Menlu Iran Cap Netanyahu Ular, Tipu Muslihat ke AS Biar Ikut Perang

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. FOTO/AFP

Kabarnanggroe.com, Jakarta – Menteri Luar Negeri  Iran  Abbas Araghchi menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu  “ular” yang menipu pemerintah Amerika Serikat untuk perang.

“Dalam bahasa Ibrani, Netanyahu secara terbuka membual telah menipu Pemerintahan AS untuk berperang melawan Iran atas nama Israel,” kata Araghchi di X pada Senin (31/8/2026).

Araghci juga menyebut Netanyahu secara eksplisit dan eksplisit bagaimana dia berhasil ‘memengaruhi’ AS melalui 1.000 jam waktu siaran di jaringan televisi negara tersebut.

“Dalam bahasa Inggris, dia memuji kepemimpinan POTUS (Presiden Amerika Serikat/Presiden Amerika Serikat. Serpent (ular),” imbuh dia.

Secara harfiah ular sebetulnya berarti ular berbisa atau ular besar. Namun, dalam tradisi agama dan sastra masa lalu, kata ular sering digunakan untuk menggambarkan iblis, dan melambangkan sifat licik serta penuh godaan.

Pernyataan Araghchi muncul di tengah perang AS dan Iran yang masih berkecamuk. Pemerintahan Donald Trump dan sekutunya Israel menggempur habis-habisan Iran pada akhir Februari lalu.

Imbas operasi itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya terbunuh. Pejabat top pertahanan juga ikut terbunuh dalam gempuran tersebut.

Setelah Khamenei terbunuh, estafet kepemimpinan berlanjut ke anaknya Mojtaba Khamenei. Dia terpilih menjadi pemimpin tertinggi usai melalui mekanisme sesuai konstitusi Iran.

AS dan Iran sebetulnya sempat gencatan senjata pada bulan April dan meneken nota kesepahaman (MoU) pada bulan Juni untuk mengakhiri perang. Namun, di tengah kesepakatan-kesepakatan ini, Washington berulang kali mengancam Teheran. Beberapa ancaman cuma bualan, tapi banyak pula yang benar-benar jadi serangan.

Pasukan AS bahkan menggempur infrastruktur sipil seperti jembatan, sebuah tindakan yang masuk dalam kejahatan perang.

Saat ini, mediator konflik AS-Iran, Pakistan, berusaha menarik kedua negara itu ke meja perundingan guna menghentikan perang secara permanen. Namun, sejauh ini belum ada negosiasi baru.(Muh/*)