aceh sebagai ibu kota Provinsi Aceh memberikan peluang ekonomi yang besar bagi generasi muda. Aktivitas pemerintahan, pendidikan, perdagangan, jasa hingga sektor kuliner membuat perputaran ekonomi di ibu kota provinsi relatif tinggi.
“Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi memegang peran strategis sebagai pusat pemerintahan, pendidikan dan kegiatan ekonomi. Karena itu, anak-anak muda harus mampu melihat dan memanfaatkan peluang yang ada,” ujar Jalaluddin.
Menurutnya, peluang tersebut jangan hanya dilihat sebagai kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga harus dimanfaatkan untuk membangun usaha yang dapat berkembang dan membuka lapangan kerja bagi orang lain.

Ia pun mengajak para peserta untuk tidak takut memulai usaha, termasuk dari rumah dengan memanfaatkan teknologi digital.
“Jangan berdiam diri di rumah. Manfaatkan peluang yang ada. Sekarang tidak perlu gedung atau tempat usaha yang besar untuk memulai bisnis. Dengan satu handphone kita bisa menjelajah dunia, termasuk memasarkan produk dan membangun usaha,” katanya.
Jalaluddin menilai perkembangan teknologi memberikan ruang yang sangat luas bagi anak muda untuk berkreasi. Media sosial, platform digital dan berbagai aplikasi dapat digunakan sebagai sarana promosi, pemasaran sekaligus membangun jaringan konsumen.
Namun, ia mengingatkan agar teknologi digunakan secara produktif untuk pendidikan dan kegiatan ekonomi, bukan untuk hal-hal yang merugikan.
“Gunakan handphone untuk kesempatan berbisnis, berusaha dan pendidikan. Jangan sampai fasilitas teknologi yang kita miliki justru digunakan untuk hal-hal yang tidak baik,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sekda juga memberikan contoh sederhana mengenai bagaimana kreativitas dapat meningkatkan nilai jual sebuah produk. Menurutnya, bahan pangan yang sederhana dan mudah ditemukan dapat menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi apabila diolah, dikemas dan dipasarkan dengan baik.
Ia mencontohkan produk berbahan labu yang sebelumnya hanya memiliki nilai jual rendah, tetapi setelah diolah menjadi produk siap konsumsi dengan kemasan yang higienis, nilai jualnya dapat meningkat.
“Ini bagaimana kita berpikir dalam usaha, membaca peluang. Barangnya mudah didapat, produksinya sederhana, tetapi ketika dikemas dan dipasarkan dengan baik, nilai jualnya bisa lebih tinggi,” jelasnya.
Karena itu, Jalaluddin meminta para pemuda untuk memiliki kejelian membaca kebutuhan pasar. Menurutnya, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya modal, tetapi juga kreativitas, efisiensi produksi, kualitas produk dan kemampuan memahami konsumen.
“Peluang itu harus kita baca. Kita harus jeli dan banyak literasi. Pelajari bagaimana kebutuhan konsumen di pasar, apalagi sekarang hampir semua orang berbelanja dengan sistem digital,” ujarnya.
Jalaluddin mengatakan jumlah pemuda di Banda Aceh cukup besar sehingga menjadi potensi penting dalam pembangunan ekonomi kota. Berdasarkan data yang disampaikannya, terdapat sekitar 43.800 pemuda berusia 15 hingga 25 tahun di Banda Aceh.
Potensi tersebut, katanya, harus dikelola dengan baik agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga menjadi pelaku utama perekonomian.
“Dengan jumlah anak muda yang begitu banyak, tidak mungkin semuanya terus bergantung kepada orang tua. Pemerintah hadir untuk mendorong mereka mendapatkan pekerjaan maupun menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,” katanya.

Ia menegaskan Pemerintah Kota Banda Aceh tidak mungkin menyediakan lapangan kerja untuk seluruh masyarakat. Karena itu, dibutuhkan partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menciptakan peluang ekonomi secara mandiri.
“Pemerintah kota tidak mampu menciptakan lapangan kerja untuk semua warga. Karena itu perlu partisipasi kita semua. Anak-anak muda harus menjadi pelaku usaha dan bahkan mampu menampung tenaga kerja,” ujarnya.
Menurut Jalaluddin, pengembangan UMKM juga harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pelatihan, pendampingan manajemen, akses pembiayaan dan pemasaran.
Ia menyebut Pemko Banda Aceh terus mendorong berbagai program untuk membantu generasi muda mengembangkan usaha, termasuk melalui penguatan kapasitas kewirausahaan.
Jalaluddin juga mengingatkan peserta agar sejak awal memperhatikan aspek administrasi dan legalitas usaha. Menurutnya, Nomor Induk Berusaha (NIB) menjadi salah satu hal penting yang harus dimiliki pelaku usaha.
“Urus izin usaha. Kalau ada kendala dalam prosesnya, laporkan kepada pemerintah. Kita akan bantu dan fasilitasi. Jangan karena merasa sulit mengurus administrasi kemudian usaha kita tidak memiliki legalitas,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya pembukuan usaha. Pelaku UMKM harus mengetahui arus keuangan, penjualan, biaya produksi hingga laba dan rugi.
Pembukuan tersebut, lanjutnya, akan menjadi penting ketika pelaku usaha membutuhkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan untuk mengembangkan usahanya.
“Kalau usaha sudah berkembang dan kita membutuhkan pembiayaan, administrasinya harus jelas. Harus ada pembukuan penjualan, neraca, laba rugi dan sebagainya. Itu penting ketika kita mengajukan pembiayaan ke perbankan,” jelas Jalaluddin.
Selain pelatihan, Pemko Banda Aceh juga terus menyiapkan berbagai dukungan bagi pelaku usaha muda, termasuk akses pembiayaan melalui lembaga keuangan yang dimiliki pemerintah kota.
Jalaluddin menyebut keberadaan LKMS Mahirah Muamalah dapat menjadi salah satu alternatif bagi anak muda yang membutuhkan pembiayaan untuk mengembangkan usahanya.
“Kalau anak-anak muda ingin mendapatkan pembiayaan, tentu akan difasilitasi. Nanti akan dilihat kelayakannya. Yang penting ada ide, ada kemauan dan ada usaha yang bisa dikembangkan,” katanya.
Ia juga mengungkapkan Pemko Banda Aceh sedang menyiapkan aplikasi Usaha Teman, yang diharapkan dapat menjadi wadah untuk mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen maupun pihak yang membutuhkan produk dan jasa.
Melalui aplikasi tersebut, berbagai usaha masyarakat nantinya dapat dipromosikan dan dihubungkan dengan kebutuhan konsumen.
“Misalnya ada yang membutuhkan kue, sapu, jasa laundry, jasa kebersihan, servis atau berbagai jasa lainnya. Nanti bisa ditemukan melalui aplikasi Usaha Teman. Kita ingin menghubungkan wirausahawan muda dengan konsumen,” jelasnya.
Menurut Jalaluddin, konsep tersebut diharapkan dapat memperluas pasar bagi pelaku usaha sekaligus memudahkan masyarakat mendapatkan berbagai produk dan jasa.
Ia berharap inovasi tersebut dapat memperkuat ekosistem kewirausahaan di Banda Aceh dan membuka lebih banyak peluang ekonomi bagi generasi muda.
Khusus sektor kuliner, Jalaluddin berharap para pelaku usaha muda tidak sekadar berorientasi pada penjualan, tetapi juga ikut membangun citra Banda Aceh sebagai kota yang memiliki daya tarik kuliner.
Ia mengingatkan pelaku usaha agar menjaga kualitas produk, kebersihan tempat usaha, pelayanan dan ketertiban dalam menggunakan ruang publik.
“Orang datang ke Banda Aceh salah satunya mencari kuliner. Karena itu mari kita dorong kuliner kita menjadi daya tarik kota,” ujarnya.
Menurutnya, kreativitas anak muda dalam mengembangkan kuliner harus dibarengi dengan kesadaran menjaga lingkungan dan mengikuti aturan yang berlaku.
Pemerintah, katanya, akan terus berupaya menyediakan ruang dan solusi bagi pelaku usaha, sehingga aktivitas ekonomi dapat tumbuh tanpa mengganggu fasilitas publik.
“Jangan berjualan di tempat yang memang tidak diperbolehkan. Pemerintah sudah mengatur ruangnya dan memberikan solusi. Kita ingin semua orang punya tempat dan bisa menjalankan usaha dengan tertib,” katanya.
Jalaluddin juga mengajak peserta untuk tidak takut gagal dalam memulai usaha. Ia membagikan pengalaman masa mudanya ketika pernah berjualan kue untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurutnya, pengalaman tersebut mengajarkan bahwa kesuksesan tidak datang secara instan, melainkan melalui proses panjang, keberanian mencoba dan kemauan untuk terus belajar.
“Tidak perlu malu untuk memulai dari kecil. Sesuatu yang kita yakini bisa menjadi pengalaman. Prosesnya panjang, tetapi dari situlah kita belajar dan berkembang,” ungkapnya.
Ia berharap para peserta pelatihan dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan dan membangun jejaring usaha.
“Anak-anak muda memiliki kesempatan yang luas untuk berkarya dan berusaha. Pemerintah Kota Banda Aceh akan terus mendukung dan mendorong anak muda menjadi pemain utama dalam pembangunan ekonomi kota,” pungkas Jalaluddin.
Sementara itu, Kabid Layanan Kepemudaan Dispora Banda Aceh, Teuku Muhammad Hairunis, S.Pd., S.E., MPPM, dalam laporannya mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari Program Juara yang menjadi salah satu program inovasi Dispora Kota Banda Aceh.
Selain Program Juara, Dispora juga mengembangkan Jaringan Usaha dan Aneka Kreatif Pemuda (JEP/Youth Engagement Program) yang diarahkan untuk membangun jiwa kepemimpinan, kepeloporan, kesukarelawanan dan kewirausahaan generasi muda.
“Melalui Program Juara, kita melatih anak-anak muda menjadi wirausaha. Kemudian melalui JEP kita membangun jiwa kepemimpinan, kepeloporan dan kesukarelawanan. Mudah-mudahan dengan adanya jiwa kewirausahaan yang kuat, anak muda Kota Banda Aceh semakin mampu bersaing dan memberikan dampak positif terhadap pembangunan,” kata Hairunis.
Ia menjelaskan pelatihan wirausaha muda kuliner kali ini difokuskan pada penguatan keterampilan teknis dan mentalitas bisnis agar peserta mampu merintis serta mengelola usaha kuliner secara mandiri.
“Pelatihan ini bertujuan membekali generasi muda dengan pemahaman keterampilan teknis dan mentalitas bisnis, sehingga mampu merintis dan mengelola usaha di bidang kuliner secara mandiri dan sukses,” ujarnya.
Hairunis berharap seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan serius dan dapat menerapkan ilmu yang diperoleh dalam mengembangkan usaha masing-masing.
“Kami sangat mengharapkan para peserta serius, disiplin dan bersungguh-sungguh mengikuti pelatihan ini, apalagi materi kita diisi oleh pengusaha sukses Bg Fadli Guritno yang juga Owner Barsela Kopi,” katanya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Banda Aceh, Reza Kamilin, S.STP, Sekretaris Dispora Kota Banda Aceh, para kepala bidang dan jajaran Dispora Kota Banda Aceh, Pemateri serta para peserta pelatihan. (Rinaldi)






