FIFA Tegas Bantah Isu Match Fixing di Piala Dunia 2026, Hasil Investigasi Diungkap

Pemain Argentina Alexis Mac Allister berebut bola dengan pemain Mesir Mohamed selama pertandingan sepak bola babak 16 besar Piala Dunia antara Argentina dan Mesir di Atlanta, Selasa, 7 Juli 2026. FOTO/AP

Kabarnanggroe.com, Jakarta – Piala Dunia 2026 telah resmi berakhir setelah menghadirkan total 104 pertandingan pada edisi perdana yang diikuti 48 tim.

Spanyol keluar sebagai juara untuk kedua kalinya usai mengalahkan Argentina pada partai final di Stadion MetLife, Senin (20/7/2026) kemarin.

Satu di antaranya datang dari Federasi Sepak Bola Mesir (EFA), yang meminta FIFA mencoret wasit beserta seluruh perangkat pertandingan yang memimpin laga kekalahan 2-3 Mesir dari Argentina di fase 16 besar.

EFA menilai telah terjadi sejumlah kesalahan dalam pertandingan tersebut dan mendesak FIFA mengambil tindakan terhadap perangkat pertandingan yang bertugas.

Pelatih Timnas Mesir, Hossam Hassan, juga sempat menjadi sorotan setelah melakukan gestur berbentuk huruf “X” di tepi lapangan. Ia kemudian menuding FIFA memihak Lionel Messi.

“Mereka ingin Messi tetap bertahan di turnamen,” ujar Hassan.

Dugaan Match Fixing

Tuduhan tersebut langsung mendapat tanggapan dari Kepala Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina.

Ia mengecam tudingan yang disebutnya tidak berdasar serta mempertanyakan integritas para ofisial pertandingan.

Isu mengenai dugaan pengaturan pertandingan kembali mencuat setelah akun Instagram Cristiano Ronaldo memberikan tanda suka pada unggahan yang menuduh FIFA melakukan korupsi.

Di tengah munculnya berbagai spekulasi tersebut, FIFA merilis pernyataan resmi mengenai hasil pemantauan integritas selama Piala Dunia 2026.

Sportbible melaporkan, FIFA menyatakan Satuan Tugas Integritas FIFA (FIFA Integrity Task Force), yang melibatkan berbagai organisasi dan pakar, tidak menemukan pola taruhan mencurigakan maupun indikasi manipulasi pertandingan sepanjang turnamen.

Tim tersebut terdiri atas perwakilan badan-badan sepak bola, FBI, INTERPOL, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), Council of Europe, International Betting Integrity Association (IBIA), serta sejumlah pihak lainnya.

Selama turnamen berlangsung, para ahli memantau pasar taruhan dan jalannya pertandingan secara real time.

Hasil Analisis

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, tidak ditemukan insiden yang mengarah pada dugaan pengaturan pertandingan.

“Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dan dianalisis sepanjang kompetisi, Satuan Tugas tidak mengidentifikasi adanya aktivitas taruhan yang mencurigakan maupun indikasi manipulasi pertandingan pada pertandingan mana pun,” tulis FIFA dalam pernyataan resminya.

FIFA juga menjelaskan seluruh laporan pemantauan taruhan beserta data lain yang diterima dari anggota Satuan Tugas dihimpun secara terpusat, kemudian dianalisis dan dibagikan kepada seluruh anggota sesuai prosedur operasional yang berlaku.

Manajer Senior Integritas FIFA, Liam Rich, menyebut kerja sama tersebut memberikan kerangka yang kuat dalam berbagi informasi dan mengevaluasi potensi persoalan integritas.

Model serupa disebut akan kembali diterapkan pada turnamen-turnamen FIFA berikutnya, termasuk Piala Dunia Wanita tahun depan.

Investigasi Masih Berlangsung

Kendati tidak menemukan indikasi manipulasi pertandingan, FIFA masih menjalankan dua penyelidikan yang melibatkan Timnas Argentina setelah berakhirnya Piala Dunia 2026.

Penyelidikan pertama berkaitan dengan spanduk yang dibentangkan sejumlah pemain Argentina seusai kemenangan atas Inggris pada semifinal. Spanduk tersebut memuat tulisan “Las Malvinas son Argentinas” atau “Kepulauan Falkland adalah milik Argentina.”

Selain itu, FIFA menyelidiki insiden yang terjadi setelah final Piala Dunia 2026 melawan Spanyol.

Komite Disiplin FIFA telah menunjuk seorang penyelidik disiplin dan etik untuk menganalisis insiden tersebut.

Hasil penyelidikan akan menentukan apakah Argentina melanggar Pasal 13 Kode Disiplin FIFA, yang mengatur tentang pelanggaran terhadap aturan dasar perilaku yang pantas serta tindakan yang dapat mencemarkan nama baik sepak bola maupun FIFA.

Apabila dinyatakan bersalah, sanksi yang dapat dijatuhkan mencakup denda hingga larangan bertanding, bergantung pada hasil akhir proses disiplin.(Muh/*)