Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) An-Nafs Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry menggelar Studi Psychology for Dakwah (SPORA) II di Aula Rektorat UIN Ar-Raniry, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan kaderisasi dengan mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan pendekatan psikologi dalam kehidupan berorganisasi maupun aktivitas dakwah.
Mengangkat tema “Psy-Brotherhood: Refleksi Diri, Koneksi Hati, Kontribusi Hakiki”, SPORA II diarahkan untuk membangun kader yang tidak hanya memahami tanggung jawab dakwah, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual, kemampuan menjaga persaudaraan, dan kemauan untuk menghadirkan kontribusi nyata.
Rangkaian kegiatan diisi dengan tiga materi utama yang saling berkaitan. Sesi pertama membahas “Ma’iyatullah: Saat Allah Selalu Bersama Kita” yang disampaikan oleh Wilda Fitri Handayani, S.E. Materi ini mengajak peserta memahami makna kebersamaan Allah melalui muraqabah, isti’anah, dan tawakal sebagai landasan dalam menjalankan kehidupan dan amanah.
Pembahasan kemudian berlanjut pada materi “Merawat Ukhuwah: Menyatukan Hati, Menguatkan Barisan Dakwah” yang disampaikan oleh Regina Fadhillah, S.Psi. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya membangun persaudaraan, menjaga komunikasi, serta menyikapi dinamika dan perbedaan dalam organisasi dengan tetap mengedepankan adab.
Sementara itu, materi ketiga bertajuk “Dari Amanah Menjadi Amal: Menghadirkan Dakwah yang Berdampak” disampaikan oleh Wali Fansuri, S.Sos. Materi tersebut menekankan bahwa amanah tidak cukup dimaknai sebagai jabatan atau tanggung jawab formal. Lebih dari itu, amanah perlu diwujudkan melalui tindakan, kepemimpinan, dan kontribusi yang dapat dirasakan manfaatnya.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan juga dilengkapi dengan refleksi, diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD), presentasi kelompok, serta permainan yang mendorong interaksi dan kerja sama antarkader.
Ketua Umum LDF An-Nafs, Fazhil Hernanda, menyampaikan bahwa kaderisasi perlu diarahkan pada pembentukan pribadi yang memiliki kesadaran terhadap nilai dan tanggung jawab dakwah, bukan sekadar menghasilkan anggota baru bagi organisasi.
“Bagi saya, keberhasilan kaderisasi tidak cukup diukur dari seberapa banyak orang yang bergabung atau seberapa aktif sebuah organisasi menyelenggarakan kegiatan. Hal yang lebih mendasar adalah bagaimana proses tersebut membentuk cara berpikir, karakter, dan kepedulian seseorang terhadap lingkungan sekitarnya. Kita membutuhkan kader yang tidak hanya hadir dalam kegiatan, tetapi juga mampu mengambil peran dan memberikan manfaat,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa organisasi dakwah harus senantiasa menjaga relevansi gerakannya dengan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, ilmu psikologi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memahami manusia, membangun hubungan yang sehat, dan merancang dakwah yang lebih bermakna.
“Pada akhirnya, dakwah bukan tentang seberapa sering kita berbicara mengenai kebaikan, melainkan sejauh mana kebaikan itu tercermin dalam perilaku dan dirasakan oleh orang lain. Jangan sampai organisasi begitu sibuk mengurus kegiatannya, tetapi lupa memahami manusia yang menjadi tujuan dari dakwah itu sendiri,” tutupnya.
Melalui penyelenggaraan SPORA II, LDF An-Nafs berharap proses kaderisasi dapat melahirkan generasi dakwah yang memiliki fondasi spiritual, hubungan persaudaraan yang kuat, serta kesanggupan menerjemahkan nilai-nilai Islam menjadi tindakan yang bermanfaat dan berkelanjutan.






