Tim Pengabdian USK Latih Ibu-Ibu Gampong Cot Lamee Buat Payung Pengantin Motif Aceh

Foto bersama ibu-ibu pelatihan pembuatan payung pengantin motif Aceh dalam program PKM-BGB Universitas Syiah Kuala di meunasah Gampong Cot Lamee, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, Minggu (27/9/2026) FOTO/ DOK USK

Kabarnanggroe.com, Kota Jantho – Tim Pengabdian kepada masyarakat Universitas Syiah Kuala (USK) melaksanakan pelatihan pembuatan payung pengantin bermotif Aceh bagi ibu-ibu di Gampong Cot Lamee, Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar, Minggu (27/9/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian “Membangun Fondasi Literasidan Modal Sosial Gampong Cot Lamee Menuju Komunitas Berdaya dan Inklusif.”

Kegiatan pengabdian tersebut diketuai oleh Nurul Fajri, dengan anggota Novi Susilawati dan Helmi. Pelatihan menghadirkan Rahmi dari Program Studi Pendidikan Tata Busana, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Medan, sebagai pelatih yang memberikan pendampingan kepada masyarakat, khususnya ibu-ibu Gampong Cot Lamee.
Pelatihan berlangsung di meunasah gampong setempat dan diikuti secara antusias oleh para peserta.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan teknik menghias payung pengantin berwarna kuning menggunakan ornamen motif bunga berbahan manik-manik. Payung pengantin merupakan salah satu perlengkapan yang digunakan dalam prosesi pernikahan masyarakat Aceh.

Ibu-ibu Gampong Cot Lamee menunjukkan payung pengantin berwarna kuning yang dihias dengan ornamen motif bunga berbahan manik-manik saat pelatihan berlangsung, di meunasah Gampong Cot Lamee, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar, Minggu (27/9/2026) FOTO/ DOK USK

Rahmi memberikan pendampingan secara langsung selama proses pembuatan. Peserta diarahkan mulai dari menentukan pola motif bunga, menempelkan manik-manik, hingga menyelesaikan hiasan pada kerangka payung. Pendampingan dilakukan secara bertahap sehingga peserta dapat mengikuti setiap tahapan pembuatan secara langsung.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif. Para peserta duduk bersama di dalam meunasah sambil mengerjakan payung masing-masing. Mereka juga saling membantu selama proses pengerjaan. Kondisi tersebut menciptakan suasana kerja samadan interaksi yang baik antar peserta selama kegiatan berlangsung.

Ketua tim pengabdian, Nurul Fajri, menjelaskan bahwa kegiatantersebut diarahkan untuk memberikan keterampilan baru kepada masyarakat Gampong Cot Lamee. Keterampilan membuat payung pengantin bermotif Aceh diharapkan tidak hanya mendukung pelestarian budaya lokal, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai keterampilan produktif yang memiliki potensi ekonomi.

Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan pelatihan juga menjadi ruang interaksi antara tim pengabdian dan masyarakat. “Melalui proses pendampingan secara langsung, peserta memperoleh kesempatan untuk belajar sekaligus mempraktikkan teknik pembuatan payung pengantin secara bersama-sama,” tuturnya.

Anggota tim pengabdian, Novi Susilawati dan Helmi, turut mendampingi pelaksanaan kegiatan serta membantu peserta selama proses pelatihan. Keterlibatan tim dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun hubungan dan kerja sama antara perguruan tinggi dengan masyarakat Gampong Cot Lamee.

Pelatihan tersebut juga memberikan ruang bagi masyarakatuntuk mengenal dan mengembangkan keterampilan yang berkaitan dengan kerajinan berbasis budaya lokal. Hasil karyaberupa payung pengantin bermotif Aceh menunjukkan bahwaketerampilan tersebut dapat dipelajari melalui proses pelatihan dan praktik secara langsung.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi salah satu langkah dalam mengembangkan potensi masyarakat Gampong Cot Lamee melalui keterampilan yang memiliki nilai budaya dan ekonomi. Pengembangan kerajinan payung pengantin bermotif Aceh juga dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan keberadaan kerajinan tradisional di tengah masyarakat.

Melalui program “Membangun Fondasi Literasi dan Modal Sosial Gampong Cot Lamee Menuju Komunitas Berdaya dan Inklusif,” tim pengabdian USK mendorong keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pembelajaran yang bersifat praktis, partisipatif, dan berbasis potensi lokal.(Tamam)