Kabarnanggroe.com, Banda Aceh – Lintas agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh bahu-membahu membantu korban banjir bandang dan tanah longsor 26 November 2025 lalu di Provinsi Aceh.
Hal itu terungkap dalam kegiatan Coffee Morning Refleksi Akhir Tahun bertemakan “Harmoni Umat Beragama di Tengah Bencana” di aula Badan Kesbangpol Aceh, pada Rabu (31/12/2025) pagi.
Diskusi dalam acara Coffee Morning dibuka oleh Plt Kaban Kesbangpol Aceh Iqbal Tawakkal M.Eng dan dipandu oleh budayawan Aceh, Tarmizi A Hamid.
Iqbal dalam paparannya menyatakan bencana banjir bandang dan longsor telah menyebabkan kerusakan parah, seperti tsunami.
Dikatakan tim relawan dari ASN SKPA dikerahkan untuk melakukan gotong-royong massal di Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Ditambahkan, berbagai jenis bantuan juga telah disalurkan kepada korban banjir.
Iqbal menjelaskan target awal pemerintahan desa dapat kembali berjalan bersama kantor camat dan Puskesmas. Disebutkan lumpur di kantor camat 50 cm dan Puskesmas 30 cm di Aceh Tamiang.
Iqbal mengungkapkan permukaan lumpur keras, tetapi ketika diinjak keluar air saat akan dipindahkan ke tempat lain. Diungkapkan untuk obat-obatan yang rusak harus dibersihkan dengan sarung tangan dan kertas di kantor camat atau kantor desa sudah jadi bubur.
Berbagai hal lainnya juga dijelaskan, terutama penyusunan data korban banjir bandang dan tanah longsor untuk menuju rehabilitasi dan rekonstruksi.
Sedangkan Kanwil Kemenag Aceh, Zulfahmi menjelaskan tentang kearifan lokal dan Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB).
Dikatakan terdapat ukuran kondisi kehidupan umat beragama yang harmonis, berdasarkan tiga indikator utama yakni toleransi, kesetaraan, dan kerjasama.
Dia menambahkan ada juga indeks kesalihan generasi gen-Z seluruh agama, termasuk indeks literisasi kitab suci masing-masing agama.
Kemudian indeks toleransi, kebersamaan dan kesetaraan. Disebutkan, persentase dari masing-masing indeks sudah baik, mulai dari 60 persen sampai 80 persen.
Selanjutnya tentang penanganan rumah ibadah yang rusak diterjang banjir dan longsor. Dikatakan, untuk ibadah di kawasan bencana masih dilakukan sendiri-sendiri.
Sedangkan Ketua FKUB Aceh H A Hamid Zein menyatakan kondisi kehidupan umat beragama di Aceh tetap rukun, termasuk dalam membantu korban banjir.
Dia mencontohkan pendeta dari Manado menyerahkan langsung bantuan kepada korban banjir di Aceh Tamiang. Ditambahkan, kelompok agama Kristen juga telah menyerahkan bantuan melalui Wali Nanggroe Aceh.
Dia juga mengulas 10 program yang telah dilaksanakan sepanjang tahun 2025, diantaranya penguatan kelembagaan FKUB di masing-masing kabupaten, toleransi beragama dan berbagai hal lainnya tentang kerukunan beragama.
Sementara itu, Yuswar dari Vihara Dharma Bakti menyatakan telah menyalurkan bantuan untuk korban banjir. Disebutkan pada hari ketiga sudah dibuka posko di Vihara dan hari kempat disalurkan ke korban banjir di Pidie Jaya.
Bantuan puluhan truk itu berisi pakaian, sembako, air bersih dan kebutuhan dasar lainnya. Kemudian ada juga bantuan untuk daerah terisolir berupa kompor gas dua mata, kuali, wajan dan genset untuk posko gampong.
Untuk wilayah Aceh Tamiang, katanya, bantuan disalurkan melalui Posko di Medan. Bahkan untuk wilayah dataran tinggi Gayo yakni Bener Meriah dan Aceh Tengah dikirim 1 ton bantuan via pesawat kecil Cessna.
Yuswar menambahkan bantuan juga disalurkan melalui dana yang dikirim ke posko untuk membeli sembako di wilayah itu dan membagikan kepada korban bencana.
Disebutkan, bantuan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Dia mencontohkan untuk membersihkan rumah terendam lumpur, pihaknya sudah meminta posko di Medan untuk mengerahkan alat berat.
Selain itu, Pendeta Joel Rampengan dari Gereja GPIB, dan Anselmus Panggal dari Gereja Katolik Hati Kudus menyatakan mereka merasa sangat aman dan nyaman tinggal di Aceh.
“17 Tahun saya di Aceh, mengurus Gereja Hati Kudus, tak pernah ada perlakuan diskriminatif,” ujar Anselmus.
Disebutkan, umat lintas agama ikut berpartisipasi dalam membantu korban bencana di daerah-daerah terdampak, seperti pengiriman bahan makanan, obat-obatan dan lain-lainnya.(Muh)






