Kabarnanggroe.com, Malang – Empat santri asal Kabupaten Aceh Besar mengikuti Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI Tahun 2026 di Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Al Murtadlo, Malang, Jawa Timur.
Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Besar H Saifuddin SE pada Senin 5 Oktober 2026, hadir langsung ke Malang. Ikut menyambangi kemah santri, jelang penutupan. Di dampingi Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Dr H Ikhram MPd.
Yahwa–sapaan akrabnya menyebut, ajang nasional itu menjadi wadah pembentukan karakter santri melalui perpaduan nilai kepramukaan, tradisi pesantren, kepedulian lingkungan, dan semangat kebangsaan.
“PPSN ini tidak sekadar ruang pertemuan antarsantri, tetapi juga wadah pembelajaran untuk membangun kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan, kekompakan dan semangat persaudaraan,” ujarnya.

Empat santri Aceh Besar yakni Qaysar Ramadhan Putra Kumar dan Talitha Ayuna dari Pesantren Modern Al Manar, serta T Muhammad Nabil Ahnaf dan Raisah, santri Dayah Insan Qurani.
Mereka bergabung dalam Kontingen Aceh mengikuti PPSN VI bersama 4.524 peserta lainnya dari berbagai penjuru di Tanah Air.
Kali ini, PPSN VI mengusung tema “Membentuk Karakter, Merawat Lingkungan, Meneguhkan Kebangsaan, dan Berdaya Saing Global”.
Menurut Yahwa, salah satu fokus utama kegiatan tahun ini ialah ekoteologi, sebuah gagasan yang menempatkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan.
“Tentunya melalui pendekatan ini, santri didorong untuk mengambil peran nyata dalam menjaga kelestarian alam,” ujarnya.

PPSN ini menjadi sarana mengintegrasikan pendidikan keagamaan dengan keterampilan kepramukaan. Nilai-nilai seperti gotong royong, tanggung jawab, cinta tanah air, dan kepedulian sosial diharapkan tumbuh melalui pengalaman langsung selama perkemahan.
Menurut Yahwa, pramuka santri menjadi ruang untuk membentuk karakter, melatih kepemimpinan, menanamkan kedisiplinan, serta memperkuat kecintaan terhadap agama, bangsa, dan lingkungan. Sebab itu, pengalaman yang diperoleh para santri selama PPSN VI tidak berhenti setelah kegiatan berakhir.
“Sepulang dari Malang, anak-anak diharapkan dapat menjadi penggerak di lingkungan dayah masing-masing. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh harus dibagikan kepada teman-teman,” katanya.
Sejalan dengan upaya Kemenag RI, Yahwa juga mendorong agar pesantren di Aceh Besar semakin dekat dengan Gerakan Pramuka.
Tentunya, gerakan ini untuk memperkuat pertukaran nilai dan pengalaman antara pendidikan pesantren dan pendidikan kepanduan.(Herman/*)






