Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Wasit punya peluit. Pelatih punya strategi. Pemain punya bola untuk dikejar. Tapi di pinggir lapangan, ada satu kelompok yang tak kalah sibuk: emak-emak.
Suara mereka bahkan beberapa kali terasa lebih nyaring daripada bunyi peluit wasit. “Ayo, Nak! Kejar bolanya!”
Teriakan itu datang dari sisi lapangan ketika Rampagoe FA menghadapi KDC Keutapang dalam laga ketiga Turnamen Sepakbola Usia Dini Piala Wali Kota Banda Aceh 2026 di Lapangan Sepak Bola IMKA (Ie Masen Kayee Adang), Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Sabtu (12/9/2026).
Pertandingan Grup A itu dimenangkan Rampagoe FA dengan skor 2-0. Tiga poin pun masuk ke kantong Rampagoe.
Namun, bagi penonton di pinggir lapangan, angka 2-0 bukan satu-satunya cerita.
Pertandingan tersebut menjadi laga paling meriah dibanding dua pertandingan sebelumnya. Bukan karena terjadi hujan gol, melainkan karena riuhnya dukungan para emak yang datang menyaksikan anak-anak mereka bertanding.
Sebagian berdiri di pinggir lapangan. Sebagian duduk bergerombol. Ada yang merekam menggunakan telepon seluler. Ada pula yang tak henti-hentinya meneriakkan nama anaknya.
Toa seolah menjadi senjata tambahan. Setiap kali bola mendekati pertahanan lawan, suara dukungan kembali membesar. Ketika anak mereka berhasil merebut bola, tepuk tangan pecah. Ketika peluang terlewat, terdengar pula instruksi khas dari pinggir lapangan.
“Jangan menyerah!”
“Lari!”
“Oper!”
Bagi anak-anak yang masih berusia 10 tahun, suara-suara itu mungkin menjadi energi tambahan untuk terus berlari mengejar bola.
Di tengah kompetisi, para orang tua sebenarnya sedang memainkan peran yang tidak kalah penting. Mereka bukan sekadar penonton, tetapi bagian dari atmosfer pembinaan sepakbola usia dini.

Sebelum Rampagoe FA menang 2-0 atas KDC Keutapang, laga pembuka Grup A mempertemukan SSB Putra IMKA melawan Faruq FA. Putra IMKA mengawali turnamen dengan kemenangan 2-1.
Sementara dari Grup B, Serantau Aceh FA mengamankan tiga poin setelah menundukkan Talenta Aceh FA dengan skor 1-0.
Tetapi ketika Rampagoe turun ke lapangan, suasana berubah.
Lapangan IMKA seakan memiliki tribun sendiri meski tanpa bangku penonton. Tribun itu adalah barisan emak-emak yang datang membawa semangat, tepuk tangan, teriakan dan tentu saja toa.
Mereka mungkin tidak hafal seluruh aturan sepakbola. Mereka juga tidak punya papan strategi seperti pelatih. Namun satu hal pasti, mereka tahu siapa yang harus didukung. “Anak mereka”.
Di usia 10 tahun, kemenangan memang menyenangkan. Tiga poin tentu penting. Tetapi di balik kompetisi ini ada tujuan yang lebih besar: membangun keberanian anak untuk bertanding, mengenalkan sportivitas dan menumbuhkan kecintaan terhadap sepakbola sejak dini.
Turnamen Piala Wali Kota Banda Aceh 2026 sendiri menjadi bagian dari agenda pembinaan sepakbola usia dini. Kompetisi tersebut diikuti 16 tim yang terbagi dalam kelompok U-10 dan U-12, masing-masing delapan tim.
Pada kelompok U-10, Grup A dihuni SSB Putra IMKA, Faruq FA, Rampagoe FA dan KDC Keutapang. Sedangkan Grup B terdiri dari Talenta Aceh FA, Serantau Aceh FA, SSB PSAN Neusu dan Lambhuk FA.
Bagi anak-anak, lapangan adalah tempat mengejar bola dan belajar memenangkan pertandingan.
Bagi emak-emak, lapangan adalah tempat menyaksikan buah hati mereka berjuang. Oleh karena itu, jika wasit punya peluit untuk mengatur jalannya pertandingan, emak-emak punya toa untuk memastikan semangat anak-anak mereka tidak pernah padam.
Dan sore itu, suara toa mereka mungkin menjadi sorakan kemenangan yang sesungguhnya.(Wahyu)






