Kabarnanggroe.com, Jakarta – Sekretaris pers Gedung Putih, Katie Zacharia, diberhentikan meski baru terjadi kurang dari seminggu.
Selama lima hari bertugas, juru bicara (jubir) utama Trumo itu memang ramai dikritik atas kinerjanya dalam sebuah sesi pengarahan pers dan sejumlah wawancara. Selain itu, kuliafikasinya di bidang hukum juga dipertanyakan.
Dilaporkan Reuters, Sabtu (17/10/2026), dua pejabat Gedung Putih yang berbeda mengungkapkan Zacharia “diberhentikan” dan kini sedang dalam proses “transisi keluar” dari posisi sekretaris pers tersebut.
Kepergiannya membuat Trump kehilangan sosok juru bicara penting, tepat dua minggu lebih sebelum pemilihan paruh waktu November, sebuah periode krusial di mana sang presiden berupaya menonjolkan pencapaian pemerintahannya sekaligus membantu rekan-rekan dari Partai Republik untuk mempertahankan kendali atas Kongres.
Pada Jumat lalu, Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa ia telah meminta Zacharia untuk mempertimbangkan kembali apakah ia ingin tetap memegang jabatan tersebut, mengingat ia menghadapi pemberitaan pers yang keras selama hari-hari bekerja pertama.
“Saya katakan kepadanya: ‘Menurut saya, akan lebih baik jika Anda merasa bahagia, dan saya tidak yakin Anda bisa merasa bahagia dalam pekerjaan seperti ini.’ Tidak ada hal yang mudah dalam pekerjaan ini,” ujar Trump kepada wartawan saat hendak meninggalkan Gedung Putih untuk perjalanan akhir pekan.
“Saya katakan dengan jujur, ‘Jika saya jadi Anda, saya akan mempertimbangkan kembali… berpikirlah. Saya akan mempertimbangkannya kembali.’,” sambung Trump.
Zacharia mulai bertugas sebagai jubir Trump pada Senin (12/10) lalu. Ia resmi mengadakan sesi pengarahan pers pertamanya di Gedung Putih sehari kemudian.
Dalam sesi itu, Zacharia menuturkan bahwa ia menerima telepon mengenai sekretaris posisi pers tersebut pada tanggal 7 Oktober 2026 dan ditawari pekerjaan itu untuk menggantikan Karoline Leavitt sepekan sebelumnya lalu.
Tak lama kemudian, ia menghadapi pertanyaan seputar kariernya, yang menurutnya mencakup pengalaman berpraktik di bidang hukum. Trump pun sempat menyebut sebagai seorang pengacara.
“Saya berpraktik di bidang hukum transaksi internasional, dengan kualifikasi yang lengkap dan sesuai,” ungkap Zacharia dalam pernyataan melalui surel pada hari Rabu.
Namun, Reuters tidak menemukan catatan yang menunjukkan bahwa lulusan fakultas hukum Pepperdine University tersebut terdaftar sebagai pengacara atau anggota asosiasi pengacara (bar) di negara bagian mana pun di AS maupun di District of Columbia.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada Kamis (15/10), Zacharia mengakui bahwa Katie tidak lulus ujian profesi pengacara (bar Exam).
Lulusan sekolah hukum tidak dapat berpraktik hukum secara sah di Amerika Serikat tanpa terlebih dahulu diterima sebagai anggota asosiasi pengacara (bar) di negara bagian terkait.
Zacharia dan pihak Gedung Putih tidak segera menanggapi surel yang meminta komentar mengenai pemecatannya.
Pada Jumat kemarin, Zacharia sempat menyampaikan kepada para wartawan di Gedung Putih bahwa ia menantikan kesempatan untuk bekerja sama dengan pihak pers.
Menurut dua orang yang mengetahui pembicaraan tersebut, Trump merekrut Zacharia setelah menyatakan kekhawatirannya terhadap pemberitaan media mengenai pemerintahannya; ia merasa membutuhkan juru bicara baru yang mampu menonjolkan berbagai pencapaiannya.
Dalam sebuah wawancara telepon dengan Fox pada hari Jumat, Trump mengatakan bahwa ia tidak terburu-buru untuk menunjuk sekretaris pers yang baru.
Kepergian Zacharia yang begitu cepat menjadikannya jabatan dengan jabatan singkat dalam posisi sekretaris pers.
“Rekor memang dibuat untuk memecahkan,” ujar Anthony Scaramucci-yang pernah menjabat sebagai direktur komunikasi selama 10 hari pada masa pemerintahan pertama Trump-melalui platform X.
“Namun, saya sama sekali tidak merasa senang melihat penderitaan orang lain.”(Muh/*)






