Guru PAI Aceh Besar Dibekali Keterampilan AI sebagai Tools Pembelajaran

Kakankemenag Aceh Besar H Saifuddin SE membuka acara Implementasi Artifical Intelligence bagi guru PAI di Aula SMP 3 Ingin Jaya, Aceh Besar, Kamis (3/9/2026).Foto: Humas Kemenag Aceh Besar/Olis

Kabarnanggroe.com, Aceh Besar — Sekitar 50 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Kabupaten Aceh Besar dibekali keterampilan memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam proses pembelajaran.

Pembinaan itu dibuka Kepala Kantor Kementerian Agama Aceh Besar H Saifuddin SE di Aula SMPN 3 Ingin Jaya, Aceh Besar, Kamis, 3 September 2026, dengan mengusung tema Implementasi Artifical Intelligence Sebagai Tools dalam Pendidikan Agama Islam.

Saifuddin mengatakan perkembangan teknologi zaman ini menuntut guru agar tidak hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga bijak dalam memanfaatkannya. AI dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran dengan menghadirkan materi yang lebih menarik bagi siswa.

Penggunaan AI dalam pembelajaran dapat menjadi sarana kreatif untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan agama.

“Saya mengingatkan apabila ikut pembinaan seperti ini, maka dengar, cermati dan ikuti dengan baik, lalu diterapkan saat pembelajaran,” kata Yahwa– sapaan akrab Saifuddin saat sambutan.

Yahwa mengingatkan agar guru PAI memiliki kecakapan digital, terutama ketika menggunakan media sosial dan teknologi AI. Sebab, kemudahan akses terhadap AI harus diimbangi dengan pemahaman terkait penggunaan teknologi secara bijak.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan tidak boleh menggeser tujuan utama pendidikan agama, yakni membentuk siswa yang memiliki akhlak yang unggul.

“Tugas kita di Kementerian Agama, terutama lewat guru PAI ini, bagaimana agar akhlak anak didik itu unggul,” katanya.

Ia menilai, kecerdasan akademik semata tidak cukup untuk membentuk generasi yang berkualitas. Kemampuan sains dan teknologi harus berjalan beriringan dengan pendidikan karakter dan akhlak.

“Tidak ada gunanya siswa-siswi kita cerdas secara sains, tapi akhlak nol. Itu akan mengundang bencana, kejahatan dan ancaman lainnya,” ujar Yahwa.

Sementara itu, Kabid Pendidikan Agama Islam Kanwil Kemenag Aceh Dr Hj Aida Rina Elisiva B Acc MM mengatakan tujuan mereka menggelar pembinaan ini agar AI dapat dimanfaatkan menjadi alat bantu bagi guru PAI dalam mengedukasi dan membangun karakter peserta didik.

Salah satu fokus pembinaan ialah pencegahan perundungan (bullying) di media sosial serta edukasi mengenai perilaku seksual berisiko atau LGBT melalui perancangan poster menggunakan AI.

Kata Aida, guru PAI memiliki posisi penting dalam membimbing siswa di seluruh jenjang pendidikan. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran agama, tetapi juga membentuk karakter dan akhlak siswa.

“Guru PAI tugasnya mendidik dan membimbing siswa-siswi agar mereka memiliki akhlak yang religius,” ujar Aida.

Guru PAI juga perlu memahami persoalan yang dihadapi anak-anak di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Mulai dari perundungan, pelecehan seksual, serta perilaku seksual berisiko yang perlu dapat perhatian serius dari lingkungan pendidikan.

Karena itu, lanjut Aida, guru PAI harus mampu memberikan edukasi kepada siswa agar mereka dapat mengenali perilaku yang tidak sehat, menjaga diri, serta memahami nilai-nilai agama dan batasan dalam pergaulan.

“Kita harus membentengi anak-anak kita dari perbuatan asusila, pelecehan seksual dan sebagainya. Berikan edukasi kepada anak-anak kita untuk menjauhi hal-hal tersebut,” katanya.

Pembinaan turut dhadir Kasi PAI Kantor Kemenag Aceh Besar Muhammad, para pengawai PAI Aceh Besar dan unsur terkait lainnya.(Herman/*)