Kabarnanggroe.com, Redelong – Konflik antara gajah liar dan manusia di Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, berdampak terhadap aktivitas pendidikan setelah 13 sekolah terpaksa menghentikan sementara pembelajaran tatap muka.
Kebijakan tersebut diambil untuk mengantisipasi ancaman pergerakan kawanan gajah liar yang kerap melintasi kawasan permukiman warga.
Tim Advokasi Jaringan Gajah Nusantara (JGN) Aceh yang turun langsung ke lokasi pada Sabtu (7/11/ 2026, menemukan sejumlah sekolah dalam kondisi sepi. Kegiatan belajar mengajar sementara dilakukan secara daring dengan guru tetap memberikan materi kepada peserta didik.
Tim Advokasi JGN Aceh, Yulham Eon, menyayangkan kondisi tersebut karena konflik satwa dan manusia yang terus berulang turut mengganggu hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan secara normal.
“Kami melihat langsung kondisi di Bener Meriah. Aktivitas sekolah sepi dan hanya ada guru yang memberikan materi pembelajaran secara daring. Sangat disayangkan jika kondisi ini terus berlanjut karena anak-anak tidak bisa bersekolah akibat konflik satwa dan manusia yang masih terjadi,” kata Yulham, dalam siaran persn diterima RRI.CO.ID, Sabtu (7/11/2026).
Kritik terhadap penanganan konflik juga disampaikan Koordinator Wilayah Tengah Forum Jurnalis Lingkungan (FJL), Yusradi. Ia menilai konflik gajah dan manusia di kawasan tersebut bukan persoalan baru, melainkan terus berulang setiap tahun dan telah menimbulkan korban jiwa, baik dari manusia maupun gajah Sumatera.

Menurut Yusradi, penanganan konflik selama ini belum menghasilkan solusi jangka panjang yang mampu menjamin keselamatan masyarakat sekaligus melindungi satwa liar yang dilindungi.
“Konflik ini sudah lama terjadi. Tidak ada penyelesaian yang serius dari pemangku kebijakan. Belum lama juga ada hibah lahan Presiden untuk konservasi gajah Sumatera di wilayah ini, tetapi setelah kami pantau, belum terlihat hasil yang baik,” ujar Yusradi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Bener Meriah melalui Pelaksana Tugas (Plt) Pendidikan dan Pengajaran, Saidi, menyampaikan bahwa wilayah terdampak konflik gajah telah ditetapkan dalam kondisi darurat belajar selama 14 hari.
Penghentian sementara pembelajaran tatap muka mulai diberlakukan sejak Kamis, 5 November 2026. Kebijakan tersebut akan dievaluasi berdasarkan perkembangan situasi keamanan di lapangan.
“Sampai hari ini sekolah masih diliburkan sejak Kamis, Jumat hingga Sabtu. Besok Senin nanti kita lihat lagi. Hari ini juga akan kita pantau. Jadi, sudah tiga hari sekolah diliburkan,” ujar Saidi.
Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat 13 satuan pendidikan yang terdampak kebijakan tersebut, yakni SD Negeri Kalung SP 1, SD Negeri Pantan Lah, SD Negeri Antara 40, SD Negeri Dirgantara KM 38, SD Negeri Pantan Sinaku, SD Negeri Ulu Naron, SD Negeri Tran Teget SP 2, SD Negeri Pancar Jelobok, SMP Negeri 5 Satu Atap Pancar Jelobok, SMP Negeri 2 Pintu Rime Gayo KM 40, SMP Negeri 4 Pintu Rime Gayo, MTsN Blang Rakal, dan MIS Blang Rakal.
Kecamatan Pintu Rime Gayo merupakan salah satu kawasan yang kerap dilalui kawanan gajah liar.
Pergerakan satwa yang dapat terjadi pada siang maupun malam hari meningkatkan risiko pertemuan langsung antara manusia dan gajah.
Pihak Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama menempatkan keselamatan peserta didik sebagai prioritas dalam menyikapi situasi tersebut.
Penghentian sementara pembelajaran tatap muka menjadi langkah pencegahan untuk menghindari risiko jatuhnya korban di tengah ancaman pergerakan satwa liar.
Di sisi lain, penanganan konflik dinilai perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat tidak terus berada dalam ancaman dan aktivitas pendidikan dapat kembali berjalan normal.
Upaya tersebut juga perlu memperhatikan perlindungan habitat serta jalur jelajah gajah Sumatera.(Muh/*)






