kabarnanggroe.com – Lagu-lagu Aceh dengan lirik dalam Bahasa Aceh kaya akan makna untuk menunjukkan kekayaan budaya dan tradisi daerah ini tak pernah habis-habisnya. Pesan menjaga tradisi leluhur dalam bingkai nilai-nilai Islam terus hidup di tengah-tengah gempuran lagu nasional dan internasional.
Lagu daerah Aceh yang terkenal antara lain “Bungong Jeumpa” (bunga cempaka, melambangkan keindahan Aceh), “Aceh Lon Sayang” (ungkapan cinta pada tanah kelahiran), “Saleum” (salam, tentang kehidupan sosial dan syiar Islam), “Do Do Daidi” (lagu ibu menidurkan anak dengan nasihat), dan “Jambo” (suasana pedesaan dan pertanian).
Lagu-lagu ini mencerminkan budaya, alam, dan nilai religius masyarakat Aceh dan lagu kebudayaan ini tetap nyaman dan enak untuk didengar, sekaligus memahami filosofi dari pesan yang disampaikan.
Lagu paling populer, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, termasuk remaja yakni Bungong Jeumpa yang kaya akan makna serta keindahan liriknya. Lagu ini menggambarkan ciri khas kearifan lokal masyarakat Aceh yang patut dilestarikan.
“Lagu “Bungong Jeumpa” berkisah tentang bungong jeumpa yang sangat indah dan memesona di mata setiap orang dan lirik lagu ini mengandung pesan tentang kecantikan dan makna kehidupan yang mendalam. Setiap kata sarat dengan filosofi dan kearifan lokal, seperti dikutip dari budayawan lokal Aceh, Cek Medya Hu.
Melalui lirik yang lugas, lagu “Bungong Jeumpa” juga memperkenalkan kekayaan alam Aceh serta kehidupan masyarakatnya yang penuh dengan kebaikan. Pesan moral yang disampaikan dalam lagu ini sangat menginspirasi dan membangun semangat persaudaraan di antara pendengarnya.
Bungong Jeumpa, yang merupakan simbol dari keindahan alam, dijadikan metafora untuk menggambarkan betapa indahnya ciptaan Tuhan. Lagu ini juga mengajarkan untuk menghargai keindahan alam serta memelihara lingkungan demi keberlangsungan hidup bersama.
Dengan lirik yang sederhana namun penuh makna, lagu “Bungong Jeumpa” berhasil menyampaikan pesan yang mendalam tentang cinta alam dan nilai-nilai kearifan lokal Aceh. Hal ini menjadikan lagu ini sebagai warisan budaya yang patut dijaga dan dilestarikan untuk generasi selanjutnya.
Lagu ini memiliki arti penting dalam budaya Aceh yang menggambarkan semangat dan keindahan Tanah Aceh dan menjadi simbol bunga khas di Kesultanan Aceh Berikut lirik lagu “Bungong Jeumpa” dan terjemahannya:
Bungong jeumpa, bungong jeumpa meugah di Acèh
Bungong teuleubèh, teuleubèh indah lagoë na
Putéh kunèng meujampu mirah
Keumang siulah cidah that rupa
Lam sina buleuën, lam sina buleuën angèn peuayôn
Rurôh meususôn, meususôn, nyang mala-mala
Mangat that mubèë meunyo tatém côm
Leupah that harôm si bungong jeumpa
Terjemahannya:
Bunga cempaka, bunga cempaka terkenal di Aceh
Bunga indah sekali
Putih kuning bercampuuur merah
Mekar sekuntum indah rupawan
Dalam sinar bulan, dalam sinar bulan angin ayunkan
Gugur bersusun, bersusun, yang sudah layu
Harum baunya kalau dicium
Alangkah harum si bunga cempaka
Dari Dataran Tinggi Gayo ada lagu Tawar Sedenge ang diciptakan oleh seniman Gayo bernama A.R. Moese pada tahun 1957 dan memiliki makna yang mendalam. “Tawar Sedenge” dalam bahasa Gayo berarti penawar dunia.
Lagu ini berfungsi sebagai seruan dan penyemangat bagi masyarakat Gayo untuk bangkit, mengelola, dan mensyukuri kekayaan alam daerah mereka Simbol identitas budaya yang menggambarkan adat istiadat dan kekayaan alam Tanah Gayo, seperti kopi, tembakau, dan keindahan alamnya.
Lagu wajib yang sering dinyanyikan dalam upacara adat, acara penting, dan peringatan hari-hari besar di daerah Gayo.
Sedangkan lagu Aceh Lon Sayang sering kali dianggap sebagai semacam “lagu kebangsaan” tidak resmi bagi masyarakat Aceh karena liriknya yang penuh makna tentang cinta tanah kelahiran, keindahan alam, dan budaya Serambi Mekkah.

Karena sifatnya yang merupakan lagu tradisional yang sangat umum, tidak ada satu “pencipta” tunggal yang diketahui secara pasti untuk lagu ini, melainkan merupakan bagian dari warisan budaya lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Untuk lagu Sepakat Segenap menggambarkan semangat dan keindahan Tanah Aceh serta pentingnya persatuan (sepakat segenap) di kalangan masyarakat Aceh.
Sementara, lagu Aneuk Yatim, sebuah karya musik Aceh yang sangat menyentuh, diciptakan oleh Rafly Kande pada tahun 1999. Lagu ini menjadi populer baik secara lokal maupun nasional, terutama setelah bencana tsunami Aceh tahun 2004.
“Aneuk Yatim” memiliki pesan dan makna mendalam tentang perdamaian, kesabaran, dan ketabahan dalam menghadapi cobaan hidup. Awalnya diciptakan sebagai respons terhadap gejolak politik dan konflik di Aceh, lagu ini merepresentasikan kondisi sosial dan kehidupan anak-anak di Aceh yang kehilangan orang tua akibat konflik tersebut.
Setelah tsunami, maknanya meluas menjadi lagu untuk mengenang para korban dan menyuarakan harapan agar musibah tidak terulang lagi, serta mendoakan agar Aceh tetap aman dan kuat dalam beragama.
Selain itu, lagu “Lembah Alas” berasal dari suku Alas di Kabupaten Aceh Tenggara yang menggambarkan keindahan alam dan kekayaan budaya dari daerah tersebut.
Masih banyak lagi lagu daerah Aceh yang populer di daerah masing-masing dengan tetap menjaga nilai-nilai religius atas luasnya kebudayaan Aceh sebagai salah satu warisan kebudayaan Nusantara.(Adv)






