Kabarannggroe.com, Kota Jantho – Sungguh miris. Begitulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tgk Chik Eumpe Awee Gampong Atong, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar yang saat ini rusak parah.
Gedung sekolah yang dibangun pada 2017, sampai sekarang belum pernah diperbaiki. Sebagian besar kondisinya terlihat sudah laput dan tidak terawat. Bagian plafon dan sebagian dinding bangunan mulai terkelupas. Selain itu, bagian atapnya juga banyak yang bolong dan kusen tanpa jendela.
Seorang guru bakti SDN Tgk Chiek Eumpe Awee, Khairani S.Pd menyebutkan, Kondisi ini jelas sangat membahayakan bagi para siswa maupun guru dan bahkan bisa mengancam nyawa mereka. Pasalnya, atap plafon bisa saja tiba-tiba runtuh.
“Kondisi seperti ini, sudah sejak tiga tahun lalu dan pihak sekolah pernah mengajukan perbaikan. Tapi, sampai saat ini, belum mendapat tanggapan ataupun respons dari Pemkab Aceh Besar,” kata Khairani kepada pewarta posaceh.com, Aceh Besar, Senin (22/07/2024).
Lebih lanjut, bukan hanya atap dan platfon saja yang rusak, pintu gerbang sekolah pun tidak ada, sehingga banyak bintang ternak yang masuk halaman sekolah.
“Coba lihat, pintu gerbangnya kami buat sendiri dari kayu bekas dan diikat pakai tali, yang penting ada,” paparnya.
Ia menceritakan, awal mula terjadi proses belajar mengajar di SDN Tgk Chiek Eumpe Awee pada 2017. Semuanya dimulai dari nol dengan sistem mendatangi ke setiap rumah masyarakat untuk memberitahukan dan mengajak mereka supaya mau mengatarkan anaknya kesekolah.
“Alhamdulillah, berkat dukungan dari masyarakat, proses belajar mengajar berjalan seperti yang diharapkan, walaupun dulu hanya rawa-rawa, tapi Kami melakukannya dengan ikhlas. Kenapa iklas, mengingat anak-anak disini bila mau sekolah ketempat lain sangat jauh,” pintanya.

Ia meminta, kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk memperhatikan SDN Tgk Chiek Eumpe. Pihaknya siap menampung, apabila ada bantuan baik dari Kementerian maupun Pemerintah Kabupaten Aceh Besar.
“Bukan itu saja, setidaknya kami guru honor di sini diperhatikan oleh pemerintah, karena perjuangan kami di sini sangat melelahkan dan beda dengan yang lain,” tutur Khairani.
Ia menambahkan, pada 2021, pihaknya pernah mempertanyakan mengenai status atau nasib mereka kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Besar waktu itu.
“Jadi, pak Kadis menjawab, sekarang untuk tenaga kontrak sudah tidak ada lagi, paling mereka harus ikut P3K. Tapi, tiba-tiba di sini sudah ada lagi anak kontrak baru, siapa yang tidak sedih, dulu dibilang tidak ada, namun kenyataannya anak kontrak tetap ada, kami mohon kepeduliannya pihak terkait,” pungkas Khairani. (Dj).






