Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Ketua Fraksi Demokrat DPRK Banda Aceh, Muhamad Arifin, SE, mengapresiasi suksesnya pelaksanaan Muzakarah Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) di Aceh. Menurutnya, kegiatan tersebut membawa pesan penting tentang penguatan persatuan, perdamaian, dan ukhuwah Islamiyah di tengah umat.
Muhamad Arifin yang juga Wali MPTT-I Kecamatan Banda Raya menyampaikan apresiasi kepada MPTT-I di bawah kepemimpinan Wali Agama Aceh, Abuya Syekh Haji Amran Waly Al-Khalidy, atas komitmen dalam mengembangkan ajaran tauhid tasawuf serta memperkuat nilai-nilai persaudaraan dan perdamaian umat.
Ia menilai, kepemimpinan Abuya Syekh Haji Amran Waly Al-Khalidy memiliki peran penting dalam mendorong penguatan spiritualitas, pembinaan akhlak, dan penyebaran pesan-pesan Islam yang menyejukkan. Melalui berbagai kegiatan keagamaan, MPTT-I diharapkan terus menjadi wadah untuk mempererat silaturahmi, memperkuat pemahaman keagamaan, dan membangun harmoni di tengah masyarakat.
Muhamad Arifin juga menyampaikan terima kasih setinggi-tingginya kepada panitia pelaksana, Pengurus Besar (PB) MPTT-I, para ulama, tokoh nasional, ulama internasional, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan muzakarah tersebut.
“Selama beberapa hari ini, tempat ini menjadi ruang berkumpulnya para ulama, tokoh agama, dan umat Islam dalam sebuah pertemuan yang membawa pesan sangat mulia, yaitu mengangkat ajaran sufi untuk persatuan dan perdamaian umat,” ujar Muhamad Arifin, kepada media ini, Rabu (14/10/2026).
Ia menilai, tema muzakarah tersebut sangat relevan dengan kehidupan masyarakat yang dihadapkan pada beragam perbedaan pandangan, tantangan sosial, serta kebutuhan untuk terus menjaga kerukunan dan persaudaraan.
Menurutnya, nilai-nilai tasawuf yang menekankan penyucian hati, keikhlasan, kesederhanaan, kasih sayang, dan pembentukan akhlak mulia perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut menjadi landasan moral untuk membangun hubungan harmonis, baik antarsesama umat Islam maupun dengan masyarakat luas.
“Persatuan umat tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi harus diwujudkan melalui sikap saling menghormati, menjaga persaudaraan, menghindari permusuhan, dan mengedepankan perdamaian dalam menyelesaikan perbedaan,” katanya.
Muhamad Arifin berharap, muzakarah tersebut tidak hanya menjadi forum pertemuan ulama dan tokoh agama, tetapi juga menghasilkan pemikiran serta rekomendasi yang memberikan manfaat nyata bagi kehidupan umat.
Ia juga menekankan pentingnya peran ulama dalam membimbing masyarakat, memperkuat nilai-nilai keislaman, serta menjaga kesejukan kehidupan sosial. Sinergi antara ulama, pemerintah, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen umat, menurutnya, sangat diperlukan untuk membangun kehidupan yang damai dan harmonis.
Sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Islam di Nusantara, Aceh diharapkan terus berkontribusi menyebarkan pesan Islam yang mengedepankan akhlak, persaudaraan, dan perdamaian.
“Semoga muzakarah ini membawa keberkahan bagi Aceh dan umat Islam secara luas. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, PB MPTT-I, Abuya Syekh Haji Amran Waly Al-Khalidy, para ulama, tokoh nasional, ulama internasional, dan semua pihak yang telah menyukseskan kegiatan ini,” ujarnya.
Muhamad Arifin menegaskan, semangat persatuan dan perdamaian yang menjadi pesan utama muzakarah harus terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, umat Islam semakin kuat dalam persaudaraan serta mampu memberikan kontribusi positif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.(Mar/*)






