Kabarnanggroe.com, ACEH BESAR — Kelompok Kerja Kepala Madrasah Ibtidaiyah (K2M MI) Kabupaten Aceh Besar memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan mengajak keluarga besar madrasah menjadikan momentum tersebut sebagai sarana memperkuat keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, H. Saifuddin, SE., yang akrab disapa Yahwa, mengatakan peringatan Maulid Nabi hendaknya tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan. Menurutnya, Maulid harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW, terutama dalam akhlak, kepemimpinan, keikhlasan, amanah, dan kepedulian terhadap sesama.
Yahwa juga mengajak para kepala madrasah untuk mengambil inspirasi dari perjalanan hidup Rasulullah SAW dalam menjalankan amanah kepemimpinan.
“Rasulullah SAW hanya sebentar berada di dunia, tetapi dalam waktu yang singkat itu beliau mampu mengubah wajah dunia. Begitu juga dengan kita, khususnya para kepala madrasah. Walaupun mungkin hanya sebentar diberikan amanah untuk memimpin sebuah madrasah, harus mampu memberikan perubahan dan meninggalkan wajah madrasah yang lebih baik,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberhasilan seorang kepala madrasah tidak semata-mata diukur dari lamanya seseorang menduduki jabatan, tetapi dari perubahan, kemajuan, dan kebaikan yang mampu diwujudkan selama menjalankan amanah.
“Jangan sampai setelah selesai masa tugas kita, madrasah tidak mengalami perubahan. Jadilah pemimpin yang meninggalkan jejak kebaikan, membangun budaya positif, meningkatkan mutu pendidikan, serta melahirkan generasi yang berakhlakul karimah,” katanya.
Pesan tersebut menjadi motivasi bagi keluarga besar K2M MI Aceh Besar untuk terus memperkuat kebersamaan dan meningkatkan kualitas kepemimpinan dalam mewujudkan perubahan positif di lingkungan madrasah.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Ustaz Abrar Zym mengajak jamaah memahami sosok Rasulullah SAW melalui tiga dimensi, yakni dimensi kemanusiaan, sebagai orang Arab, dan sebagai seorang Rasul.
Pada dimensi kemanusiaan, Rasulullah SAW merupakan manusia sebagaimana manusia lainnya. Beliau makan, minum, berkeluarga, bekerja, merasakan kesedihan dan kebahagiaan, serta menghadapi berbagai ujian kehidupan. Menurut Abrar Zym, hal tersebut menunjukkan bahwa keteladanan Rasulullah SAW sangat dekat dengan kehidupan manusia sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dimensi kedua adalah Rasulullah SAW sebagai orang Arab. Beliau lahir dan hidup dalam lingkungan masyarakat Arab dengan budaya, bahasa, serta kondisi sosial pada zamannya. Memahami konteks tersebut, kata dia, penting agar umat dapat melihat bagaimana Rasulullah SAW membawa perubahan besar di tengah masyarakatnya.
Adapun dimensi ketiga adalah Rasulullah SAW sebagai seorang Rasul. Dimensi ini menjadi pembeda utama antara Rasulullah SAW dan manusia biasa. Beliau menerima wahyu dari Allah SWT serta mendapatkan amanah untuk menyampaikan risalah kepada seluruh umat manusia.
Abrar Zym menekankan bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diwujudkan melalui peringatan Maulid. Kecintaan tersebut harus dibuktikan dengan mengenal dan mencintai Rasulullah SAW, mengikuti sunnah, serta meneladani akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
“Maulid bukan hanya tentang mengingat kapan Rasulullah lahir, tetapi bagaimana setelah mengenal Rasulullah kita mampu menghadirkan akhlak Rasulullah dalam diri kita,” tegasnya di akhir tausiah. (Abrar)






