Kabarnanggroe.com — Menurut saya kecanduan smartphone merupakan masalah yang semakin sering ditemukan pada remaja dan mahasiswa. Smartphone memang memberikan banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari, seperti membantu komunikasi, mencari informasi, dan mendukung kegiatan belajar. Akan tetapi, penggunaan yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan mental dan kehidupan sosial seseorang.
Saya melihat bahwa seseorang yang mengalami kecanduan smartphone biasanya sulit mengurangi waktu penggunaannya meskipun sudah menyadari dampak yang muncul. Mereka cenderung terus memeriksa notifikasi, media sosial, atau aplikasi lainnya secara berulang. Saat tidak memegang smartphone, sebagian orang merasa gelisah, tidak nyaman, bahkan sulit berkonsentrasi pada aktivitas yang sedang dilakukan.
Pendapat ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh (Kwon et al., 2013) yang mengembangkan Smartphone Addiction Scale (SAS). Penelitian tersebut menjelaskan bahwa kecanduan smartphone ditandai oleh gangguan dalam kehidupan sehari-hari, kesulitan mengendalikan penggunaan smartphone, serta munculnya perasaan tidak nyaman ketika tidak dapat mengakses smartphone. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan smartphone yang berlebihan dapat mengarah pada perilaku adiktif.
Menurut saya dampak yang paling sering terlihat pada mahasiswa adalah menurunnya konsentrasi saat belajar. Banyak mahasiswa yang lebih fokus membuka media sosial dibandingkan memperhatikan materi kuliah atau mengerjakan tugas. Akibatnya tugas sering tertunda dan pekerjaan akademik menjadi kurang maksimal. Kondisi ini sejalan dengan penelitian (Samaha & Hawi, 2016) yang menemukan bahwa kecanduan smartphone berhubungan dengan tingkat stres yang lebih tinggi dan prestasi akademik yang lebih rendah pada mahasiswa.
Kecanduan smartphone juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Penggunaan smartphone yang berlebihan sering membuat seseorang sulit mengatur waktu istirahat sehingga kualitas tidur menurun. Ketika waktu tidur berkurang, tubuh menjadi mudah lelah dan suasana hati juga dapat terganggu. Penelitian (Demirci et al., 2015) menunjukkan bahwa penggunaan smartphone yang berlebihan berkaitan dengan kualitas tidur yang buruk, tingkat kecemasan yang lebih tinggi, dan gejala depresi.
Hubungan sosial juga dapat terdampak. Banyak orang yang lebih sibuk berinteraksi melalui media sosial daripada berbicara secara langsung dengan orang di sekitarnya. Menurut saya, hal ini dapat mengurangi kualitas hubungan dengan keluarga maupun teman. Seseorang juga dapat merasa tidak percaya diri karena sering membandingkan kehidupannya dengan apa yang dilihat di media sosial.
Dalam perspektif psikologi klinis, kecanduan smartphone perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan individu. Bantuan psikologis seperti konseling dapat membantu seseorang memahami penyebab perilaku tersebut dan belajar mengontrol penggunaan smartphone dengan lebih baik. Dukungan dari keluarga dan lingkungan juga penting agar perubahan perilaku dapat berjalan secara optimal.
Saya berpendapat bahwa kecanduan smartphone bukan sekadar kebiasaan bermain ponsel terlalu lama, tetapi dapat menjadi masalah psikologis yang memengaruhi kesehatan mental, prestasi akademik, dan hubungan sosial seseorang. Oleh karena itu, penggunaan smartphone perlu dilakukan secara bijak agar manfaat teknologi tetap dapat dirasakan tanpa menimbulkan ketergantungan.






